Friday, October 29, 2010

Antara Nabi Khidir, Nabi Musa dan Manajemen Pendidikan

Pada saat ini manajemen sumber daya manusia mendapat perhatian yang besar dari setiap organisasi, baik organisasi besar ataupun kecil, organisasi publik atau swasta, organisasi sosial atau bisnis, semuanya berusaha membenahi diri melalui manajemen sumber daya manusia. SDM dilihat sebagai asset yang harus dikelola sesuai kebutuhan perubahan lingkungan.[1] Berbagai seminar, pelatihan, kursus-kursus dan lokakarya diselenggarakan dalam rangka meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Hal itu disebabkan begitu pentingnya peran sumber daya manusia dalam menentukan keberhasilan suatu organisasi. Manajemen sumber daya manusia juga menjadi penting dalam rangka mempertahankan eksistensi suatu organisasi dalam menjawab tantangan-tantangan zaman.[2]
Berbicara mengenai kualitas sumber daya manusia, pendidikan memegang peran yang sangat penting dalam proses peningkatan kualitas sumber daya manusia. Menyadari pentingnya hal tersebut, maka pemerintah bersama kalangan swasta sama-sama telah dan terus berupaya mewujudkan amanat tersebut melalui berbagai usaha pembangunan pendidikan yang lebih berkualitas antara lain melalui layanan pendidikan bermutu dan berkualitas pengembangan dan perbaikan kurikulum dan sistem evaluasi, perbaikan sarana pendidikan, pengembangan dan pengadaan materi ajar, serta pelatihan bagi guru dan tenaga kependidikan lainnya. Tetapi pada kenyataannya upaya pemerintah tersebut belum cukup berarti dalam meningkatkan kuailtas pendidikan. Salah satu indikator kekurangberhasilan ini ditunjukkan antara lain dengan NEM siswa untuk berbagai bidang studi pada jenjang SLTP dan SLTA yang tidak memperlihatkan kenaikan yang berarti bahkan boleh dikatakan konstan dari tahun ke tahun, kecuali pada beberapa sekolah dengan jumlah yang relatif sangat kecil.
Manajemen pendidikan untuk saat ini merupakan hal yang harus diprioritaskan untuk kelangsungan pendidikan sehingga menghasilkan keluaran yang diinginkan. Kenyataan yang ada, sekarang ini banyak institusi pendidikan, terutama institusi pendidikan Islam seperti madrasah dan pondok pesantren, yang belum memiliki Good Management Practice (Praktek Manajemen yang Baik) dalam pengelolaan pendidikannya. Banyak penyelenggara pendidikan Islam yang beranggapan bahwa manajemen pendidikan bukanlah suatu hal yang penting, karena kesalahan persepsi yang menganggap bahwa domain manajemen adalah bisnis.
Sekalipun beberapa lembaga pendidikan Islam sudah menerapkan praktek manajemen, namun manajemen yang digunakan masih konvensional, sehingga kurang bisa menjawab tantangan zaman dan sehingga mempunyai kesan tertinggal dari modernitas. Hal ini mengakibatkan sasaran-sasaran ideal pendidikan yang seharusnya bisa dipenuhi ternyata tidak bisa diwujudkan. Parahnya terkadang para pengelola lembaga tersebut tidak menyadari akan hal itu.
Arah manajemen pendidikan adalah usaha mewujudkan peserta didik menjadi lulusan yang mempunyai kualitas, cerdas, inovatif, akhlak/moral serta mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman. Tujuan tersebut tentunya akan dapat dicapai dengan pelaksanaan sistem manajemen yang baik pada lembaga-lembaga pendidikan. Dalam kondisi krisis moral bangsa saat ini, lembaga pendidikan Islam berperan membentuk dan mengembangkan nilai-nilai moral sekaligus menjadi pelopor dan inspirator pembangkit reformasi gerakan moral bangsa. Dengan begitu pembangunan tidak menjadi hampa dan kering dari nilai-nilai kemanusiaan dan keagamaan.
Manajemen merupakan salah satu bidang ilmu pengetahuan yang telah berkembang dan diterapkan dalam berbagai organisasi, baik pemerintah, peruahaan, sosial, maupun pendidikan di dunia Barat. Dengan penerapan ilmu manajemen tersebut, maka dunia Barat dapat mencapai tujuan-tujuannya secara efektif dan efisien serta menghasilkan produktivitas yang tinggi. Padahal—tanpa bermaksud berapologi—melalui Al-Qur’an, Islam telah meletakkan dasar-dasar manajemen, dari mulai kehidupan personal, sosial samapai pada memanaj kehidupan secara lebih luas. Tapi, karena umat Islam dewasa ini kurang atau tidak lagi mau menggali kandungan Al-Qur’an sebagaimana pada zaman Islam klasik, maka pada saat ini ilmu pengetahuan, peradaban, termasuk ahli-ahli manajemen lebih banyak lahir di dunia Barat.
Al-Qur’an merupakan petunjuk dan pedoman hidup umat Islam. Dalam penyampaian petunjuk, Al-Qur’an menerapkannya melalui metode penyampaian kisah-kisah atau sejarah-sejarah masa lampau. Hal ini kemudian ditiru dalam kesusastraan kisah dewasa ini, dimana banyak kejadian perilaku, ucapan, bahkan gaya hidup seseorang akan terpengaruh setelah ia membaca sebuah buku cerita atau novel dan menonton sinetron, telenovela atau film di layar televisi.
Salah satu kisah yang menarik di dalam Al-Qur’an adalah kisah pertemuan antara Nabi Musa as. dan Nabi Khidir as. yang diceritakan di dalam surat Al-Kahfi ayat 60-82. Kisah tersebut merupakan contoh proses transfer knowledge. Suismantoto menerangkan bahwa kisah Nabi Musa dan Nabi Khidir adalah salah satu kisah mendidik yang di dalamnya terdapat suatu interaksi yang mengandung unsur-unsur pendidikan, seperti (1) bahan (materi) yang menjadi isi proses; (2) kejelasan tujuan yang akan dicapai; (3) pelajar (anak didik) yang aktif mengalami; (4) guru (pendidik) yang melaksanakan; (5) metode tertentu untuk mencapai tujuan; (6) proses interaksi tersebut berlangsung dalam ikatan situasional; dan (7) alat pendidikan.[3]
Kisah Nabi Musa dan Nabi Khidir ini telah menjadi inspirasi bagi sebagian umat Muslim. Seperti pendidikan bahasa yang diterapkan di Pesantren Nurur Riyadhoh di daerah Probolinggo Jawa Timur. Dimana para santri bisa menguasai berbagai macam jenis bahasa di dunia dengan melakukan ritual tirakat di tepi laut dan pada tahap akhir ritual tersebut ia akan ditemui oleh Nabi Khidir yang akan mengajarkan ilmu sesuai yang diminta dalam ritual tersebut.[4] Hal serupa juga terdapat di lingkungan Buntet Pesantren Cirebon Jawa Barat. Bagi mereka yang ingin mempunyai ilmu Laduni seperti yang dimiliki Nabi Khidir, maka mereka dituntut melakukan ritual-ritual seperti puasa mutih, puasa ngalong, puasa pati geni, atau puasa 40 hari disertai membaca wirid-wirid tertentu.[5] Peristiwa lain yang pernah terjadi di Jawa Barat sebagaimana diberitakan dalam harian Kompas adalah para pemimpin adat dari Ciamis, Tasik, Subang, Bandung, Cimahi dan Kuningan berkumpul dalam acara Ciburuy Festival 2007 yang diantara acaranya terdapat semacam ritual untuk memanggil Nabi Khidir yang diharapkan dapat memulihkan kondisi situ yang semakin memprihatinkan dan terutama karena meluapnya Sungai Citarum yang kotor.[6]
Kejadian-kejadian di atas merupakan sebagian kecil realitas kepercayaan yang dianut masyarakat Muslim akibat kisah dalam ayat 60-82 surat Al-Kahfi, khususnya di daerah Jawa Barat dan umumnya di Indonesia bahkan hampir setiap negara yang terdapat penduduk Muslim. Kepercayaan seperti ini yang banyak dianut oleh kaum sufi lebih dekat kepada bid’ah dan khurafat serta termasuk pengkultusan kepada Nabi Khidir.
Selayaknya, metode Allah dalam memberikan pelajaran kepada Nabi Musa patut dijadikan contoh untuk kemudian diterapkan dalam dunia pendidikan. Begitu pula metode Nabi Khidir yang unik dalam proses transfer knowledge kepada Nabi Musa. Jika ditelisik lebih jauh, kegagalan Nabi Musa serta keberhasilan Allah dan Nabi Khidir dalam mendidiknya tidak terlepas dari kesempurnaan juga ketepatan manajemen yang digunakan. Manajemen Allah adalah manajemen yang paling sempurna dan Nabi Khidir pun menggunakannya atas dasar wahyu yang Allah berikan, sehingga menghasilkan output yang berkualitas, yaitu Nabi Musa.


[1] Randall S. Schuler dan Susan Jackson, Human Resources Management; Positioning for the 21st Century, (New York: Wets Publishing Company, 1996), p. 3.
[2] Faustino Cardoso Gomes, Manajemen Sumber Daya Manusia, (Yogyakarta: Penerbit Andi Yogyakarta,  2003), h. 7.
[3] Suismantoto, Pendidikan Akhlak dalam Al-Qur’an (Telaah atas Kisah Nabi Musa dan Nabi Khidir as.) dalam Jurnal Kependidikan Islam Vol. 01 No. 02.
[4] Miftahul Khaer, Keberadaan Khidir as. Sebuah Misteri: Kajian Riwayat-Riwayat Khidir as. dalam Hadis, Skripsi Jurusan Tafsir Hadis Fakultas Ushuluddin dan Filsafat, (Jakarta: Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, 2007), h. 20-21.
[5] Ibid., h. 1-2. Mengenai jenis-jenis ritual yang biasa dilakuan untuk mendapatkan ilmu Laduni dapat dilihat pada Siapakah Nabi Khidir itu Sebenarnya? Dalam Majalah Ghoib, Edisi 76 Tahun 4 (7 Muharam 1428 H/26 Januari 2007 M), h. 9.
[6] Nabi Khidir dalam Pencarian Warga Ciburuy, (Harian Kompas, 5 Desember 2007). Berita ini juga dapat diakses di http://www.kompas.com/kompas-cetak/0705/12/Jabar/21877.htm.
Read more ...

Tuesday, October 26, 2010

Keagungan Hamdallah


Hamdalah merupakan penggalan kata yang selalu kita ucapkan setiap kali kita selesai melakukan sesuatu yang secara lengkap kita membacanya dengan ucapan “Al-hamdulillah” (segala puji hanya milik Allah) atau “Al-hamdulillah rabbil ‘alamin” (segala puji hanya milik Allah Tuhan semesta alam). Kata alhamd itu sendiri terdiri dari kata “al” dan “hamd”, yang seringkali diterjemahkan dengan pujian. Yaitu pujian yang ditujukan kepada Allah. Sebuah ungkapan pujian yang hanya diserahkan dan disampaikan kepada Allah SWT.

“Alhamd” (puji) baik secara aktual maupun verbal adalah bentuk dari manifestasi keparipurnaan dan suksesnya suatu tujuan, dari segala yang ada. Sebab Hamdalah itu merupakan bentuk dari pujian pembuka, sekaligus merupakan pujian indah bagi yang berhak mendapatkannya.

Seluruh makhluk di muka bumi ini secara keseluruhan juga memuji Allah SWT bertasbih dan bertahmid. Seluruh keparipumaan muncul dari potensi-potensi menjadi aktual, dan semuanya senantiasa menyucikan dan memuji-Nya. Sebagaimana dalam firman Allah swt:
Tak satu pun dari segala yang ada kecuali selalu bertasbih dan memuji-Nya”.

Jagad raya senantiasa memiliki kesadaran darimana awal mulanya, bagaimana penjagaan atas kelestariannya dan pengaturannya, sebagai cermin konotatif dari arti hakiki Rububiyah bagi semesta alam. Yakni bagi segala sesuatu yang terkandung dalam Ilmu Allah. Seperti sebuah tanda bagi yang ditandai. Juga mengandung makna globalitas keselamatan yang penuh karena mengandung arti Ilmu dan sekaligus mengandung makna mengalahkan. Yang terkandung itu juga berarti kebajikan-kebajikan yang umum maupun khusus. Yaitu nikmat lahiriyah maupun nikmat batiniyah. Nikmat lahiriyah seperti kesehatan dan rizki, sedangkan nikmat batiniyah seperti pengetahuan dan ma’rifat.

Maka pujian dengan segala substansinya itu mutlak hanya bagi Allah Ta’ ala, secara azali maupun abadi menurut proporsi hak hamba melalui Dzat-Nya.

Kata al-hamdulillah memiliki dua sisi makna. Pertama, berupa pujian kepada Tuhan dalam bentuk ucapan. Kedua, pujian dalam bentuk perbuatan yang biasa kita sebut dengan syukur. Kedua sisi ini tergabung dalam ucapan al-hamdulillah.

Pujian kepada Allah dalam bentuk ucapan merupakan anjuran agama setiap kali merasakan anugerah. Itu sebabnya Rasulullah saw. Selalu mengucapkan al-hamdulillah pada setiap kondisi dan situasi. Ketika berpakaian, sesudah makan, ketika akan tidur dan setiap bangun tidur, dan seterusnya dari perbuatan Rasulullah saw yang mengajarkan kita untuk selalu mengucapkan al-hamdulillah dalam setiap kondisi dan situasi.

Apabila seseorang sering mengucapkan al-hamdulillah, maka dari saat ke saat ia akan selalu merasa dalam curahan rahmat dan kasih sayang Allah. Dia akan merasa bahwa Allah tidak membiarkannya sendiri. Jika kesadaran ini telah berbekas dalam jiwanya, maka seandainya mendapatkan cobaan atau merasakan kepahitan dan ujian bahkan musibah sekalipun, maka dia pun akan mengucapkan al-hamdulillah atau segala puji bagi Allah, tiada yang dipuja dan dipuji walau cobaan menimpa, kecuali Dia semata. Begitu pun sekiranya ketetapan Allah yang mungkin oleh kacamata manusia dinilai kurang baik maka harus disadari bahwa penilaian tersebut adalah akibat keterbatasan manusia dalam menetapkan tolok ukur penilaiannya. Pasti ada sesuatu yang luput dari jangkauan pandangan manusia sehingga penilaiannya menjadi demikian. Walhasil “segala puji bagi Allah”. Kata segala ini diterjemahkan dari kata al pada al-hamdu yang oleh ahli bahasa dinamai al-lil istighraq (artikel yang memberi arti mencakup keseluruhan).

Kalimat semacam ini terlontar, karena ketika itu dia sadar bahwa seandainya apa yang dirasakan itu benar-benar merupakan malapetaka, namun limpahan karunia-Nya sudah demikian banyak, sehingga cobaan malapetaka itu tidak lagi berarti dibandingkan dengan besar dan banyaknya karunia selama ini.

Kalau kita ingin menelusuri ayat-ayat Allah, maka akan kita temukan ungkapan kata al-hamdulillah di dalam banyak ayat-ayat-Nya, sementara secara khusus, ada beberapa surat yang kata al-hamdu diletakkan di muka ayat; lima surat dalam Al-Quran yang dimulai dengan kata al-hamdu, seperti Al-Fatihah (jika kita sependapat dengan pendapat ulama yang bahwa basmalah bukan bagian dari surat al-fatihah) maka akan ditemukan makna Hamdalah yang begitu dalam menggambarkan akan anugerah Allah yang begitu luas yang dapat dinikmati oleh makhluk, khususnya manusia. Ungkapan ayatnya adalah Alhamdulillah lillah rabbil ‘alamin; pernyataan pujian yang hanya diserahkan kepada Allah yang Maha Esa dan Kuasa, karena telah begitu banyak memberikan anugerah kepada seluruh alam. Adapun pada ayat-ayat lain dapat ditemukan kata-kata alhamdu yang menjadi permulaan ayat pada empat surat lain; masing-masing menggambarkan kelompok nikmat Allah dan merupakan perincian dari kalimat al-hamdulillah pada surat al-fatihah.

Keempat surat yang dimaksud adalah :
1. Surat Al-An’am yang dimulai dengan pujian kepada Allah atas nikmat yang telah dianugerahkan oleh-Nya akan potensi yang terpendam di langit dan di bumi. Allah berfirman: “Segala puji bagi Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dan mengadakan gelap dan terang…”

2. Surat Al-Kahfi yang dimulai dengan pujian kepada Allah atas nikmat yang telah dianugerahkan berupa petunjuk bagi manusia, sebagai nikmat terbesar yaitu kehadiran Al-Quran yang tidak memiliki kebengkokan dan kesalahan; Allah berfirman: “Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan Al-Quran kepada hamba-Nya dan tidak membuat kebengkokan (kekurangan) di dalamnya”.

3. Surat Saba yang dimulai dengan kata Al-hamdu; pujian kepada Allah atas nikmat yang telah dianugerahkan yaitu berupa alam dunia dan alam akhirat sehingga manusia dapat menjadikannya sebagai keseimbangan; memperbanyak bekal di alam dunia dan memetiknya nanti di alam akhirat; Allah berfirman: “Segala puij bagi Allah yang memiliki apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi dan bagi-Nya pula pujian di akhirat. Dialah yang Maha bijaksana lagi Maha Mengetahui”.

4. Surat Fathir yang dimulai dengan kata Al-hamdu; pujian kepada Allah atas segala nikmatnya yang telah dianugerahkan berupa keabadian sejati nanti di alam akhirat; Allah berfirman: “Segala puji bagi Allah, pencipta langit dan bumi yang menjadikan malaikat-malaikat sebagai utusan-utusan yang mengurus berbagai macam urusan (di dunia dan di akhirat) yang mempunyai sayap -sayap masing-masing (ada yang) dua, tiga dan empat..”

Perbedaan kata hamd (pujian) dengan kata syukur, walaupun keduanya saling memperkaya makna namun pada hakikatnya mempunyai makna yang berbeda. Hamd disampaikan secara lisan kepada yang bersangkutan walaupun ia tidak memberi apapun baik kepada si pemuja maupun kepada yang lain dan biasanya yang dipuji memiliki syarat yang patut dipuji; indah (baik) diperbuat secara sadar dan tidak karena paksaan. Dengan demikian, maka segala perbuatan Allah terpuji dan segala yang terpuji merupakan perbuatan Allah juga, sehingga segala puji tertuju kepada Allah. Bahkan jika kita memuji seseorang karena kebaikan atau kecantikannya, maka pujian tersebut pada akhirnya harus dikembalikan kepada Allah SWT, sebab kecantikan dan itu bersumber dari Allah. Sedang syukur pada dasarnya digunakan untuk mengakui dengan tulus dan penuh penghormatan akan nikmat yang dianugerahkan oleh yang disyukuri itu, baik dengan kata-kata maupun dengan perbuatan.

Pada akhirnya kata alhamdu (pujian) merupakan ungkapan rasa syukur kepada Allah atas segala nikmat yang telah dianugerahkan dan selayaknya kata ini diucapkan ketika seseorang ingin melakukan sesuatu, karena sejatinya tidak ada perbuatan yang dilakukan, ucapan yang disuarakan, nafas yang dihembuskan, gerakan dan segala apapun yang diperbuat oleh bagian anggota tubuh manusia karena rahmat dan anugerah dari Allah. Dan kita pun dianjurkan untuk selalu mengucapkan syukur dan tahmid saat melihat orang lain mendapatkan rezki dan anugerah dari SWT. Sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah saw dalam do’anya :

“Ya Allah, tidak ada di pagi ini dari kenikmatan yang engkau anugerahkan kepada kami dan kepada siapa pun dari hamba-hambamu hanya dari Engkau belaka, tiada sekutu bagi-Mu dan segala puji dan syukur hanya milik-Mu” []


Read more ...

Tuesday, August 24, 2010

Daratan Paling Rendah di Dunia

 Sebuah Kitab yg mengaku dari ALLAH, harus berani dihadapkan dengan segala macam soalan, segala zaman, segala segi, segala sisi, dari sudut manapun & harus sepanjang zaman.

Dari segi Sastra, matematika, astronomi, sains, tata negara, muamalat, ekonomi, Kode-kode angka, jumlah surah, jumlah ayat, jumlah kalimat, jumlah huruf, segala ilmu, segala abad, sejak penciptaan alam semesta, masa lalu, masa kini, masa depan, sehingga masa kiamat & kehidupan setelah kiamat sekalipun
Dan zaman ini ialah zaman ilmu pengetahuan, apakah Qur'an dapat mengikuti perkembangan zaman???

Daratan manakah yg paling rendah di dunia ini?

"Telah dikalahkan bangsa Romawi, di negeri yang TERDEKAT dan mereka sesudah dikalahkan itu akan menang. " QS 30 Ar Ruum: 2-3

Kata "adna" bisa berarti yang terdekat atau terendah.
Kata "Ardhi" bermakna Bumi.

Jadi makna kata itu dapat diartikan pulak sebagai "BUMI TERENDAH".

Dalam Ayat ini, paling kurang ada 2 mukjizat:
1. Mukjizat ramalan yg terbukti
2. Mukjizat ilmiah yg baru dapat dibuktikan dengan ilmu geography abad 20

Mari kita paparkan sekejap.

1. Mukjizat Ramalan yg terbukti

Bangsa Romawi, pada tahun 620, dipimpin oleh Kaisar Heraclius. Romawi mengalami kekalahan perang yg teruk sangat, boleh dikata hampir musnah oleh bangsa Persia.

Ditambah ramainya gubernur Romawi yg memberontak pada Kaisar Heraclius. Banyak daerah yg hilang dari kekuasaan kerana direbut oleh Persia. Ditambah lagi ancaman dari negeri lain iaitu Kerajaan Lombards, Slavia dan Avtar (bukan Avatar... ^_^') membuat sukar bagi Romawi untok mempertahankan kerajaannya.

Ramai orang berkata jika Kaisar Romawi akan runtuh oleh Persia, tapi Qur'an mengatakan sebaliknya jika dalam waktu dekat, Romawi akan menang.

Kaisar Romawi Heraclius memerintahkan semua emas untuk dilebur & dijual untok peperangan, ramai orang yg memberontak keputusan ini, tapi 7 Tahun kemudian, Perang pecah kembali & menjadi perang penentu runtuh atau tidaknya kerajaan Romawi.

Dan ramalan Qur'an terbukti, Romawi menang atas Persia, Semua daerah yg direbut oleh Persia dikembalikan kembali pada Romawi.



2. Mukjizat ilmiah yg baru dapat dibuktikan dengan ilmu geography abad 20

1 Hal yg menarik disini ialah tempat terjadinya peperangan itu, terjadi di tepian laut mati, cekungan pertemuan antara Syiria, Jordania & Palestina yang dalam Qur'an digambarkan sebagai "Adnal'Ardhi" yg dapat bermakan BUMI TERDEKAT atau BUMI TERENDAH.

"Telah dikalahkan bangsa Romawi, di negeri yang TERDEKAT dan mereka sesudah dikalahkan itu akan menang. " QS 30 Ar Ruum: 2-3

Penafsir al-Quran, yang kemungkinan Allah senang dengan mereka yang disebutkan "adnal ardhi"' yang berarti daerah terdekat dengan Jazirah Arab. Akan tetapi arti kedua itu juga menyebutkan di sana. Dengan cara inilah al-Quran memberikan satu kata yang memiliki banyak arti, sebagaimana yang digambarkan Nabi Muhammad SAW dalam sabdanya:

"Saya telah diberi banyak kata yang meliputi banyak hal. " (HR Bukhari-Muslim)

Setelah ilmu & peralatan modern berkembang di abad 20 ini, Ilmuwan Geography menyatakan jika bumi yg paling rendah ialah dicekungan laut mati pertemuan antara Syiria, Palestian & Jordania, dengan ketinggian 395 Meter DI BAWAH PERMUKAAN AIR LAUT.

Hal yg baru dapat ditemukan oleh peralatan terakhir di zaman modern abad 20 ini, telah dinyatakan Qur'an 1400 yang lalu.

--------------------
Ditulis oleh : -Fatimah Nurul Hidayah-

Read more ...

Tuesday, August 17, 2010

Sejarah dan Tokoh Hermeneutika

A.    Sejarah Hermeneutika
Hermeneutika sebagai sebuah seni interpretasi di dalam sejarah muncul dan berkembang secara sporadis. Saat itu ia mulai diperlakukan untuk menterjemahkan literatur otoritatif di bawah kondisi-kondisi yang tidak mengijinkan akses kepadanya, karena alasan jarak ruang-waktu atau pada perbedaan bahasa. Sebagai cara untuk memperoleh pemahaman yang benar dan transparan, maka pada awalnya hermeneutika dipergunakan pada tiga kapasitas:
a.    Untuk membantu mengenai bahasa dan teks (kosa kata dan tata bahasa).
b.    Memfasilitasi eksegesis literatur kitab suci.
c.    Untuk menentukan yurisdiksi.
Mathius Flacius (seorang Lutheran) adalah orang pertama yang merumuskan hermeneutika kitab suci sebagai rangkaian reformasi dan dalam pihak oposisinya terhadap dogmatika Gereja Tridentin yang menekankan terhadap interpretasi literal terhadap kitab suci. Flacius mendesak sebuah kemungkinan interpretasi yang secara universal valid dan benar melalui pendekatan hermeneutika.
Setelah menolak dogma apapun yang secara tersirat cenderung menguasai eksegesis, maka hanya sebuah langkah kecil saja yang diperlukan untuk menggabungkan "hermeneutika khusus" terhadap eksegesis kitab suci menjadi "hermeneutika umum" yang menyediakan aturan-aturan bagi interpretasi apapun atas tanda-tanda, entah berasal dari yang profan atau tidak. Secara dasariyah hermeneutika adalah filosofis, sebab hermeneutika merupakan bagian dari seni berpikir. Dan penerapan hermeneutika pun sangatlah luas, yaitu meliputi bidang teologis, filosofis, linguistik (sastra) maupun hukum. Pembagian inilah yang kemudian dikenal dengan "hermeneutika khusus".
Teks sesungguhnya ada dalam bahasa (apakah teks itu berupa sebuah dokumen hukum, kitab keagamaan atau teks sastra), karenanya gramatika selalu digunakan untuk memperoleh sebuah kalimat, terhadap apapun tipe dokumen tersebut. Jika semua prinsip bahasa diformulasikan, ini akan membentuk hermeneutika umum. Hermeneutika inilah yang dapat digunakan sebagai basis dan inti semua "hermeneutika khusus".
Secara historis, bahwa hermeneutika pada aporisme awal hanya merupakan "cara seorang anak menangkap makna baru" struktur kalimat dan konteks makna merupakan petunjuk bagi anak kecil dan merupakan sistem interpretasi bagi hermeneutika umum.

B.    Pengertian Hermeneutika
Hermeneutika berasal dari kata hermeneuein (menafsirkan) dan kata hermeneunia (penafsiran). Kata ini selalu diasosiasikan dengan dewa Hermes yang bertugas menyampaikan pesan-pesan dari dewa Olympus ke dalam bahasa yang dapat dimengerti manusia. Maka sejak saat itu Hermes menjadi simbol seorang duta yang dibebani oleh sebuah misi tertentu; yang pada akhirnya hermeneutika diartikan sengan "proses mengubah sesuatu atau situasi ketidaktahuan menjadi mengerti". Dan dalam versi lain Hermes berasal dari bahasa latin sermo, yang berarti to say (mengatakan), dan bahasa latin lainnya verbum (word/kata). Ini mengasumsikan bahwa utusan di dalam memberitakan kata adalah mengumumkan dan menyatakan sesuatu, fungsinya tidak hanya untuk menjelaskan tetapi juga untuk menyatakan. Ada tiga bentuk makna dasar dari kata hermeneuein dan hermeneuia, yaitu:
a.    Mengungkapkan kata-kata, misalnya to say.
b.    Menjelaskan, seperti menjelaskan situasi.
c.    Menterjemahkan, seperti transliterasi dari bahasa lain.
 
Dengan demikian, interpretasi berarti atau mengacu pada tiga persoalan yang berbeda: pengucapan lisan, penjelasan yang masuk akal, dan transliterasi dari bahasa asing. Hanya saja seseorang bisa mencatat bahwa secara prinsip "proses Hermes" sedang berfungsi dalam ketiga persoalan itu, sesuatu yang asing, ganjil, waktu yang berbeda, tempat atau pengalaman yang nyata, hadir, komprehensif; sesuatu yang membutuhkan representasi, eksplanasi atau transliterasi yang bagaimana pun juga mengarah pada pemahaman diinterpretasi. Oleh karenanya, tugas interpretasi harus membuat sesuatu yang kabur jauh, dan gelap maknanya menjadi sesuatu yang jelas, dekat, dan dapat dipahami.


1.    Hermeneuien sebagai "mengatakan"
Dalam pengertian ini interpretasi merupakan bentuk dari perkataan. Demikian juga perkataan lisan atau nyanyian adalah sebuah interpretasi. Karena alasan ini, seseorang diarahkan kepada cara sesuatu diekspresikan (gaya/penampilan). Interpretasi sebagai perkataan dan ekspresi melahirkan prinsip-prinsip fundamental dari interpretasi baik sastra maupun teologi. Ia mengarahkan kita kembali pada bentuk primordial dan fungsi bahasa sebagai suara hidup yang dipenuhi dengan kekuatan ungkapan yang penuh makna. Bahasa seperti ini lahir dari ketiadaan, bukanlah tanda, tapi suara. Bahasa kehilangan kekuatan ekspresifnya (dan keberartiannya) ketika ia direduksi ke dalam gambaran visual—tempat yang sunyi. Oleh karena itu, interpretasi teologi dan sastra harus mentransformasikan kembali tulisan ke dalam pembicaraan.

2.    Hermeneutika sebagai to explain
Interpretasi sebagai penjelasan menekankan aspek pemahaman diskursif. Hal yang paling esensial dari kata-kata bukanlah mengatakan sesuatu saja, namun menjelaskan, merasionalisasikan, dan membuatnya jelas. Area eksplanasi mengetengahkan prosedur pemahaman. Dan di dalam hermeneutika area pemahaman yang diasumsikan ini disebut pra-pemahaman (pre-understanding). Interpretasi eksplanatif membuat kita sadar bahwa eksplanasi bersifat kontekstual "horizontal". Eksplanasi harus dibuat dalam horison makna dan interpensi yang pasti, dia harus melakukan pra-pemahaman subyek dan situasinya sebelum dia dapat memasuki makna itu sendiri. Hanya ketika dia melangkah ke dalam lingkaran misteri dan horison itu sendiri, seorang penafsir bisa mengerti makna tersebut. Inilah lingkaran hermeneutik yang misterius di mana makna sebuah teks tak dapat muncul tanpanya. Dalam konteks ini, fungsi hermenutik eksplanatif dalam penafsiran sastra bisa dilihat sebagai usaha untuk meletakkan fondasi di dalam pra-pemahaman bagi sebuah pemahaman teks.

C. Friedrich Daniel Ernst Schleiermacher (1768-1834)
Schleiermacher (adalah seorang raksasa intelektual pada zamannya. Kendati tidak pernah menulis suatu traktat yang sistematik tentang hermeneutik dan hanya meninggalkan beberapa catatan kecil kompedium kuliah, Schleiermacher telah meletakkan dasar hermenautika modern. Rekonsepsinya tentang hermeneutika, yang terbit dari refleksinya sebagai ahli eksegetika dan filologi, dipengaruhi oleh Plato, dan dinalar dalam konteks sistem idealisme Schelling, Fichte, dan Hegel.
Schleiermacher melihat dua masalah universal dalam hermeneutika, yakni perjumpaan dengan sesuatu yang asing dan kemungkinan salah paham manakala kita harus memahami pikiran atau sejumlah pikiran lewat kata-kata.
Arah baru yang dibicarakan oleh Schleiermacher adalah tekanan pada pemahaman terhadap hal yang dikatakan dalam suatu dialogia.
Proses komparatif dan divinatorik yang merupakan penetrasi ke dalam struktur kalimat dan struktur pikiran pencipta  hingga mengerti keaslian yang berasal dari dalam karya, yaitu proses hermeneutika. Hermeneutika adalah kegiatan mendengarkan yang penetratif tersebut dan disinilah hakikat hermeneutika harus dikaji dan dipelajari.
Bagi Schleiermacher, pemahaman tidak lain adalah mengalami kembali proses kejiwaan pencipta teks. Kita berangkat dari ungkapan yang sudah pasti dan selesai serta meniti kembali kenyataan kejiwaan yang menjadi pangkal tolak ungkapan tersebut.
Semakin tegaslah Schleiermacher bahwa objek operasi hermeneutika terdapat di dalam dua bidang, yakni bahasa dan pikiran. Schleiermacher mengatakan bahwa pemahaman adalah suatu teknologi, bukan proses mekanikal, bukan ilmu, untuk menyusun kembali pikiran/pemikiran orang lain.
Schleiermacher melihat gaya bukan sebagai masalah  hiasan. Gaya menandai kesatuan pikiran dan bahasa, kesatuan umum dan khusus di dalam proyek seorang pencipta.
Pemikiran Schleiermacher bergeser dari konsepsi hermeneutika yang terpusat pada bahasa ke konsepsi hermeneutika yang terpusat pada masalah kejiwaan, masalah menentukan atau merekonstruksi suatu proses mental yang yang hakikatnya tidak lagi bersifat kebahasaan. Ia melampaui diskusi tentang bangunan aturan-aturan.
Minatnya pada  masalah kejiwaan adalah prestasi khas Schleiermacher, tetapi ia cenderung mengaburkan unsur kesejahteraan dan unsur pentingnya bahasa dalam analisis arti.

D. Wilhelm Dilthey
W. Dilthey (1833-1911Dilthey, berpendapat bahwa definisi-definisi filsafat adalah dokumen sejarah yang dapat memberikan informasi tentang situasi kejiwaan suatu zaman. Tujuan seluruh pemikiran Dilthey tentang hermeneutika adalah mengembangkan metode menganalisis ekspresi kehidupan batin “yang secara objektif sah”. Titik tolak dan titik akhirnya adalah pengalaman konkret.
Dilthey menerangkan hidup, ekstensi manusia, dengan pertolongan konsepsi-konsepsi ilmu alam adalah tidak benar. Ilmu alam memisah-misahkan unsur-unsur, sedangkan hidup, yang berupa kenyataan historikal-sosial tidak dipisahkan ke dalam unsure-unsur. Hidup mempunyai suatu struktur hermeneutikal. Demikian orientasi pemikiran Dithley. Hidup tidak dapat dideduksikan dari prinsip-prinsip. Hidup tidak dapat diterangkan, tetapi dapat dipahami.
Pemahaman, menurut Dilthey adalah nama untuk proses pengetahuan kehidupan kejiwaan lewat ekspresi-ekspresinya yang diberikan pada indra. Pemahaman menunjukkan berbagai tingkatan. Tingkatan, pertama-tama ditentukan minat. Bilamana minat terbatas, pemahaman juga terbatas. Bilamana kita memahami dengan memproyeksikan diri kita pada objek, berarti kita memahami objek sebagai keberadaan yang juga berkesatuan itu.
Dalam pemikiran Dilthey, sifat kesejarahan (historikalitas) hidup senantiasa ditekankan. Mengabaikan hal tersebut berarti menjurus ke dalam objektivitas ilusif sebab manusia yang cirinyua historical tidak mungkin dipahami secara semestinya. Pemahaman terhadap masa lalu bukan merupakan bentuk perbudakan, tetapi bentuk kemerdekaan, yakni kemerdekaan guna mengetahui diri dengan semakin penuh dan kesadaran akan kesanggupannya untuk menuruti hendak menjadi apa.
Hakikat hubungan arti, menurut Dilthey, terletak di dalam hubungan yang dalam proses perjalanan waktu termuat dalam pembentukan hidup yang terjadi secara bertahap. Arti dan keberartian senantiasa bergantung pada hubungannnya, merupakan bagian dari situasi. Arti bersifat historikal yakni berubah bersama waktu. Arti adalah masalah hubungan, menunjuk pada jaringan hubungan budaya yang saling berkaitan dan senantiasa berkaitan dengan suatu perspektif dari sisi peristiwa. Kenyataan adanya lingkaran dalam proses pemahaman mengungkapkan masing-masing bagian mengandaikan yang lain sehingga konsepsi pemahaman tanpa pengandaian tidak mempunyai dasar faktual.
Read more ...

Friday, August 13, 2010

TAFSIR RAHMAT Karya H. Oemar Bakry

Isi al-Qur’an begitu luas dan dalam. Ibarat laut yang tidak ada tepinya. Isinya tidak akan habis-habisnya ditimba. Said Jamaluddin al-Afgany berkata, “ Al-Qur’anul Karim tetap selalu seperti anak perawan”. Artinya selalu diinginkan oleh ilmuan untuk menggalinya. Hidayah dan petunjuknya tatap abadi sampai akhir zaman. Sesuai dengan perkembangan sosial-budaya dan pesatnya kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, maka sudah waktunya diusahakan peningkatan penterjemahkan dan penafsirkan al-Qur’anul Karim sesuai dengan kemajuan yang ada. Tafsir Rahmat karya H. Oemar Bakry adalah sebagi salah satu jawaban yang merefleksikan bagimana al-Qur’an dipahami di abad modern.


Pemikiranya banyak dipengaruhi oleh Muhammad Hatta (Wakil Presiden Indonesia pertama)  teutama dalam persoalan politik,[1] dan tokoh-tokoh reformis Islam diantaranya Muhammad Abduh, Sayid Qutub, Mahmud Yunus terutama dalam persoalan-persoalan agama.

Biografi H. Oemar Bakry
Pada tahun 1978 nama Oemar Bakri mulai banyak dikenal oleh sebagian besar masyarakat Indonesia terutama oleh kaum akademisi dan cerdik-cendikia. Hal ini terkait dengan keberanianya mengkritisi buku Al-Qur’an Bacaan Mulia karya H.B. Yassin paus sastra nusantara.
Menurut Howard M. Federsfiel, Oemar Bakri termasauk salah satu ilmuan independen, penulis yang produktif serta aktif berdakwah dalam menegakan dan menyebarkan agama Islam. Selain itu Bakry juga merupakan pengusaha yang sukses di bidang percetakan.[2]
Haji Umar bakry lahir di desa Kacang Sumatra barat 26 Juni 1916, menempuh pendidikan dasarnya di SD Kacang dan sekolah sambungan di Singkarak, ia meneruskan ke sekolah Thawalib dan Diniyah putera Padang Panjang. Tamat di Diniyah 1931 dan Thawalib 1932. kemudian melanjutkan pada sekolah Kuliyatul Mualimin Islamiyah Padang, tamat tahun 1936 dengan nilai terbaik. Kemudian melanjutkan ke fakultas Sastra Universitas Indonesia, namun tidak sampai tamat.
Umar bakry adalah salah satu staf pengajar pada sekolah thawalib padang panjang tahun 1933 sampai 1936. dan menjadi direktur sekolah guru Muhammadiyah di padang Sidempuan 1937. Ia juga guru thawalib padang panjang 1938, direktur The Public Typewriting School yang didirikan 21 Januari 1938 di padang panjang. Kemudian namanya diganti dengan Taman kemajuan dan masih berdiri sampai sekarang.
Beliau juga seorang aktifis dakwah disumatera barat, jakarta dan bandung. Melalui berdakwahlah nama beliau semakin mencuat dan dikenal oleh masyarakat luas. Terutama ketika mengomentari karya H.B.Yasin Al-Qur’anul Karim Bacaan Mulia pada tahun 1978. [3] Selain di dalam negeri, aktifitas dakwah beliau juga sampai ke Mesir yaitu dengan memberikan ceramah di Universitas al-Azhar kairo pada tanggal 22 Desember 1983, di IAIN Sunan Ampel surabaya 11 Februari 1984, di IAIN Imam Bonjol Padang pada 26 maret 1984 dan di Universitas Bung Hatta 28 maret 1984.
Selain sebagai seorang pengajar atau guru dan juga da’i, dibidang politik beliau adalah anggota Partai Persatuan Muslim Indonesia (PERMI) pada tahun 1930-an, anggota MASYUMI dan pernah menjadi pimpinan MASYUMI sumatera tengah. Selain itu, beliau juga seorang pengusaha percetakan dan pernah menjadi ketua IKAPI (Ikatan Percetakan Indonesia) Jakarta Raya beberapa periode, ketua Yayasan al-Falah, Yayasan Pemeliharaan Kesucian al-Qur’an al-karim, dan yayasan Thawalib Jakarta. Pimpinan penerbit angkasa di Jakarta dan Mutiara di Bandung.
Karya-karya beliau diantaranya,
  1. Tafsir Madrashi (bahasa Arab),
  2. Uraian 50 hadis
  3. Memantapkan rukun Iman dan Islam
  4. Apakah ada nasikh dan Mansukh dalam al-Qur’an.
  5. Al-Qur’an Mukjizat yang terbesar kekal dan abadi.
  6. Keharusan memahami isi al-Qur’an
  7. Pelajaran Sembahyang
  8. Kebangkitan umat Islam di abad ke-15 Hijriyah
  9. Polemik Haji Umar bakry dengan H.B.Yasin tentang al-Qur’an bacaan mulia.
  10. Islam menentang sekulerisme
  11. Bung Hatta selamat cita-citamu kami teruskan.
Latar Belakang dan Tujuan Penulisan
Oemar Bakry menemakan tafsirnya dengan nama Tafsir Rahmat. Dinamakan demikian karena sesuai dengan tujuan diturunkanya al-Qur’an sebagai rahmat bagi alam semesta. Allah menurunkan al-Qur’an agar dipahami dan diamalkan isinya. Hal ini sesuai dengan firman Allah Swt: “Sesungguhnya kami menurunkan al-Qur’an al-karim berbahasa arab agar kamu memikirkannya “. (Q.S. Yusuf:2).
Secara verbal Al-Qur’an ditulis menggunakan bahasa Arab, sementara kita masyarakat Indonesia masih minim pemahamannya terhadap bahasa arab. Dengan demikian, terjemahan dan tafsir al-Qur’an dalam bahasa Indonesia sangat dibutuhkan. Adanya transliterasi Al-Qur’an dari bahasa Arab kebahasa Indonesia, dimaksudkan supaya masyarakat bisa memahami al-Qur’an (meskipun mereka tidak memehami bahasa Arab) dan bisa mengamalkan isi al-Qur’an sesuai dengan yang ia pahami.
Sekarang sudah disebut zaman ruang angkasa, zaman ilmu pengetahuan dan teknologi. Umat Islam yang diseru oleh al-Qur’an itu selalu berkembang alam pikirannya, cara hidup dan kehidupannya, singkatnya berkembang disegala kehidupannya. Sesuai dengan sabda rasulullah, “Berbicaralah dengan manusia sesuai dengan tingkat kecerdasannya”. Mengenai bahasa tentu sesuai dengan perkembangan bahasa itu. Bahasa Indonesia yang berasal dari bahasa melayu, sekarang sudah menjadi bahasa nasional, bahasa perasatuan bangsa. Susunannya, ejaannya, cara menulisnya sudah jauh sekali berbeda dengan dahulu kala. Kita disuruh berkomunikasi dengan bahasa yang dapat dipahami oleh pendengar ataupun pembaca.
Sejumlah fakta di atas menjadi sebuah alasan mengapa Oemar Bakri berkata bahwa “tugas kita sekarang adalah melanjutkan dengan menulis terjemahan dan tafsir sesuai dengan bahasa Indonesia yang baik dan benar”,[4] yaitu terjemahan yang sesuai dengan tata bahasa yang berlaku (EYD).
Menurut Oemar Bakry, ada tiga syarat yang mesti ada pada seorang penterjemah, yaitu:
  • Menguasai bahasa buku yang akan diterjemahkanya
  • Menguasai bahasa yang akan ditulisnya
  • Isi buku yang akan diterjemahkan itu memang bidangnya[5]
Secara singkat dari penjelasan diatas, menurut pemaklah bahwa yang melatar belakangi (intellectual history/history of ideas)[6] atau yang memberikan motivasi Umar bakry dalam menyusun Tafsir Rahmat adalah:
  1. Minimnya masyarakat Indonesia yang memahami bahasa arab, sehingga mereka tidak bisa memahami al-Qur’an.
  2. Meskipun sudah ada terjemahan dan tafsir al-Qur’an dengan menggunakan bahasa Indonesia, namun masih menggunakan ejaan lama dan juga terlalu leterlek, sehingga susah untuk dipahami.
  3. Al-Qur’an tidak bertentangan dengan Ilmu pengetahuan dan teknologi.
Tafsir Rahmat menurut Howard M. Federspiel mempunyai dua keistimewaan, yaitu:[7]
  • Karyanya menggunakan bahasa Indonesia modern dan lebih memperihatinkan perkembangan zaman daripada tafsir-tafsir yang lebih tua
  • Menekankan bahasanya pada kesesuaian al-Qyr’an dengan perkembangan teknologi
Secara umum, tujuan Oemar Bakry menulis Tafsir Rahmat adalah memberikan kemudahan bagi mereka yang tidak atau kurang pemahamanya terhadap bahasa Arab untuk bisa memahami al-Qur’an sehingga dapat mengamalkan isinya, menterjemahkan dan menafsirkan al-Qur’an sesuai dengan EYD (ejaan yang disempurnakan), dan membuktikan bahwa al-Qur’an tidak bertentangan dengan sains dan teknologi.

Metode dan sistematika Penulisan.
Tafsir Rahmat disusun mengikuti model Tafsir al-Mufasar karya Muhammad Farid Wajdi. Tafsir ini dibuat hanya satu jilid dengan tujuan untuk memudahkan para pembaca mengambil petunjuk dan hidayah dari al-Qur’an. Uraianya padat dan singkat, di dalamnya tidak terdapat unsur-unsur khilafiah dan tidak pula mencampuradukanya dengan cerita-cerita israiliyat.[8] terjemahan dan tafsirnya disusun selaras dengan halaman al-Qur’an. Penulisan tasir ini telah diusahakan sejauh mngkin agar padat, ringkas, baik bahasanya dan tepat isinya.[9]
“Tafsir ini disusun dengan perombakan-perombakan baru dalam terjemah, sehingga terjemah itu mudah dimengerti oleh pembaca. Sebaliknya isi al-Qur’an harus tetap dijaga jangan sampai salah. Jadi yang kita perlukan bahasa baik isi benar”.[10]
Tafsir rahmat secara metodologi penafsiran, tergolong kedalam metode tahlili yaitu menafsirkan al-Qur’an sesuai dengan mushaf atau susunan al-Qur’an. Sistematika penulisannya sesuai dengan tertib mushafi. Diawal surat tertera gambaran umum mengenai kandungan surat, baik kajian pokok, isi, jumlah surat, diturunkannya surat dan sebagainya.
Tersedia pula di dalam tafsirnya satu indeks tema-tema al-Qur’an yang dilengkapi dengan rujukan ke teks-teks yang sesuai. Tema-tema tersebut berhubungan dengan masalah keimanan, penyembahan, perkawinan, ilmu pengetahuan dan teknologi, kesehatan, ekonomi, masyarakat dan bangsa, identitas budaya dan sejarah.  Corak tafsir rahmat tergolong kedalam corak penafsiran global atau umum. Namun meskipun demikian, dalam tafsir ini juga banyak disinggung soal ilmu dan teknologi.[11]

Sumber Utama dalam penafsirannya
  1. Tafsir al-manar karya syaikh Muhammad rasyid Ridha
  2. Tafsir al-Maraghi karya Ahmad Musthofa al-Maraghi
  3. at-Tafsirul farid fil Qur’ani Majid karya Muhammad Abdul Mu’in al-Jamal
  4. Tafsir Ibnu katsir
  5. Fi Dzhilalil Qur’an karya Sayyid Quthb
  6. Tafsir al-Qur’an karya prof. H. Mahmud Yunus
  7. Al-Qur’an dan terjemahnya oleh dewan penerjemah Departemen agama
  8. Tafsir Qur’an karya H. Zainuddin Hamidi dan Fakhrudin H.S.
  9. Tafsir al-Bayan karya Hasbi ash-Shidiqi

REFERENSI
  1. Bakri, H. Oemar, Tafsir Rahmat 
  2. Polemik H. Oemar Bakri dengan H.B. Jassin tentang Al-Qur’anul Karim Bacaan Mulia, (Jakarta: Mutiara, 1979)
  3. Federspiel, Howard M, Kajian Al-Qur,an di Indonesia dari Mahmud Yunus Hingga Quraish Shihab, (Bandung: Mizan,1996)
Footnote:

[1] . beliau adalah pengagum berat Bung Hatta, untuk lebih jelasnya lihat salah satu karya bakry Selamat Jalan Bung Hatta Cita-Citamu Kami Teruskan.
[2] . Howard M. Federspiel, Kajian Al-Qur,an di Indonesia dari Mahmud Yunus Hingga Quraish Shihab, (Bandung: Mizan,1996), hal.105
[3] . Menurut bakry, H.B yasin (paus sastra Indonesia) tidak menguasai bahasa Arab. Pada bulan Puasa Bakry menjual Buku-buku agama dengan diskon 20%. Menurut stap pejualan buku, yang keras terjual adalah buku H.B. Yassin Al-Qur’anul Karim Bacaan Mulia. Mulai dari sinilah bakry tergerak untuk mengetahui buku tersebut. Setelah ia baca, ternyata banyak sekali kesalahan-kesalahan Yasin ketika menterjemahkan al-Qur’an.
[4] . Tafsir Rahmat, x
[5] . Polemik H. Oemar Bakri dengan H.B. Jassin tentang Al-Qur’anul Karim Bacaan Mulia, (Jakarta: Mutiara, 1979), hal.36.
[6] . artinya, kita mengkaji sejarah pemikiran ulama dan sekaligus latar belakang mengapa ulama tersebut berpendapat seperti itu atau terhadap organisasi keagamaan mengapa para ulama dari organisasi tersebut berpendapat seperti itu.
[7] . Howard M. Federspiel, Op.Cit. hal. 156
[8] . Rahmat, xvi
[9] . ibid
[10] . Tafsir Rahmat, xiii
[11] . contohnya bisa dilihat dalam Tafsir Rahmat, halaman xiv
Read more ...

Thursday, August 5, 2010

Tujuan Pendidikan dalam Al-Quran



a. QS. Adz-Dzariyat: 56
”Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku”.
Ayat di atas menggunakan bentuk persona pertama (Aku). Ini bukan saja bertujuan menekankan pesan yang di kandungnya tetapi juga untuk mengisyaratkan bahwa perbuatan-perbuatan Allah tidak melibatkan malaikat atau sebab-sebab lainnya. Di sini penekanannya adalah beribadah kepada-Nya semata-mata, maka redaksi yang digunakan berbentuk tunggal dan tertuju kepada-Nya semata-mata tanpa memheri kesan adanya keterlibatan selain Allah S WT. Didahulukannya penyebutan kata al jin/jin dari kata al-ins/manusia karena jin lebih dahulu diciptakan Allah dari pada manusia.
Kaitannya dengan tujuan pendidikan itu sendiri dapat kita pahami sebagai berikut:


Pertama, kemantapan makna penghambaan diri kepada Allah dalam hati setiap insan. Tidak ada dalam wujud ini kecuali satu Tuhan dan selain-Nya adalah hamba-hamba-Nya. Kedua, Mengarah kepada Allah dengan setiap gerak pada nurani, pada setiap anggota badan dan setiap gerak dalam hidup. Semuanya mengarah hanya kepada Allah secara tulus. Dengan demikian, terlaksanalah makna ibadah.


b. QS. Ali Imran: 138-139
(Al Quran) ini adalah penerangan bagi seluruh manusia, dan petunjuk serta pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa”.
”Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, Padahal kamulah orang-orang yang paling Tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman”.
Pada ayat 138 dalam surah Ali Imran ini mengandung pesan-pesan yang sangat jelas, bahwa al-Qur’an secara keseluruhan adalah penerangan yang memberi keterangan dan menghilangkan kesangsian serta keraguan bagi manusia, atau dengan kata lain ayat ini memberikan informasi tentang keutamaan al-Qur'an yang mengungkap adanya hukum-hukum yang mengatur kehidupan masyarakat. Kitab tersebut berfungsi mengubah masyarakat dan mengeluarkan anggotanya dari kegelapan menuju terang benderang dari kehidupan negative menuju kehidupan positif. Al-Qur'an memang adalah penerangan bagi seluruh manusia, petunjuk, serta peringatan bagi orang-orang yang bertaqwa.Pernyataan Allah ini adalah penjelasan bagi manusia, juga mengandung makna bahwa Allah tidak menjatuhkan sanksi sebelum manusia mengetahui sanksi tersebut. Dia tidak menyiksa manusia secara mendadak, karena ini adalah petunjuk, lagi peringatan.Pada ayat 139 ini membicarakan tentang kelompok pada perang uhud. Pada perang uhud mereka tidak meraih kemenangan bahkan menderita luka dan poembunuhan, dan dalam perang badar mereka dengan gemilang meraih kemenangan dan berhasil melawan dan membunuh sekian banyak lawan mereka, maka itu merupakan bagian dari sunnatullah. Namun demikian, apa yang mereka alami dalam perang uhud tidak perlu menjadikan mereka berputus asa. Karena itu, janganlah kamu melemah menghadapi musuhmu dan musuh Allah, kuatkan jasmanimu dan janganlah (pula) kamu bersedih akibat dari apa yang kamu alami dalam perang uhud, atau peristiwa lain yang seupa, kuatkanlah mentalmu. Mengapa kamu lemah atau bersedih padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya) di sisi Allah, di dunia dan di akherat. Di dunia kamu memperjuangkan agama Allah itulah sebuah kebenaran, di akherat kamu mendapatkan surga Allah. Ini jika kamu orang-orang mukmin, yakni benar-benar keimanan telah mantap dalam hatimu.Bila kita kaitkan dengan tujuan dari pendidikan itu sendiri dapat kita ketahui sebagai berikut
1. Mewujudkan bimbingan pada manusia agar tidak binasa dengan hukum- hukum alam
2.
Mewujudkan kebahagiaan pada hambanya
3.
Menjadikan manusia yang intelek dan mempunyai derajat yang tinggi


c. QS. Hud: 61
”Dan kepada Tsamud (kami utus) saudara mereka shaleh. Shaleh berkata: "Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia. Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya[726], karena itu mohonlah ampunan-Nya, kemudian bertobatlah kepada-Nya, Sesungguhnya Tuhanku Amat dekat (rahmat-Nya) lagi memperkenankan (doa hamba-Nya)."
[726] Maksudnya: manusia dijadikan penghuni dunia untuk menguasai dan memakmurkan dunia.
Setelah selesai kisah Ad kini giliran kisah suku Tsamud. Tsamud juga merupakan satu suku terbesar yang telah punah. Mereka adalah keturunan Tsamud Ibnu Jatsar, Ibnu Iram Ibnu Sam, Ibnu Nuh. Dengan demikian silsilah keturunan mereka bertemu dengan Ad pada kakek yang sama yaitu Imran.Kaum Tsamud pada mulanya menarik pelajaran berharga dari pengalaman buruk kaum Ad, karena itu mereka beriman kepada Allah SWT. Pada masa itulah, merekapun berhasil membangun peradaban yang cukup megah, tetapi keberhasilan itu menjadikan mereka lengah sehingga mereka kembali menyembah berhala serupa dengan berhala yang disembah kaum Ad. Ketika itulah Allah mengutus Nabi Shaleh as mengingatkan mereka agar tidak mempersekutukan Allah tetapi tuntunan dan peringatan beliau tidak disambut baik oleh mayoritas kaum Tsamud.Ayat ini mengandung perintah yang jelas kepada manusia --langsung maupun tidak langsung-- untuk membangun bumi dalam kedudukannya sebagai khalifah, sekaligus menjadi alasan mengapa manusia harus menyembah Allah SWT semata-mata.
Kaitannya dengan tujuan pendidikan sebagai berikut:
1. Mewujudkan seorang hamba yang shaleh
2. Mewujudkan akan keesaan Tuhan
3. Mewujudkan manusia yang ahli do’a4. Menunjukkan akan luasnya ilmu Tuhan


d. QS. Al-Fath: 29
”Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan Dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. kamu Lihat mereka ruku' dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud[1406]. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, Yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya Maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah Dia dan tegak Lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar”.
[1406] Maksudnya: pada air muka mereka kelihatan keimanan dan kesucian hati mereka.
Pada ayat ini Allah menjelaskan sifat dan sikap Nabi Muhammad SAW beserta pengikut-pengikut beliau. Allah berfirman: Nabi Muhammad adalah utusan Allah yang diutusnya membawa rahmat bagi seluruh alam dan orang-orang yang bersama dengannya yakni sahabat-sahabat Nabi serta pengikut-pengikut setia beliau adalah orang-orang yang bersikap keras yakni tegas tidak berbasa-basi yang mengorbankan akidahnya terhadap orang-orang kafir. Walau mereka memiliki sikap tegas itu namun mereka berkasih sayang antar sesama mereka. Mereka juga ruku' dan sujud dengan tulus ikhlas karena Allah, senantiasa mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya yang agung.. demikian itulah sifat-sifat yang agung dan luhur serta tinggi. Demikian itulah keadaan orang mukmin pengikut Nabi Muhammad SAW. Allah menjanjikan untuk orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal yang shaleh di antara mereka yang bersama Nabi serta siapapun yang mengikuti cara hidup mereka dapat mencapai kesempurnaan atau luput dari kesalahan atau dosa.Kalimat asyidda'u 'ala al-kuffar sering kali dijadikan oleh sementara orang sebagai bukti keharusan bersikap keras terhadap non muslim. Kalaupun dipahami sebagai sikap keras, maka itu dalam konteks peperangan dan penegakan sanksi hukum yang dibenarkan agama. Ini serupa dengan firman-Nya
"… dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama Allah, jika kamu beriman kepada Allah, dan hari akherat ....." (QS. 24:2)
Dari hal diatas dapat kita ketahui makna yang terkandung dari ayat diatas sebagai berikut:
1. Mewujudkan rasa hormat dan rasa kasih saying sesama manusia
2. Mewujudkan seorang hamba yang ahli sujud dan taubat
3. Mewujudkan manusia yang selalu menyenangkan orang lain


e. QS. Al-Haj: 41
”(yaitu) orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi niscaya mereka mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, menyuruh berbuat ma'ruf dan mencegah dari perbuatan yang mungkar; dan kepada Allah-lah kembali segala urusan”.
Ayat ini menerangkan tentang keadaan orang-orang yang diberikan kemenangan dan Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi; yakni Kami berikan mereka kekuasaan mengelola satu wilayah dalam keadaan mereka yang merdeka niscaya mereka melaksanakan shalat secara sempurna rukun, syarat, dan sunnah-sunnahnya dan mereka juga menunaikan zakat sesuai kadarnya. Serta mereka menyuruh anggota masyarakatnya agar berbuat yang ma'ruf serta mencegah dari yang munkar.Ayat di atas mencerminkan sekelumit dari ciri-ciri masyarakat yang diidamkan Islam, kapan dan di manapun, dan yang telah terbukti dalam sejarah melalui masyarakat Nabi Muhammad SAW dan para sahabat beliau.Al-Qur'an mengisyaratkan kedua nilai di atas dalam firman-Nya dalam surah Ali Imran, ayat 104 yang berbunyi:
”Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung”.
Ma'ruf: segala perbuatan yang mendekatkan kita kepada Allah; sedangkan Munkar ialah segala perbuatan yang menjauhkan kita dari pada-Nya.
Kaitannya dengan tujuan pendidikan sebagai berikut:
1. Mewujudkan seorang yang selalu menegakkan kebenaran dan mencegah kemunkaran
2. Mewujudkan manusia yang selalu bertawaqqal pada Allah.
Read more ...
 
Indonesia dulu dikenal sebagai bangsa yang toleran dan penuh sikap tenggang rasa. Namun, kini penilaian tersebut tidak dapat diamini begitu saja, karena semakin besarnya keragu-raguan dalam hal ini. Kenyataan yang ada menunjukkan, hak-hak kaum minoritas tidak dipertahankan pemerintah, bahkan hingga terjadi proses salah paham yang sangat jauh.
free counters

Blog Archive

Seseorang yang mandiri adalah seseorang yang berhasil membangun nilai dirinya sedemikian sehingga mampu menempatkan perannya dalam alam kehidupan kemanusiaannya dengan penuh manfaat. Kemandirian seseorang dapat terukur misalnya dengan sejauh mana kehadiran dirinya memberikan manfaat kearah kesempurnaan dalam sistemnya yang lebih luas. Salam Kenal Dari Miztalie Buat Shobat Semua.
The Republic of Indonesian Blogger | Garuda di DadakuTopOfBlogs Internet Users Handbook, 2012, 2nd Ed. Avoid the scams while doing business online

Kolom blog tutorial Back Link PickMe Back Link review http://miztalie-poke.blogspot.com on alexa.comblog-indonesia.com

You need install flash player to listen us, click here to download
My Popularity (by popuri.us)

friends

Meta Tag Vs miztalie Poke | Template Ireng Manis © 2010 Free Template Ajah. Distribution by Automotive Cars. Supported by google and Mozila