Saturday, December 31, 2011

Surat Al-Baqarah : 34

Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para Malaikat:"Sujudlah kamu kepada Adam", maka sujudlah mereka kecuali iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir. (QS. 2:34)

Makna Ayat Secara Global

Allah Ta’ala mengingatkan hambaNya akan ilmu, hikmah serta karuniaNya atas mereka melalui firmanNya: “Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para Malaikat:"Sujudlah kamu kepada Adam…”; yaitu sujud penghormatan dan pemuliaan, lalu mereka semua sujud kecuali Iblis yang berbesar hati/berbangga hati kepada dirinya sendiri dan menolak untuk sujud. Pada hakikatnya, sujud ini merupakan bentuk keta’atan kepada Allah dan penghormatan terhadap Adam. Penolakan itu terjadi akibat sikap sombong dan dengkinya terhadap kemuliaan Adam. Oleh karena penolakannya untuk ta’at kepada Allah itulah, akhirnya dia menjadi golongan orang-orang yang kafir dan fasiq terhadap perintah Allah. Perintah yang mewajibkannya terhalang dari semua kebaikan dan terusir. [Ays]

Makna Per-penggalan

FirmanNya : [Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para Malaikat:] ["Sujudlah kamu…] : Makna kata as-Sujûd dalam ucapan orang Arab adalah at-Tadzallul wal Khudlû’ (menghinakan diri dan tunduk). Tujuannya adalah meletakkan wajah diatas bumi.

Abu ‘Amru berkata: “ sajada idzâ tha’-tha-a ra’-sahu (dia sujud bila menundukkan kepalanya) “. Ayat ini berisi keutamaan Adam 'alaihissalaam dimana Allah menjadikan para malaikatNya sujud terhadapnya. Kemudian dari itu, sesungguhnya bersujud kepada selain Allah adalah diharamkan dalam syari’at Islam.

FirmanNya: [ …kepada Adam", maka sujudlah mereka…]. [kecuali iblis] : ia termasuk golongan bangsa jin akan tetapi dia harus sujud karena berada diantara para malaikat. Seperti diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas, dia berkata: “nama Iblis itu dulunya adalah ‘Azâzîl (dalam bahasa Arabnya: al-Hârits - Ays) dan dia merupakan pemuka para malaikat, kemudian menjadi Iblis dan dinamakan demikian karena Allah menghalanginya dari semua kebaikan alias membuatnya patah arang dan putus asa darinya.

FirmanNnya: [ia enggan] : menolak untuk sujud

FirmanNya: [dan takabur] : berbesar hati/berbangga hati kepada dirinya sendiri

FirmanNya: [dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir] : yakni hal itu adalah dalam ilmu Allah Ta’ala sebelum dia menjadi kafir. [Zub]

Petunjuk Ayat

Diantara petunjuk ayat diatas adalah:

Mengingat karunia Allah merupakan hal yang mewajibkan untuk bersyukur dan sugesti untuk melakukannya.

Peringatan terhadap sifat takabbur dan dengki dimana keduanya merupakan sebab sehingga syaithan menjadi Iblis dan (sebab) penolakan kaum Yahudi untuk menerima Islam.

Berisi pengukuhan permusuhan Iblis dan peringatan bahwa dia adalah musuh yang wajib diposisikan sebagai musuh untuk selama-lamanya.

Peringatan bahwa diantara perbuatan maksiat ada yang berupa kekufuran atau menggiring kepada kekufuran. [Ays]

sumber :
- Tafsir Aysar at-Tafâsîr Li Kalâm al-'Alîy al-Kabîr karya Syaikh. Abu Bakar al-Jazâ`iriy (disingkat: Ays)
- Kitab Zubdah at-Tafsîr Min Fath al-Qadîr karya DR.Muhammad Sulaiman 'Abdullah al-Asyqar (disingkat: Zub)
Read more ...

Surat Al-Baqarah : 30

“Ingatlah ketika Rabb-mu berfirman kepada para Malaikat:"Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi". Mereka berkata:"Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau". Rabb berfirman:’Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui’ ". (QS. 2:30)


Makna secara umum:

Allah Ta’ala memerintahkan Rasul-Nya agar mengingat firman-Nya kepada para malaikat (yaitu): “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi” yang akan menggantikan-Nya dalam menjalankan hukum-hukum-Nya di muka bumi. Para malaikat ketika itu, bertanya-tanya * karena khawatir yang menjadi khalifah ini adalah orang-orang yang akan menumpahkan darah dan membuat kerusakan di muka bumi, yaitu berupa kekufuran dan perbuatan maksiat. Hal ini sebagai perbandingan terhadap makhluk jin (sebelumnya) yang memang terjadi terhadap mereka apa yang dikhawatirkan tersebut. Lalu Allah memberitahukan kepada mereka bahwa Dia Maha Mengetahui hikmah-hikmah dan mashalahat-mashlahat (yang ada dibalik itu), suatu hal yang tidak mereka ketahui.

Yang dimaksud dengan peringatan ini adalah tambahan dalam mengungkapkan bukti-bukti yang menunjukkan wujud Allah Ta’ala, qudratNya, ilmuNya serta hikmahNya yang mewajibkan kita untuk beriman serta beribadah kepadaNya, bukan kepada selainNya. [Ays]

* Syaikh Abu Bakar al-Jazâiriy berkata: “sebab ia hanyalah berupa pertanyaan untuk mendapatkan informasi dan menyingkap hikmah dibalik itu bukan sama sekali dalam rangka menyanggah kepada Allah".

Rincian per-penggalan:

FirmanNya: (Ingatlah ketika Rabb-mu berfirman kepada para Malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi" ); maksud al-Khalifah disini adalah pengganti para malaikat sebelumnya. Ada yang mengatakan bahwa dia adalah Nabi Adam 'alaihissalaam. Allah Ta’ala berbicara kepada para malaikat dengan khithab seperti ini bukan dalam rangka meminta pendapat mereka akan tetapi untuk mengeluarkan apa yang ada pada diri mereka (mengetahui tanggapan mereka).

(Mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya); yakni dengan berbuat syirik dan maksiat; mereka mengatakan hal ini berdasarkan pengetahuan yang mereka dapatkan dari Allah Ta’ala, yaitu hanya satu sisi (dari banyak sisi) sebab mereka tidak mengetahui hal yang ghaib.

(dan menumpahkan darah); yakni dengan membunuh dan menyakiti orang.

(padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau); yakni kami sebagai orang yang memuji-Mu.

(dan mentaqdiskan [mensucikan] Engkau); kata at-Taqdis merupakan sinonim dari kata at-Tathhir : yakni kami mensucikan-Mu dari hal-hal yang tidak layak bagi-Mu yang dinisbatkan oleh kaum al-Mulhidûn (Atheis) dan pendustaan yang dibuat oleh kaum al-Jâhidûn (para Pengingkar).

(Rabb berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui” ); Dari Qatâdah (berkaitan dengan tafsirnya), dia berkata: “Sungguh, sudah ada dalam ‘ilmu Allah bahwa akan ada dari makhluk tersebut (yang menjadi) para Nabi, Rasul, kaum yang shalih dan para penghuni surga”. [Zub]

Petunjuk Ayat

Diantara petunjuk ayat diatas adalah:

Perlunya orang yang tidak tahu bertanya kepada orang yang lebih tahu.

Tidak boleh membentak orang yang bertanya dan harus menjawabnya atau memalingkan pertanyaan tersebut dengan cara yang lembut.

Mengetahui penciptaan pertama

Kemuliaan Adam dan kelebihannya [Ays]

sumber :
- Tafsir Aysar at-Tafâsîr Li Kalâm al-'Alîy al-Kabîr karya Syaikh. Abu Bakar al-Jazâ`iriy (disingkat: Ays)
- Kitab Zubdah at-Tafsîr Min Fath al-Qadîr karya DR.Muhammad Sulaiman 'Abdullah al-Asyqar (disingkat: Zub)
Read more ...

Surat Al-Baqarah : 25

“Dan sampaikanlah berita gembira kepada mereka yang beriman dan berbuat baik, bahwa bagi mereka disediakan surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya. Setiap mereka diberi rezki buah-buahan dalam surga-surga itu, mereka mengatakan:"Inilah yang pernah diberikan kepada kami dahulu". Mereka diberi buah-buahan yang serupa dan untuk mereka di dalamnya ada isteri-isteri yang suci dan mereka kekal di dalamnya”. (QS. 2:25)


Korelasi Ayat

Tatkala Allah Ta’ala menyinggung tentang neraka dan penghuninya, maka adalah sinkron bila Dia Ta’ala juga menyinggung tentang surga dan penghuninya sehingga at-Tarhib wat Targhib (ultimatum dan sugesti) dapat menjadi sempurna. Kedua metode ini (at-Tarhib wat Targhib) merupakan sarana dalam memberikan hidayah dan ishlah. [Ays]

Tafsiran Ayat

(25). (Dan sampaikanlah berita gembira (at-Tabsyir) kepada mereka yang beriman); makna at-Tabsyiir adalah memberitakan sesuatu yang bekas/pengaruhnya tampak di kulit (raut muka) lantaran gembira dan senang.

(dan berbuat baik [ash-Shalihat]); perbuatan-perbuatan yang lurus (dilakukan secara istiqamah), yang mereka dituntut untuk melakukannya dan diwajibkan atas mereka - atau yang dianjurkan oleh Allah Ta’ala untuk dilakukan - sebab surga hanya dapat diraih dengan keimanan dan amal yang shalih.

(bahwa bagi mereka disediakan surga-surga); surga-surga (jannaat) maknanya adalah al-Basaatiin (kebun-kebun/taman-taman), yaitu nama rumah pahala secara keseluruhan yang menaungi surga-surga yang banyak.

(yang mengalir sungai-sungai di dalamnya); yakni mengalir dibawah pepohon-pepohonannya dan rumah-rumah tinggal didalamnya.

(Setiap mereka diberi rezki buah-buahan dalam surga-surga itu ); dari berbagai jenisnya.

(mereka mengatakan:’ Inilah yang pernah diberikan kepada kami dahulu ‘ ); bahwasanya ia berupa (buah-buahan) yang serupa, sebanding dan sejenis dengannya, dimana warnanya serupa meskipun berbeda dalam ukuran, citarasa dan aromanya. Bila mereka memakannya, mereka mendapatkan rasa yang bukan seperti rasa yang dulu (pernah mereka nikmati).

(Mereka diberi buah-buahan yang serupa); dalam kualitasnya dan tidak ada yang rusak sedikitpun.

(dan untuk mereka di dalamnya ada isteri-isteri yang suci); yang dimaksud dengan isteri-isteri yang suci adalah bahwa mereka tidak seperti wanita-wanita lainnya yang mengalami haidh dan nifas serta kotoran-kotoran lainnya.

(dan mereka kekal di dalamnya) ; kekal (al-Khuluud) artinya tinggal didalamnya secara kontinyu dan tidak terputus lagi. (Zub)

Dalam ayat yang mulia ini, Allah Ta’ala memerintahkan Rasul-Nya agar memberitakan kabar gembira kepada orang-orang yang beriman yang istiqamah tentang rizki yang disediakan-Nya untuk mereka berupa surga-surga yang mengalir sungai-sungai didalamnya, yang didalamnya ada isteri-isteri yang suci, bersih serta terbebas dari seluruh kotoran-kotoran dan penyakit-penyakit; mereka kekal didalamnya. Dia Ta’ala juga memberitakan tentang mereka yang saat disediakan kepada mereka berbagai jenis buah-buahan, lalu berkata: ‘Inilah yang pernah diberikan kepada kami dahulu ketika di dunia’. Demikian pula, Dia Ta’ala memberitakan bahwa yang diberikan kepada mereka itu adalah serupa warnanya namun tidak serupa rasanya akan tetapi memiliki kualitas plus dari sisi keindahan dan kesempurnaannya serta kelezatannya yang tak terkira. [Ays]

Diantara petunjuk ayat diatas:

Keutamaan iman dan amal shalih yang karenanya – setelah keutamaan dan rahmat yang diberikan oleh Allah – kenikmatan seperti yang tersebut dalam ayat diatas dapat dirasakan oleh para pelakunya.

Mengimingkan orang-orang yang beriman akan kenikmatan yang ada di Daarus Salam (rumah kedamaian, surga) dan kenikmatan berdiam didalamnya sehingga keinginan mereka terhadapnya dan amal yang mereka lakukan untuk mendapatkannya semakin bertambah, yaitu dengan berbuat kebajikan-kebajikan dan meninggalkan semua bentuk kemungkaran. [Ays]

sumber :
- Tafsir Aysar at-Tafâsîr Li Kalâm al-'Alîy al-Kabîr karya Syaikh. Abu Bakar al-Jazâ`iriy (disingkat: Ays)
- Kitab Zubdah at-Tafsîr Min Fath al-Qadîr karya DR.Muhammad Sulaiman 'Abdullah al-Asyqar (disingkat: Zub)
Read more ...

Tafsir Surat al-'Ashr (Wal 'Ashri)

Demi masa,[1].

Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian,[2].

kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran.”[3]

Info Umum
Surat ini diturunkan di kota Mekkah dan ayatnya berjumlah 3 ayat

Keutamaannya
Ath-Thabarany meriwayatkan di dalam al-Mu’jam al-Awsath (no.5097) dengan sanadnya dari ‘Abdullah bin Hishn, dia berkata, “Ada dua orang shahabat Rasulullah SAW., yang bila saling bertemu, tidak berpisah kecuali salah satunya membacakan kepada yang lainnya surat al-‘Ashr hingga selesai, kemudian masing-masing saling memberi salam.” Imam asy-Syâfi’iy berkata, “Andaikata manusia hanya mentadabburi (merenungi) surat ini saja, tentu sudah cukup bagi mereka.”

Di dalam surat yang agung ini jelaslah bahwa semua manusia berada dalam kerugian kecuali orang yang memiliki empat kualifikasi, yaitu iman, amal shalih, nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran.

Dengan dua hal pertama (iman dan amal shalih), seorang hamba dapat melengkapi dirinya sendiri sedangkan dengan dua hal berikutnya dia dapat melengkapi orang lain dan dengan melengkapi keempat-empatnya, maka jadilah seorang hamba orang yang terhindar dari kerugian dengan meraih keuntungan yang besar. Inilah yang tentunya akan selalu diupayakan oleh seorang insan yang berakal di dalam kehidupannya.

Pesan Moral Surat Ini
1. Bahwa Allah berhak untuk bersumpah dengan makhluk-Nya mana saja yang dikehendaki-Nya sedangkan seorang hamba tidak boleh bersumpah selain dengan (atas nama) Khaliqnya. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah SAW., “Barangsiapa yang bersumpah dengan selain Allah, maka dia telah melakukan kekufuran atau berbuat kesyirikan.”

2. Semua manusia berada dalam kerugian kecuali orang yang memiliki empat kualifikasi, yaitu iman, amal shalih, nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran.

3. Iman semata yang hampa dari amal, tidak akan berguna bagi pemiliknya.

4. Keutamaan berdakwah kepada Allah Ta’ala dan saling nasehat-menasehati.

5. Keutamaan sabar dengan semua jenis-jenisnya, khususnya terhadap hal yang dialami oleh seorang Muslim sebagai resiko yang harus dihadapinya di dalam berdakwah kepada Rabbnya, baik berupa perkataan, tindakan secara fisik, terhadap hartanya ataupun anaknya.

(SUMBER: Silsilah Manâhij Dawrât asy-Syar’iyyah- at-Tafsîr- Fi`ah an-Nâsyi`ah oleh Dr.Ibrâhim al-Huwaimil, h.47-49)
Read more ...

Friday, December 30, 2011

Surat Al-Baqarah : 1-2

Alif laam miim (1)

Kitab (al-Qur'an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa.(2)
(QS. Al-Baqarah : 1-2)


Mukaddimah

Terdapat hadits yang shahih mengenai keutamaan surat Al-Baqarah diantaranya; sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi Wasallam :

“Bacalah surat Al-Baqarah, karena sesungguhnya mengambilnya (untuk dibaca dan diamalkan) adalah mengandung keberkahan dan meninggalkannya adalah penyesalan sedangkan para penyihir tak mampu melawannya".

Begitu juga diriwayatkan oleh Imam At-Turmuzi bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi Wasallam bersabda :

"Janganlah kalian jadikan rumah-rumah kalian sebagai kuburan, sesungguhnya syaithan lari/kabur dari rumah yang didalamnya dibacakan surat Al-Baqarah".

Syarah/Keterangan

alif laam miim.
Ia merupakan huruf-huruf “Muqaththa’at”. Surat-Surat yang dibuka dengan huruf-huruf muqaththa’at berjumlah 29 surat yang diawali (keberadaannya) pada surat al-Baqarah ini dan diakhiri pada surat al-Qalam. Penafsirannya tidak satupun diantaranya yang tsabit (secara shahih berasal) dari Rasulullah Shallallahu 'alaihi Wasallam dan menjadikannya sebagai sesuatu yang mutasyabih (lawan muhkamat) yang hanya Allah Yang Mengetahui dengan ilmuNya adalah lebih dekat kepada kebenaran, karenanya dikatakan : Hanya Allah lah yang mengetahui maksudnya.

Dalam kaitannya dengan ini, diriwayatkan dari Abu Bakar dan Ali –radhiallahu ‘anhuma- begitu juga dari ‘Amir asy-Sya’bi dan Sufyan ats-Tsauri, mereka semua berkata : “Huruf-Huruf muqaththa’at adalah rahasia Allah dalam Al-Quran dan dalam setiap kitabNya terdapat rahasiaNya. Huruf-Huruf tersebut adalah termasuk ayat mutasyabih yang hanya Dia lah yang mengetahuinya. Oleh karena itu, tidak selayaknya kita membicarakan apa yang ada didalamnya tetapi kita harus mengimaninya”.

Sebagian Ahlul ‘ilm mengeluarkan dua faedah (dari makna yang tersembunyi) : Pertama, bahwa ketika orang-orang Musyrikun melarang (kaumnya) mendengar Al-Quran karena takut hal itu bisa berpengaruh terhadap jiwa orang-orang yang mendengarnya, maka yang diucapkan pertama kali (kepada mereka) adalah huruf-huruf tersebut, dan ini bagi mereka adalah ucapan yang masih asing yang dapat mengalihkan mereka untuk mendengar Al-Quran sehingga (tatkala) mereka mendengarnya, mereka terpengaruh, terkesima lantas beriman dan mendengarnya, dan hal ini sudah cukup sebagai faedah yang dapat diambil.

Kedua, tatkala orang-orang Musyrikun mengingkari Al-Quran sebagai Kalamullah yang diwahyukan kepada RasulNya, Muhammad Shallallahu 'alaihi Wasallam, maka huruf-huruf ini menjadi tantangan (serius) bagi mereka seakan-akan ia (huruf-huruf tersebut) berkata kepada mereka : “Sesungguhnya Al-Quran ini tersusun dari huruf-huruf seperti ini, maka susunlah/karanglah oleh kalian sepertinya”. Makna dari faedah kedua ini biasanya disaksikan (dibenarkan) oleh penyebutan lafaz Al-Quran setelahnya.

Makna ayat secara keseluruhan

Allah Ta’ala memberitahukan bahwa Al-Quran yang diturunkanNya kepada hamba dan RasulNya adalah merupakan kitab yang sangat besar dan agung yang sama sekali tidak mengandung keraguan dan dugaan bahwa ia adalah bukan wahyu Allah dan kitabNya. Hal itu disebabkan ia adalah sebagai mukjizat, disamping petunjuk dan cahaya yang dibawanya bagi orang-orang yang beriman dan bertaqwa hal mana dengan keduanya (iman dan taqwa) dapat mengantarkan mereka kepada jalan-jalan kedamaian, kebahagiaan dan kesempurnaan.

Petunjuk ayat

Diantara petunjuk ayat diatas adalah :

Agar memperkuat iman kepada Allah Ta’ala, kitabNya dan RasulNya serta ajakan agar mencari hidayah melalui Al-Quran Al-Karim.

Menjelaskan keutamaan taqwa dan orang-orang yang bertaqwa.
Read more ...

Tafsir Surat Al-Fatihah

"Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang,[1].

Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam,[2].

Maha Pemurah lagi Maha Penyayang,[3].

Yang menguasai hari pembalasan,[4].

Hanya Engkaulah yang kami sembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan,[5].

Tunjukilah kami jalan yang lurus,[6].

(yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat[7]."

Beberapa Penjelasan

A. Status Surat
Surat ini adalah surat Makkiyyah berdasarkan pendapat mayoritas ulama. (Tafsîr al-Baghawiy:1/16; al-Muharrir al-Wajîz:1/61)

B. Nama Surat
Surat ini memiliki nama yang banyak sekali dan ini menunjukkan kemuliaan dan keagungannya, sebab banyak nama menunjukkan kemuliaan si empunya nama itu.

Diantara nama-namanya yang masyhur:
- Fâtihah al-Kitâb
- Ummul Kitâb
- Al-Qur`ân al-'Azhîm
- Ummul Qur`ân
- As-Sab'ul Matsâniy

C. Keutamaannya
Surat ini memiliki keutamaan yang agung dan telah dijelaskan mengenainya oleh banyak hadits, diantaranya:

1. Hadits yang diriwayatkan oleh 'Ubâdah bin ash-Shâmit dari Nabi Shallallâhu 'alaihi Wa Sallam yang bersabda, "Tidak (sah/sempurna) shalat seorang yang tidak membaca Fâtihah al-Kitab (Pembuka Kitabullah, al-Fâtihah)." (Shahîh al-Jâmi', kitab al-Adzân:1/184)

2. Dari Abu Hurairah radliyallâhu 'anhu, dia berkata, aku telah mendengar Rasulullah Shallallâhu 'alaihi Wa Sallam bersabda, "Allah Ta'ala berfirman, 'Aku telah membagi shalat antara diri-Ku dan hamba-Ku dengan dua bagian; separuhnya untuk-Ku dan separuhnya lagi untuk hamba-Ku dan bagi hamba-Ku apa yang dia minta.

Bila seorang hamba mengucapkan, 'al-Hamdulillâhi Rabbil 'Alamîn.' Allah Ta'ala menjawab, 'Hamba-Ku telah memuji-Ku.'

Dan bila dia mengucapkan, 'ar-Rahmânir Rahîm.' Allah Ta'ala menjawab, 'Hamba-Ku telah menyanjung-Ku.'

Dan bila dia mengucapkan, 'Mâliki Yawmid Dîn.' Allah Ta'ala menjawab, 'Hamba-Ku telah mengagungkan-Ku.'

Dan bila dia mengucapkan, 'Iyyâka na'budu wa iyyâka nasta'în.' Allah Ta'ala menjawab, 'Inilah (bagian) yang diantara-Ku dan hamba-Ku dan bagi hamba-Ku apa yang dimintanya.'

Dan bila dia mengucapkan, 'Ihdinash Shirâthal Mustaqîm Shirâthal Ladzîna An'amta 'alaihim Ghairil Maghdlûbi 'alaihim wa ladl Dlâllîn.' Allah Ta'ala menjawab, 'Inilah yang buat hamba-Ku dan bagi hamba-Ku apa yang dimintanya." (HR.Muslim)

Dan banyak lagi hadits lainnya yang shahih mengenai keutamaan surat ini.

D. Keutamaan Ucapan " Amîn "
Di dalam kitab Shahîh al-Bukhâriy, terdapat hadits yang diriwayatkan Abu Hurairah bahwasanya Nabi Shallallâhu 'alaihi Wa Sallam bersabda, "Bila Imam mengucapkan 'Waladl Dlâllîn', maka katakanlah 'Amîn', sebab siapa saja yang pengaminannya bertepatan dengan pengaminan Malaikat, maka akan diampuni baginya dosa-dosa terdahulu." (HR.al-Bukhâriy)

Sedangkan di dalam Shahîh Muslim, disebutkan, "Bila Imam mengucapkan 'Waladl Dlâllin', maka katakanlah 'Amîn', niscaya Allah akan menjawab (mengabulkan bagi) kamu." (HR.Muslim)

E. Membacanya Di Dalam Shalat
Membaca al-Fâtihah wajib hukumnya bagi setiap Muslim pada setiap raka'at shalat dan tidak dapat diganti dengan membaca terjemahan atau lainnya.

Membacanya adalah termasuk rukun shalat, baik yang fardlu maupun sunnah dan hendaknya bagi makmum pada shalat Jahriyyah (yang dinyaringkan bacaannya), membacanya dengan Sirr (pelan, tidak nyaring).

(Mengenai hukum membaca surat al-Fâtihah dalam shalat ini terdapat perbedaan pendapat di kalangan para ulama-red.,)

F. Makna Kalimat
"Alhamdu" artinya sanjungan/pujian atas Allah dengan sifat-sifat kesempurnaan dan sifat-sifat yang memang Dia layak atasnya.

"Lillâhi" artinya Dia-lah Yang dituhankan dan disembah, Yang berhak untuk diesakan di dalam beribadah terhadap-Nya.

"Rabb" artinya al-Murabbi, yaitu al-Mâlik (Pemilik). "Rabb" adalah nama dari nama-nama Allah Ta'ala dan penggunaan kata ini di dalam bahasa Arab untuk selain-Nya hanya dalam bentuk Mudlâf (Majemuk), seperti ungkapan, "Rabbud Dâr" (pemilik/tuan rumah), dan sebagainya.

"al-'Alamîn" artinya semua yang selain Allah (alam semesta)

"ar-Rahmânir Rahîm" yaitu dua nama yang menunjukkan bahwa Dia Ta'ala adalah Pemilik rahmat (Maha pengasih) yang amat luas dan agung.

"Mâliki Yawmid Dîn" yakni hari Kiamat. Dinamakan dengan Yawmud Dîn karena Allah Ta'ala menyuruh mereka beribadah dengan amal-amal mereka; bila baik, maka baik balasannya dan bila buruk, maka buruk balasannya. Dan makna Mâliki Yawmid Dîn adalah bahwa semua perintah itu adalah hanya untuk Allah dan amat tampak sekali secara sempurna bagi para makhluk kesempurnaan kepemilikan-Nya dan terputusnya kepemilikan para makhluk.

"Iyyâka na'budu wa iyyâka nasta'în" yakni kita tidak menyembah kecuali Allah semata dan kita tidak meminta pertolongan kecuali kepada-Nya, sehingga kita mengkhususkannya di dalam beribadah dan meminta pertolongan serta meninggalkan selain-Nya. 'Ibadah adalah sebutan yang mencakup setiap perkataan, perbuatan lahir dan batin yang dicintai Allah dan diridlai-Nya. Sedangkan arti Isti'ânah (minta tolong) adalah berpegang kepada Allah di dalam mendapatkan manfa'at dan menolak hal yang membahayakan disertai kepercayaan terhadap-Nya di dalam mendapatkan hal itu. sedangkan kenapa 'ibadah didahulukan atas Isti'ânah adalah sebagai bentuk perhatian di dalam mendahulukan hak-Nya di atas hak hamba-Nya.

"Ihdinash Shirâthal Mustaqîm" yakni tunjukkan dan berilah kami petunjuk serta taufiq. Ash-Shirâth al-Mustaqîm adalah jalan yang dijelaskan dan menyampaikan kepada Allah, yaitu Islam dan jalan orang-orang yang diberi nikmat kepada mereka, yaitu dari kalangan para Nabi, orang-orang yang jujur, syuhada dan orang-orang yang shalih.

"Ghairil Maghdlûbi 'Alaihim" yaitu orang-orang yang mengenal al-Haq namun meninggalkannya seperti orang-orang Yahudi dan orang-orang yang menyerupai mereka dari kalangan orang-orang yang berilmu namun tidak mengamalkannya.

"Waladl Dlâllîn" , yaitu orang-orang Nashrani dan siapa saja yang menyembah Allah dalam kondisi jahil dan sesat. v "Amîn" , ini tidak termasuk ayat dalam surat al-Fâtihah, maknanya adalah Ya Allah, perkenankanlah. Dianjurkan bagi Imam untuk mengucapkannya, demikian juga dengan Makmum dan orang yang shalat sendirian.

Sekalipun surat ini ringkas namun mengandung hal yang tidak satu suratpun dari surat-surat di dalam al-Qur'an mengandungnya. Ia mengandung jenis-jenis tauhid; tauhid Rubûbiyyah, yaitu pada firman-Nya "Rabbil 'Alamîn"; tauhid Ulûhiyyah, yaitu diambil dari lafazh al-Jalâlah "Allâh" dan dari firman-Nya "Iyyâka Na'budu Wa Iyyâka Nasta'în"; tauhid Asmâ` dan Shifât , yaitu menetapkan sifat-sifat kesempurnaan bagi Allah. Dalam hal ini melalui penetapan pujian terhadap-Nya dan hal lainnya.

G. Kandungan Surat

Penetapan tiga jenis tauhid.
Penetapan kenabian, yaitu pada firman-Nya "Ihdinash Shirâthal Mustaqîm" sebab hal ini tidak mungkin dicapai tanpa adanya risalah (kerasulan).

Penetapan adanya balasan dan hisab terhadap amal-amal, yaitu pada firman-Nya "Mâliki Yawmid Dîn".

Bahwa shalat yang tidak dibaca di dalamnya surat al-Fâtihah dianggap kurang (Khidâj).

Surat ini mengandung doa-doa yang paling komplit dan paling bermanfa'at bagi seorang hamba, yaitu "Ihdinash Shirâthal Mustaqîm". Oleh karena itu, seseorang wajib berdoa kepada Allah pada setiap raka'at dari shalatnya karena dia menghajatkan hal itu.

sumber : Silsilah Manâhij Dawrâh al-'Ulûm asy-Syar'iyyah -at-Tafsîr- karya Dr. Ibrâhim bin Sulaiman al-Huwaimil, h.30-35)
Read more ...
 
Indonesia dulu dikenal sebagai bangsa yang toleran dan penuh sikap tenggang rasa. Namun, kini penilaian tersebut tidak dapat diamini begitu saja, karena semakin besarnya keragu-raguan dalam hal ini. Kenyataan yang ada menunjukkan, hak-hak kaum minoritas tidak dipertahankan pemerintah, bahkan hingga terjadi proses salah paham yang sangat jauh.
free counters

Blog Archive

Seseorang yang mandiri adalah seseorang yang berhasil membangun nilai dirinya sedemikian sehingga mampu menempatkan perannya dalam alam kehidupan kemanusiaannya dengan penuh manfaat. Kemandirian seseorang dapat terukur misalnya dengan sejauh mana kehadiran dirinya memberikan manfaat kearah kesempurnaan dalam sistemnya yang lebih luas. Salam Kenal Dari Miztalie Buat Shobat Semua.
The Republic of Indonesian Blogger | Garuda di DadakuTopOfBlogs Internet Users Handbook, 2012, 2nd Ed. Avoid the scams while doing business online

Kolom blog tutorial Back Link PickMe Back Link review http://miztalie-poke.blogspot.com on alexa.comblog-indonesia.com

You need install flash player to listen us, click here to download
My Popularity (by popuri.us)

friends

Meta Tag Vs miztalie Poke | Template Ireng Manis © 2010 Free Template Ajah. Distribution by Automotive Cars. Supported by google and Mozila