Sunday, April 18, 2010

AKIBAT LALAI (karya Rita Asmaraningsih)

Prakata : Tidak seperti karya sebelumnya, cerpen anak-anak karya Rita Asmaraningsih ini lumayan bagus untuk seorang pemula. Hanya saja, ada satu kata yang harus diperhatikan yaitu ; TAROK. Sebaiknya gunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Kata TAROK bisa diganti dengan TARUH. Tarok itu bahasa sehari-hari. Jadi, sepertinya kurang afdol digunakan dalam cerpen.

Saya temukan 2 kata TAROK di dalam cerpen ini. Kemudian ada kalimat : "Buku ini papa temukan tergeletak di teras di atas meja teras.”

Sebaiknya jangan ada pengulangan kata 'teras'. Bagaimana kalau diganti menjadi : "Buku ini papa temukan tergeletak di atas meja teras.”

Perlu diperhatikan, di dalam sebuah cerpen sebisa mungkin gunakan kata yang bervariasi walaupun artinya sama. Jangan memakai kata yang sama dalam sebaris kalimat.

AKIBAT LALAI

“Owik… ! Mama kan sudah bilang, kalau habis belajar bukunya dirapikan lagi.” seru Mama mengingatkan. Mama tampak jengkel malam itu. Owik kali ini kembali tak mengindahkan nasehat-nasehatnya sebelumnya.

Owik yang lagi asik sms-an dengan Dilla hanya menjawab singkat. “Iya Ma, sebentar lagi Owik rapikan lagi.”

Mama hanya menggeleng-gelengkan kepala dan menarik nafas panjang. “Sampai kapan sih Owik bisa berubah? Masa dari dulu hanya janji-janji melulu?” keluh Mama. Terpaksa Mama Owik yang membereskan buku-buku itu. Mama tak yakin Owik akan merapikan buku-bukunya sesegera mungkin.

Memang Owik sering lalai. Lalai menyimpan dan merapikan barang-barangnya. Seringkali menaruh barang-barangnya di sembarang tempat. Akibatnya, seringkali menyusahkan dirinya sendiri. Seperti dua hari yang lalu saat akan berangkat sekolah, Owik sibuk mencari buku perpustakaan. Buku itu seyogyanya sudah harus dikembalikan pada hari itu.

“Ma, lihat buku perustakaan Owik nggak? Judulnya Petualangan Bocah Ajaib!”

“Lho mana Mama tahu? Kan mestinya Owik sendiri yang tahu? Pasti Owik lupa lagi naruhnya di mana, iya kan?” tanya mama.

Owik tampak kebingungan. Ini sudah yang kesekian kalinya dia terlambat mengembalikan buku perpustakaan. Selain kena denda, Kepala Perpustakaan akan mencatat namanya pada sebuah papan pengumuman. Papan pengumuman itu mencatat nama-nama peminjam yang sering mengembalikan buku tidak tepat waktu.

“Wah, malu dong aku bila namaku ada terpampang di sana!” Owik membatin. Dia nampak kesal. “Pasti nih si Kiky yang pinjam tanpa memberitahuku.!” tuduhnya pada Kiky, adiknya.

“Eit, enak saja Kak Owik nuduh sembarangan.” si Kiky menolak tuduhannya.

Mendengar suara ribut-ribut, papa tiba-tiba nimbrung.”Apa ini buku yang kalian ributkan? Papa sengaja menyimpannya. Buku ini papa temukan tergeletak di atas meja teras.”

“Tuh kan, Kak Owik sendiri yang lupa menyimpannya. Waktu itu kan Kak Owik membacanya di teras bareng Kak Dilla. Ingat nggak?” si Kiky mencoba mengingatkan kakaknya.

Akhirnya, pagi itu Owik ke sekolah dengan perasaan senang karena bukunya sudah ditemukan.
-------

Namun kejadian seperti itu berulang lagi keesokan harinya. Kembali Owik membuat jengkel Mamanya. Sore itu Owik mengaku kehilangan uang bayaran sekolah.

“Lho kenapa bisa hilang? Memangnya Owik taruh di mana uang itu?” Ini sudah kesekian kalinya Owik kehilangan uang.

“Mungkin tercecer, Ma! Saat turun dari mobil antar jemput. Tapi seingat Owik ditaruh dalam kotak pensil.” sahut Owik membela diri.

Mama tampak tidak puas dengan pembelaan diri Owik.

“Selalu saja Owik membela diri tanpa bercermin dari kejadian yang lalu. Kalau selalu hilang begini berarti memang Owik yang lalai!” keluh Mama dengan mimik muka masam. Mama begitu kesal. “Dari mana uangnya untuk mengganti uang bayaran sekolah itu? Mama berjualan kue dan dititipkan ke warung untuk membiayai sekolahmu. Tapi Owik tak pernah bersyukur dengan keadaan kita. Malah menyia-nyiakan ” Sebuah butiran bening jatuh mengalir dari sudut mata ibu muda itu. Nampak sudah habis kesabarannya, tapi Mama pun tak kuasa berbuat bagaimana lagi?

Owik diam tertunduk. Ia tak berani berkata-kata, apalagi menjawab perkataan Mamanya. Dalam hatinya menyesal telah membuat Mamanya sedih. Ini karena penyakit ‘lupa’ yang ia idap! Dalam hatinya Owik membela diri. Kelalaiannya disebabkan oleh penyakit lupa! Ah, masa’ sih kecil-kecil sudah pikun? Atau ini hanya alasan semata?

------
Puncak kekesalan Mama terjadi siang ini. Ketika pulang ke rumah, Owik mengaku kehilangan jam tangan. Jam tangan itu pemberian ayahnya sebagai hadiah ulang tahun, setahun lalu.

Kali ini Mama bertindak tegas. Kalau tidak tegas Owik akan mengulangi kesalahan yang sama. Tak cukup dengan memarahinya. Mungkin sekali ini ketegasan Mama harus diwujudkan dengan bentuk hukuman.

“Barang-barang yang telah hilang sulit untuk ditemukan kembali. Kalau Mama hitung sudah begitu banyak kerugiannya. Karena itu, Owik harus menerima hukumannya!” suara Mama datar tapi terdengar dingin.

“Maksud Mama? Owik dihukum?”

“Ya! Pertama, mulai besok sampai satu bulan ke depan, Mama tidak akan memberi uang jajan! Kedua, tak ada acara jalan-jalan atau makan-makan di luar rumah pada hari Minggu. Ketiga, Bik Murni akan cuti dulu selama satu bulan. Pekerjaannya mencuci piring, mengepel rumah dan menyetrika pakaian akan digantikan kita. Mama tidak punya uang lagi untuk membayar uang jasanya. Uang jasa untuk Bik Murni akan dipakai mengganti uang bayaran sekolahmu!” secara panjang lebar Mama menjelaskan bentuk hukuman yang bakal diterima Owik.

“Bagaimana? Mama kira setimpal kan hukumannya? Ini untuk memberikan pelajaran bahwa mencari uang tak semudah menghilangkannya!”

Akhirnya, Owik hanya dapat pasrah menerima hukuman yang akan dijalaninya mulai esok. Mencuci piring, menyapu lantai, mengepel, mencuci pakaian, menyetrika akan menjadi rutinitas barunya.

Owik mulai membayangkan betapa banyaknya tugas yang akan dilakukannya sebulan ini.! Itu artinya, tak ada lagi waktu untuk bermain sepeda, mengunjungi taman baca, dan berenang seperti yang sering dilakukannya bersama teman-temannya selama ini.
Read more ...

Monday, April 12, 2010

Rahasia di balik rahasia (Oleh Anggun Desimalinda)

Prakata : cerpen karya Anggun Desimalinda ini cocok banget untuk majalah remaja. Hanya saja perlu diperhatikan penggunaan tanda baca dan huruf besar ya. Misalnya :
-kata ‘yang’ jangan disingkat yg. Ini cerpen lho, bukan SMS.
-Di saat suatu komunitas skaters berkumpul dan bersenda gurau,Rara malah terduduk sendiri di pojok, tidak seperti biasanya dimana ia bahkan menjadi bahan lawakan oleh teman-temannya sejak SMP itu.

Perhatikan penggunaan tanda koma dalam kalimat : Rara malah terduduk sendiri di pojok, tidak seperti biasanya dimana ia bahkan menjadi bahan lawakan oleh teman-temannya sejak SMP itu.

Seharusnya setelah kata ‘pojok’ gunakan tanda titik. Jangan koma. Saya menemukan banyak sekali penggunaan tanda koma yang salah. Yang saya posting di sini sudah diperbaiki. Coba kamu bandingkan dengan naskah kamu sebelumnya. Banyak tanda koma yang saya ganti dengan titik. Kamu tentu tahu fungsi koma untuk apa? Coba ingat lagi pelajaran Bahasa Indonesia kamu, ya.

Sedangkan untuk alur cerita, tidak ada gregetnya. Terlalu banyak percakapan. Emosi dari para tokoh tidak terungkap dengan baik sehingga kurang bisa membangkitkan emosi pembaca. Tapi untuk seorang pemula, sudah lumayan baik. Hanya perlu latihan saja. Tetap semangat ya….

RAHASIA DI BALIK RAHASIA

“Besok plan B,jam 11.30 @ kantin sekolah
Tools di lo semua,stand by in 10 minutes before”


Begitu bunyi pesan yang masuk di HP Rara. Dari Rama yang sepertinya sudah mantap dengan rencananya besok. Tapi bagaimana dengan Rara sendiri? Sudah siapkah dia? Tidak,ia malah gusar karena misi rahasia ini menyangkut hati sahabatnya,yang telah menjadi target utama.

Rara pusing. Ia membanting tubuhnya ke kasur seakan tidak peduli lagi dengan semua yang telah terlanjur ia bicarakan dengan semangat bersama Rama. Semua pikirannya sekarang terjun payung dan berbanding terbalik dengan persepsinya semula.

Semua bermula dari kejadian seminggu yang lalu di tongkrongan daerah Menteng. Di saat suatu komunitas skaters berkumpul dan bersenda gurau,Rara malah terduduk sendiri di pojok,tidak seperti biasanya dimana ia bahkan menjadi bahan lawakan oleh teman-temannya sejak SMP itu.

Nyatanya,ia tidak bisa mengalihkan pandangan dari pasangan yang duduk di spot yang sejuk,sedang memadu kasih dengan bersenda-gurau. Mereka adalah Anggi dan Dino. Ia kesal setengah mati,terbakar api cemburu dan tiap detik dia berusaha menyembunyikannya. Semua terlihat kacau di mata Rara. Ia tidak ingin melihat cowok yang dicintainya sejak SD itu pacaran dengan sahabatnya dari SMP,namun bagaimanapun matanya akan terus tertuju ke arah mereka. Rara jengkel.

Dalam rasa yang semrawut itu, Rama datang ke hadapan Rara dengan sejuta rencana.

“ Ra,boleh ngomong sebentar?” tanya Rama. Rara mengiyakan dan mereka pun memisahkan diri dari kerumunan.

“Ada apa?” tanya Rara ketus.

“Gw udah lama tau kalo lo cemburu sama Anggi,hm.. masalahnya gw juga sama.” Kata Rama pendek,membuat Rara tidak menyangka ia tahu,sekaligus penasaran.

Rama mengusap kepala tanpa rambutnya,bersiap mengatakan sesuatu yang amat besar.

“Sama siapa Ram?” tanya Rara.

“Sama Dino,siapa lagi?” jawab Rama dengan berbisik. Rara makin tak menyangka.

“Gw punya rencana. Gimana kalo kita berdua buat mereka putus dan pedekate
sesudahnya?” tawar Rama tanpa ba bi bu lagi. Rara membelalakkan matanya.

“Lo gila? Kenapa lo bisa kepikiran gitu?? Gw ga mau! Anggi sahabat gw.” Rara refleks menolak.

“Itu terserah lo kalo lo tetap mau nyiksa diri ngeliat mereka kayak gitu terus.”

“Tapi..”

“Udah. Lo pikirin dulu aja. Kalo udah ada keputusan,segera hubungi gw.” Potong Rama.

“Dan inget, mulai sekarang ini rahasia kita berdua.” Lanjutnya.

Rara tercenung ketika Rama meninggalkannya dengan pilihan yang sulit.

Keesokan harinya, Rara ke rumah Rama dengan mantap dan menyatakan kesetujuannya. Maka dibuatlah rencana maha dahsyat itu langsung di rumah Rama.

“Kita buat mereka putus ga secara paksa. Tapi baik-baik dengan saling menimbulkan keburukan mereka masing-masing.” Begitu dasar dari rencana mereka yang dibuat Rama.
Mereka pun berbagi cerita mengenai keburukan sahabatnya masing-masing,lalu diaplikasikan ke plan A.

Plan A dilaksanakan di depan gerbang sekolah,dimana Anggi menunggu dengan manis kedatangan Dino dengan motornya. Rara masuk diantara mereka di detik ke 5 sesudah Dino datang. Rara membawa serta sehelai kertas kecil yang sudah ia persiapkan sejak ulangan Fisika tadi (contekan dari Anggi,adegan yang telah Rama perhitungkan sejak awal).

“Anggi, kata Benu (anak jenius di kelas) bet-an yang lo kasih ke gw salah semua,untung gw ga terlalu pake contekan ini.” Ujar Rara dengan tersenyum manis.
Anggi gusar mendengar hal itu, karena Dino tidak pernah memperkenankan pacarnya itu menjawab dengan salah soal ulangan. Dino pun menginterogasi Anggi dan mengambil contekan itu dari tangan Rara. Anggi gelagapan dan berusaha menjelaskan. Ini adegan yang diharapkan duo R. Rama tersenyum dari kejauhan.

“Ya udah ga papa, nanti kamu cek aja lagi ya sayang.” Ujar Dino dengan lembut. Anggi membalas dengan mengangguk dan tersenyum.

Betapa menggemaskannya mereka! Dan itu membuat duo R malah jengkel. Tidak seperti yang mereka harapkan ternyata. Rara berusaha bersikap netral dan tetap menjaga image-nya.

“Tapi bagaimanapun,makasih banyak ya Anggi. Gw ga belajar tentang vector,malah tentang GLB hehe.”

“Oke! Oh ya, duluan ya Rara, bye!” ujar Anggi seraya menaiki boncengan motor Dino.
Dino ikut tersenyum dibalik helmnya dan melambaikan tangan sepintas. Mereka pun berlalu pergi,tidak menyadari Rara yang masih di mabuk kepayang oleh senyuman Dino.
Rama menyenggol bahu Rara,menyadarkannya. Dirangkulnya bahu Rara yang kaku itu dan mengarahkannya ke kantin.

“Ao kita pikir plan B,kali ini agak ekstrim.” Ujar Rama.

*******

Rara dan Rama stand by di jarak 2 kursi dari tempat Dino dan Anggi duduk. Mereka mengamati gerak-gerik pasangan itu,mencari space agar Rara bisa masuk.

”Kali ini kita jangan pakai tools. Lo aja yang masuk. Suasananya ga mendukung Ra,rame.” Bisik Rama persis ditelinga Rara.

Rara mengangguk ragu dan mulai bergerak. Tapi Rama mencegatnya karena ia melihat keraguan yang bisa menggagalkan rencana.

“Tiba-tiba lo ragu? Plan B batal,kita bicara dulu.” Ajak Rama dengan tegas,menuju koridor depan perpus yang sepi.

“Bilang ke gw, kenapa lo tiba-tiba ragu?” tanya Rama.

“Gw ga bisa,hubungan mereka terlalu deket,dan gw ga yakin.”

“Sekarang lo maunya apa? Komitmen kita mau lo langgar?” tanya Rama,lebih seperti mengancam.

“Ng..”

“Sekalinya lo setuju,lo akan terus maju. Lo inget kan Ra?” potong Rama,Rara pun mengangguk.

“Ya udah kalo gitu! Baru plan A yang gagal dan kurang mantap aja udah ciut.” Rama agak menggertak kali ini.
“Gw ga ciut! Gw cuman ga mau menyakiti hati sahabat gw Ram!” bela Rara. Rama seperti terenyuh.

“Kadang ada yang perlu disakiti daripada kita terus yang sengsara.” Ujarnya.
“Cih,tanggapan yang egois!” ejek Rara tiba-tiba.

“Kalo emang gw egois, kenapa lo setuju untuk gabung sama gw buat mereka jadi putus? Plin-plan ya lo! Percuma gw ajak lo kerjasama.” Balas Rama tak kalah pahit.

Suasana menegang dan sunyi. Tak ada satupun yang berani bicara. Yang ada hanya kilat diantara tatapan mereka. Mereka sampai tidak menyadari bahwa pertengkaran kecil itu terdengar oleh Anggi yang bersembunyi di sisi koridor yang tidak terlihat oleh mereka. Anggi terkejut dan ia yakin ‘mereka’ yang dimaksud Rama adalah Dino dan dirinya,apa yang sebenarnya terjadi? Anggi terus mengamati.

“Terserahlah! Gw malas dengan semua rencana lo! Gw mengundurkan diri,titik!” Tiba-tiba Rara bersuara seraya berlalu pergi meninggalkan Rama.

Anehnya, Rama tidak mencegah Rara pergi untuk tetap stick to the status quo (yang mereka ciptakan sendiri). Ia hanya memandang Rara dengan sedih. Ia memukul susuran besi didepannya lalu merintih kesakitan.

“The truth that I left behind is : I love you Rara.” Gumam Rama lalu menggeleng pelan,mengusir sesuatu yang salah terjadi padanya.

Anggi yang ga terlalu mendengar gumaman Rama jadi bingung,tapi ia bisa melihat gerak mulutnya yang sebagian berarti ‘I love you’. Anggi pun segera melabraknya karena penasaran.

“Hayo lho Ram, ngapain mukulin besi? Ga sakit apa?” tegur Anggi.

Rama agak terkejut lalu menggeleng. “Ga papa kok, iseng aja.”

“Boleh gw tebak lo ada masalah apa? Siapa tau gw bisa bantu.” Tanya Anggi. Dino datang seraya merangkul Anggi.

“Ga usah ditanyain lagi. Yang,pasti tentang Rara.” Celetuk Dino.

Enak banget dia nyeletuk kayak gitu! Batin Rama jengkel. Kadang sobatnya itu emang ceplas-ceplos. Rama pun pergi dari hadapan mereka.

“Eeeh kok, dia pergi sih? Kamu sih yaaang!” Anggi memukul Dino dengan lembut. Dino cengengesan.

Besok gw harus cari tau nih! Tekad Anggi,karena ada sesuatu yang ga beres dan ga sehat di sekitar dia, maka dia pun bertekad untuk ‘menyehatkannya’.

*******

Anggi mengamati Rama yang sedang mengamati Rara yang bersenda gurau dengan temannya di kantin. Dari sudut penglihatan Anggi,bisa terlihat jelas kalau Rama melihat Rara dengan penuh arti,berharap perasaan di dalam hatinya ini bisa terlampiaskan hanya dengan melihatnya.

Ga bener nih! Ckckck. Batin Anggi gemas bukan kepalang. Anggi pun menghampiri Rama setelah memastikan bahwa ga ada Dino disekitar dia,ia tahu Dino tuh ceplos aja dan bisa-bisa mengganggu interogasinya (kepada Rama) nanti,seperti kejadian kemarin.

“Bilang ke gw dengan jujur Ram.” Ujar Anggi langsung begitu sudah didepan Rama. “ Lo suka kan sama Rara?” lanjutnya dengan berbisik.

Rama kaget,namun ia kembali cuek,melanjutkan makannya.
“Oke gw dicuekin! Ga papa sih, tapi sebagai cewek yang sensitif, gw tau arti tatapan lo Ram!” kata Anggi tegas.

Rama melihatnya sepintas,namun seakan Anggi cewek ga penting,ia kembali cuek.

“Hopeless banget sih lo jadi cowok!” ejek Anggi kemudian,saking gemas nya sama sikap Rama.

Tidak ada reaksi lagi. Rama santai aja makan. Tapi yang sebenarnya dirasakan Rama adalah hancur berkeping-keping.

“Halo say… Ngomongin apa sih,serius banget.” Dino masuk seperti biasanya,tapi fungsinya sekarang sebagai pencair suasana.

“Ini,ada pengecut yang ga mau ngakuin perasaannya” cibir Anggi,lagi. Rama makin cuek aja.

“Ke siapa?” tanya Dino. Anggi pun berbisik ke Dino.

“Ooh dia. Tapi bukannya…” Dino melanjutkan juga dengan bisikan,membuat Rama jadi penasaran. Apalagi makin penasaran karena ekspresi kaget ga menyangka Anggi yang muncul setelah mendengar Dino.

“Dia nyatain perasaannya ke kamu dan tiba-tiba malah ngilang gitu aja? Aneh deh.” Anggi bertanya meyakinkan sekaligus mengeraskan suara agar Rama mendengar.

Dino mengangguk. “Iya say, aku kaget juga lho,tapi aku hargain perasaan dia dengan hening saja.” Dino berkata sok puitis. Membuat Rama yang baru saja terhenyak akan perbuatan Rara jadi pengen muntah mendengarnya, penyakit hati komplikasi telah menjalar di tubuh Rama.

Rama bangkit dengan kasar lalu pergi.
“Sekarang malah dia yg ngeloyor pergi. Kayaknya mereka cocok deh.” Kata Anggi,Dino kembali mengangguk.

“Tapi beneran say,kamu ditembak sama Rara?” tanya Anggi.

“Iya,beneran,ngapain juga aku boong!”

“Hm.. berarti bener kalo mereka berantem di depan perpus itu karena rencana mereka yang gagal mau mutusin kita.” Ujar Anggi.

Dino menaikkan alis matanya. “Maksud kamu?”

“Maksudnya gini lho, Rama pura-pura suka sama aku dan ngajak kerjasama Rara buat mutusin kita, biar perasaan Rara bisa bahagia kalo dia milikin kamu. Ngerti?” jelas Anggi.

“Oke aku ngerti. Pengecut juga nih sih Rama. Tapi ada gentlemennya juga,dia mau berkorban perasaan buat Rara.” Kata Dino.

“Tapi lucu ya kita ga bisa dipisahin sama mereka. Aku bersyukur lho.” Anggi tersenyum lembut. Dino juga tersenyum dan mereka pun mendekatkan hidung masing-masing, lalu menggeleng-gelengkan kepala.

Tak lama, terdengar banyak gumaman “eww” diantara mereka karena memamerkan kemesraannya dengan lebay.

********

Rama menatap kosong dan jauh,ketika Pak Suryo mengajarkan tentang trigonometri. Ia malah memikirkan sesuatu tentang pilihan hatinya. Omongan Anggi yang serba ejekan tadi membuatnya berpikir juga. Selama ini ia memang seperti yang Anggi bilang tadi. Pengecut,hopeless dan satu kesimpulan yang ia buat. Ia adalah seorang pecundang. Pecundang atas dirinya sendiri.

Gw ga bisa kayak gini terus. Rara aja bisa nyatain perasaan dia walaupun tau kalo dia ga bakal bisa diterima,kenapa gw ngga bisa? Batin Rama.

Ia pun menyunggingkan senyum di sudut bibirnya. Tampaknya ia telah menentukan pilihan yang mengubah semua prinsip utama nya.

Pulang sekolah,Rama menunggu depan pagar dengan motornya. Ia menanti Rara yang akan lewat dan ia ingin bicara dengan Rara. Tak beberapa lama Rara lewat,tapi karena terpaut jarak dan banyaknya orang diantara mereka,Rama gagal memanggil Rara. Lagipula ia sendiri jadi tercenung,karena tindakannya sekarang beda banget sama yang kemarin-kemarin. Ia lebih.. agresif, inisiatif dan lebih berani. Rama agak ga siap dengan perubahan besarnya ini.

Rara makin jauh. Ia sudah berjalan ke arah jalan raya,sedangkan Rama tetap tercenung di tempatnya. Anggi yang dari tadi sebenarnya mengamati segera mendorong bahu Rama.

“Ram, lo ngapain sih bengong gitu. Udah,pilihan lo udah bener kok. Sana kejar!” Seru Anggi.

Rama tergerak dan segera menaiki motornya. Anggi tersenyum puas. Di jalan, susah untuk mencari Rara yang terlanjur jauh. Tapi dari kejauhan Rama bisa melihat kunciran rambutnya Rara yang bergoyang kesana-sini ketika berjalan,dan ia yakin itu memang Rara. Ia pun terus mengejarnya. Ketika sampai dihadapannya, Rara terkejut dan timbullah tanda tanya.

“Mau ngapain Ram?” tanya Rara kemudian.

“Mau ngajak pulang bareng. Boleh ya?” tanya Rama. Ia berusaha menambahkan senyumnya di aksinya.

“Dalam rangka? Kok tumben sih.” Rara bingung.

“Gw mau bersikap jujur sekarang. Maaf ya selama ini gw udah boongin lo.” Rama mengulurkan tangan untuk dijabat,tapi Rara tidak membalasnya.

“Apa sih maksud lo?” tanya Rara, bingung banget.

“Nanti lo juga ngerti,kalo lo rangkai kejadian semingguan yang lalu sampe kemarin kita ribut dan kata-kata yang gw bilang tadi. Oh ya, gw ga pernah suka sama Anggi,jadi gw beneran mohon maaf sama lo.” Rama mengatupkan kedua tangan di depan mukanya yang menunduk. Rara agak mengerti sekarang tapi masih sedikit rumit. Rara tersenyum dan menurunkan katupan tangannya Rama.

“Gw masih ga ngerti,tapi gw maafin lo kok apapun kesalahan yang gw sendiri bingung itu apa. Hm ya udah pulang bareng, jadi kan?” tanyanya.

Rama mengangguk dan tersenyum. Ia kembali menghidupkan motornya. Rara naik dan pulang diantar oleh Rama. Rama ga pernah merasa selega ini. Akhirnya dia bisa jujur dan diam-diam ia berharap tahap ini bisa terus berlanjut.
Read more ...

Saturday, April 10, 2010

KARTU MISTERIUS (karya Rita Asmaraningsih)

Prakata : Kali ini saya posting cerpen karya Rita Asmaraningsih. Ide cerita cukup menarik walaupun sudah klise. Penggunaan bahasa lumayan bagus. Hanya saja di akhir cerita, banyak kalimat yang membingungkan. Misalnya saja :

Sementara, di tempat lain tampak seseorang sedang gelisah. Gelisah mikirin apa reaksiku setelah membaca kartu misterius yang dikirimnya. Dia adalah Aldy. Cowok jenius di kelasku yang bertampang culun banget. Aku suka sebel dan marah-marahin dia. Soalnya aku sebel banget melihat kacamatanya yang minus tujuh. Kayak gimana gitu melihatnya.

Cerpen ini menggunakan tokoh Aku. Dari awal cerpen tokoh Aku yang bercerita, tetapi kenapa dia bisa tahu apa yang dipikirkan Aldy? Bila ingin menggunakan narasi yang menceritakan si Aldy seperti dalam kalimat : Sementara di tempat lain seseorang sedang gelisha. Gelisah memikirkan reaksi ….dst.

Maka jangan menggunakan tokoh aku, tapi gunakan sudut pandang orang lain sebagai narator tapi harus dari awal cerita. Misalnya : tokoh Aku diganti dengan menggunakan nama Susi. Contoh : Pagi yang cerah. Jalanan begitu ramai dipenuhi orang-orang yang berlalu lalang. Seolah-olah ada yang mereka kejar. Kebanyakan dari mereka adalah orang kantoran. Mereka berbaur dengan anak sekolah, bergegas, berpacu dengan waktu agar tidak telat tiba di tujuan. Susi pun berbaur dengan mereka

Yang lebih aneh, di akhir paragraf kembali menggunakan tokoh Aku. Alur kisah juga dipotong secara mendadak. Tahu-tahu saja, tokoh Aku sudah tahu siapa yang mengirim kartu itu. Coba lihat dua paragraf terakhir. Belum selesai bercerita tentang Aldy, mendadak sudah diakhiri dengan kalimat ini :

Oh My God! Aku langsung lemas begitu mendengar cerita si Petty yang sepupunya Aldy. Ternyata cowok yang membuat hatiku berbunga-bunga itu diakah orangnya? Ugh... tiba-tiba aku merasakan sesuatu yang lain dari dalam tubuhku. Aku semakin lemas ...!!!

Saran saya, Rita harus lebih banyak membaca cerpen karya orang lain. Pelajari alur kisah, narasi dan penggambaran emosi para tokoh agar cerpen lebih hidup. Tentu saja, harus banyak berlatih. Banyak membaca dan berlatih, cuma itu kuncinya.

KARTU MISTERIUS

Pagi yang cerah. Jalanan begitu ramai dipenuhi orang-orang yang berlalu lalang. Seolah-olah ada yang mereka kejar. Kebanyakan dari mereka adalah orang kantoran. Mereka berbaur dengan anak sekolah, bergegas, berpacu dengan waktu agar tidak telat tiba di tujuan. Aku pun berbaur dengan mereka. Mengayuh langkah dengan cepat mengejar bis kota. Seperti biasanya, bis kota yang aku tumpangi penuh sesak oleh penumpang. Namun aku tetap enjoy saja menikmati perjalanan menuju sekolah.

Akhirnya, aku tiba di sekolah setelah menempuh perjalanan yang sedikit melelahkan. Kuhapus peluh yang mengucur. Pokoknya, hari ini aku harus bersikap manis dan kalem. Soalnya, aku berulang-tahun nih ceritanya! Jadi, untuk mengenang hari jadiku ini aku ingin merayakannya dengan caraku sendiri. Menjadi anak manis selama satu hari!. Pasti teman-temanku pada mikir, aneh... kok si Ririn yang ceriwis tiba-tiba berubah jadi alim? Pasti mereka penasaran, batinku geli.

"Hei... tumben nih! Pagi-pagi elo udah nongol duluan?" sapa Mona yang menyambutku dengan mimik heran. Dia adalah ketua kelas kami.

"Emang nggak boleh?" balasku sekenanya.

"Bukan begitu. Soalnya, elo kan tukang telat! Tapi, kalo elo udah sadar diri, gue juga senang. Bosen deh gue kena marah Wali Kelas terus gara-gara elo!"

"Jadi, kamu nggak yakin nih sama aku?"

"Nggak tau tuh! Kayaknya gue nggak yakin aja kalo elo bener-bener sadar! Ah... sudahlah! Susah-susah mikirin elo, gue mau nyiapin daftar hadir dulu." Tanpa menunggu jawabanku, si Mona segera berlalu.

"Eh, udah bikin PR Bahasa Inggris belum? Nih... cepetan nyalinnya, ntar nggak keburu udah bel!" sergah Petty, teman sebangku aku, membuyarkan lamunanku tadi tentang Mona.

"Hmmm.... Thanks ya, Pet. Aku tahu kamu memang baik sama aku. Selalu setia nyontekin PR-PRmu sama aku. Tapi kali ini aku sudah bikin kok!"

"Hah?!" seru Petty kaget. Kedua bola matanya membundar tanda tak yakin. "Kamu serius dan nggak mimpi kan? Kok tiba-tiba kamu jadi lain sih?" katanya lagi dengan mimik tidak percaya.

"Memang, hari ini aku beda dengan hari-hari kemaren! Aku nggak mimpi, aku sadar lho Petty! Aku agak lain hari ini karena aku ulang tahun! Masa' kamu lupa?" sungutku pura-pura merajuk.

"Oh My God! Sorry... sorry...! Aku lupa kalo kamu tuh lagi ultah. Tapi, nggak ada kata terlambat kan buat ngucapin selamat ulang tahun? Aku nggak punya kado. Lagi krismon. Malah aku mau nagih, mana makan-makannya?"

Aku langsung mengkeret mendengar tagihannya. Kucubit lengan Petty sehingga dia menjerit-jerit kesakitan. Beberapa teman di kelas menoleh ke arah kami.
Pikir mereka, " Biasa tuh kalo Ririn dan Petty sudah ketemu pasti rame!" Tapi aku nggak mau ngeladenin Petty, kan aku mau jadi anak manis dan kalem seharian.

**

Malam harinya, setelah berkutat dengan buku-buku dan kegiatan sekolah, aku merebahkan tubuhku di atas tempat tidur. Untung lagi nggak ada PR. Aku agak nyantai malam ini. Oh ya, aku teringat sesuatu. Setumpuk kartu ucapan via pos belum kubaca. Kuteliti satu persatu nama pengirimnya. Oh, ternyata dari beberapa teman yang sering aku kirimin kartu pada saat mereka ulang tahun. Aku bermaksud menyimpan kartu-kartu itu ke dalam tas sekolah. Tiba-tiba sesuatu terjatuh dari balik tas. Kuraih benda itu. Hei! Sebuah kartu ucapan beramplop merah jambu. Tidak ada nama pengirimnya kecuali tertera tulisan : dari "ME". Dari siapa ya?

Aku sibuk menerka-nerka siapa yang menyelipkannya ke dalam tasku? Si Petty kah? Ah, nggak mungkin. Anak cuek itu mana peduli pada hal-hal seperti ini. Akhirnya aku membuka amplopnya. Benar saja, sebuah kartu ucapan ulang tahun. Isinya singkat namun tak urung membuat hatiku berbunga-bunga bahagia.

"Selamat ulang tahun, Ririn. Semoga panjang umur dan tambah cantik ya. Dan mudah-mudahan kamu mau menjadi temanku yang istimewa. Mau ya?
Dari aku yang mengagumimu."

Aku tersenyum membacanya. Dari seseorang yang mengagumi aku? Siapakah orang ini? Apa ada ya... orang yang mengagumi cewek ceriwis seperti aku ini? Malam itu aku tak dapat tidur. Selain memikirkan siapa gerangan si pengirim misterius itu, aku juga merasa tersanjung lho...

**

Sementara, di tempat lain tampak seseorang sedang gelisah. Gelisah mikirin apa reaksiku setelah membaca kartu misterius yang dikirimnya. Dia adalah Aldy. Cowok jenius di kelasku yang bertampang culun banget. Aku suka sebel dan marah-marahin dia. Soalnya aku sebel banget melihat kacamatanya yang minus tujuh. Kayak gimana gitu melihatnya.

Oh My God! Aku langsung lemas begitu mendengar cerita si Petty yang sepupunya Aldy. Ternyata cowok yang membuat hatiku berbunga-bunga itu diakah orangnya? Ugh... tiba-tiba aku merasakan sesuatu yang lain dari dalam tubuhku. Aku semakin lemas ...!!!
Read more ...

Friday, April 9, 2010

PACAR PURA-PURA (oleh : FAUZAN)

Prakta : Cerpen yang dikirim oleh Fauzan ini lumayan bagus. Hanya saja, emosi para tokoh kurang dijelaskan. Jadi, kurang greget dan sedikit hambar. Tetapi, dari sisi ide dan gaya bahasa sudah oke. Fauzan mengaku bingung dengan judulnya. Lha? Piye toh, dik? Bikin cerpen kok, bingung judulnya? Ya sudah, gimana kalo saya kasih judul : PACAR PURA-PURA?

Satu hal lagi, endingnya nggak mantap. Masa, cuma segitu aja? Mestinya dibuat lebih menggigigt. Ditambahin dengan narasi yang lebih keren. Tapi, untuk pemula okelah. Nilai 7 sih dapat. Sering berlatih dan membaca cerpen karya orang lain aja ya?


Jalanan masih basah bekas guyuran hujan. Hujan sejak jam 3 sore tadi memang terhitung yang paling besar di penghujung musim. Udara dingin membuat pengendara motor di senja ini memperlambat kecepatannya.

Aku masih duduk sabar menunggu pesanan nasi telur tempe terong bakarku diantar. Menu favoritku di warung makan Holliwood di Jakal KM 0, seberang Kopma UGM. Kali ini aku hanya sendiri. Biasanya rombongan dengan teman-temanku. Untung bukan malam minggu, jadi aku tidak perlu terlalu khawatir. Dan juga malam ini sepertinya pelanggan lagi sepi, tidak seperti malam-malam biasanya. Mungkin karena baru hujan.

Pesanan teh hangatku lebih dulu datang bersama air pencuci tangan. Kebetulan, aku sudah sangat haus. Langsung kuteguk teh yang masih hangat itu sambil merapatkan kedua permukaan telapak tanganku ke dinding gelas kaca supaya badan lebih hangat.

Tidak lama berselang, sebuah sepeda motor matic berwarna merah parkir di samping motorku. Pengendaranya wanita yang belakangan kuketahui berwajah cantik setelah dia membuka helm. Rambutnya sebahu dengan poni ke arah samping kanan menutupi keningnya. Aku hanya memperhatikannya sekilas, tapi jelas kelihatan sepertinya dia sedang gelisah. Gerakannya buru-buru, dan sedari tadi sibuk dengan Blackberry nya.

Aku kaget. Dia duduk hampir di seberang tempat dudukku setelah memesan makanan. Satu meja. Dia di seberang sebelah kanan. Aku sedikit canggung. Sesekali aku merasa dia memperhatikanku. Mungkin hanya perasaanku.

Tidak. Itu bukan cuma perasaanku saja. Dia memandangiku lama saat aku tak sengaja melihat ke arahnya. Aku makin canggung. 'Ada apa dengan mukaku?'.

Beberapa kali aku rapikan rambut sambil memalingkan wajah ke belakang, barangkali ada yang salah. Tapi wanita cantik itu masih sesekali menatapku lama. 'Apa aku mirip temannya?'.
Aku tidak peduli. Aku mulai menyantap hidangan yang sudah tersedia di depanku dari tadi. Nasi yang pulen dan rasa bakaran telor tempe terong yang khas membuat cara makanku mungkin terkesan brutal. Ditambah perutku yang sedari siang belum diisi. Biasanya aku akan menambah satu piring nasi setelah nasiku habis. 'Tapi apa ada yang salah denganku?'

Wanita itu masih memandangiku dari seberang meja. Meski dengan sungkan, tapi sangat jelas dari tadi dia memperhatikanku.

Rasa penasaranku tidak bisa ditahan lagi.

"Ada apa ya, mbak?" tanyaku.

Wanita itu hanya diam. Matanya kosong menatap entah apa yang ada di belakangku.

"Mbak?"

"Kamu mau jadi pacarku?"
...
Malam ini mungkin malam terberat dalam hidupku. Aku akan makan malam di sebuah restoran mewah bersama seorang pengusaha kaya, kakek dari wanita yang minggu lalu tiba-tiba memintaku menjadi pacarnya, padahal kami belum pernah bertemu apalagi berkenalan, dan aku hanya bisa menjawab, "Mau!".

Aku bergegas. Kukenakan kemeja dan celana bahan yang tempo hari dibelikan Winda Permana, begitu namanya. Mirip nama dokter gigi yang sering kukunjungi.
Bukan hanya namanya yang sudah kuketahui. Aku juga tahu dia lulusan Psikologi UGM tahun 2003, mempunyai kucing cantik bernama Mello, penyuka warna biru dan kopi mocca dengan sedikit gula, pintar main catur, hobi berenang, dan cantik.

Tapi yang sampai sekarang membuatku bingung adalah, kenapa saat itu dia tiba-tiba memintaku jadi pacarnya, padahal kami belum pernah bertemu sebelumnya, apalagi berkenalan.

Kulirik jam tangan yang juga aku dapat dari Winda. Sudah pukul 17.34 WIB. Aku harus cepat-cepat berangkat. Sebelum jam 6 malam aku harus sudah sampai di restoran, begitu pesan Winda. Dan paling tidak aku harus berangkat 15 menit sebelumnya.

Kumatikan lampu kamar kosku dan bergegas menuju mobil yang kuparkir di pinggir jalan depan kosku. Sebuah mobil sedan, yang lagi-lagi dari Winda. Hanya dipinjamkan.
...
"Makasih ya, Ndra. Kamu sudah bantu aku kemarin. Ini!"
Sebuah amplop putih lumayan tebal dia sodorkan di atas meja ke arahku. Segera aku ambil dan kumasukkan ke dalam tas.

Kuhirup sedikit kopi yang masih tersisa di gelasku.

Kami hanya di kedai kopi biasa. Dua hari setelah aku berkenalan dengan kakeknya yang sangat ramah dan mulai akrab denganku.

"Maaf ya, jika kemaren aktingku jelek." kataku sambil menggaruk-garuk kepala.

"Nggak apa-apa. Akting yang buruk, datang terlambat, badan mobil yang lecet, semuanya sudah aku potongkan di honor kamu itu." jawab Winda dengan tertawa kecil.

"Hah? Kamu curang. Itu nggak ada dalam perjanjian kita."

"Tapi yang kamu lakukan itu juga nggak ada dalam rencana kita, kan? Siapa suruh pakai mobil. Sudah kubilang, kan, aku aja yang jemput. Baru belajar nyetir 5 hari aja berani banget bawa mobil sendiri."

"Tapi kan aku berhasil mencuri hati kakek kamu, dan sekarang kamu nggak jadi dijodohin dengan anak temennya semasa muda dulu."

"Hahaha... Iya iya, aku cuma bercanda kok. Nggak aku potong."

Kami berdua tertawa lepas. Aku merasa lebih akrab dengannya. Mungkin dia juga.
"By the way. Kontrakku diperpanjang, dong? Kan kakek kamu ngajakin aku main catur ke rumahnya besok sore. Dan Lusa, dia minta aku menemaninya keliling Jogja naik sepeda motor. Bagaimana?"
"..."
...

Malam ini mungkin malam terberat dalam hidupku. Aku akan makan malam di rumah sederhananya bersama ibu, ayah, dan adiknya yang paling kecil.

Aku bergegas. Kukenakan baju batik sederhana yang tempo hari dibelikan Chandra Hamid, begitu namanya. Mirip nama salah satu ketua KPK.

Bukan hanya namanya yang sudah kuketahui dalam dua bulan ini. Aku juga tahu dia hanya lulusan SMK, mempunyai burung nuri kesayangan bernama Nuri, penyuka warna coklat dan teh dengan dua sendok gula, pintar main gitar, hobi tidur, dan tampan. Yang terakhir adalah salah satu alasan kenapa 3 bulan sebelumnya tanpa pikir panjang aku tembak dia di sebuah warung makan pinggir jalan. Meskipun sebenarnya aku hanya ingin minta bantuannya untuk berpura-pura jadi pacarku di hadapan kakekku, setidaknya aku pikir dia meyakinkan.

Tapi yang sampai sekarang membuatku bingung adalah, kenapa saat kutembak dia dulu, dia langsung menjawab "Mau!", Padahal kami belum pernah bertemu sebelumnya, apalagi berkenalan.

Kebingungan yang saat kutanyakan kepadanya, dia hanya balik bertanya, "Kenapa saat aku mengembalikan amplop itu lagi ke kamu di kedai kopi 2 bulan yang lalu, dan aku nembak kamu, kamu langsung menjawab 'mau!'?"
"..."

TAMAT
Read more ...

Wednesday, March 31, 2010

April Mop Terindah (karya Wulan Sari)

Prakata : Cerpen ini adalah karya WULAN SARI. Good! Cerpennya cukup menarik. Pas banget kalau dikirim ke majalah remaja. Hanya saja, terlalu banyak kata-kata yang disingkat seperti : Sebentar jadi Bentar. Elo jadi lo.

Memang sih untuk kategori cerpen remaja, sah-sah aja memakai kata-kata yang disingkat seperti itu. Tetapi, berdasarkan pengalaman, kata-kata yang terlalu disingkat seperti itu sering diedit oleh Editor. So, sebaiknya jangan menggunakan kata-kata yang disingkat terlalu banyak. Kamu tentunya nggak mau cerpenmu ditolak hanya karena Editornya pusing harus merevisi kata-kata yang disingkat itu, kan?

“TOMMY!!!!” teriak Luna dari depan pintu kelas. Yang dipanggil sedang duduk di bangkunya, membaca buku. Pura-pura tak mendengar panggilan Luna. Karena merasa tak digubris, Luna pun menghampiri sang cowok.

“Eh, orang gila. Nggak denger gue manggil lo apa?” serbu Luna sambil menggebrak meja Tommy. Wajahnya penuh emosi.

Tommy menaruh bukunya ke atas meja, lalu menoleh dan membalas tatapan Luna dengan super cool, “Nape, non?”

“Nape?! Nape kata lo?! Lo nggak tau salah lo apa?!” Suara Luna kian meninggi. Anak-anak lain menoleh, tertarik untuk melihat pertengkaran yang sebenarnya sudah biasa terjadi.

“Ups, sabar, non. Ntar klo marah-marah terus cepet tua, lho” kata Tommy sambil nyengir.

“Aaargh!” teriak Luna frustasi sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal. “Lo ngibulin gue lagi, nyadar nggak sih?!”

Tommy menyilangkan tangannya di dada. “Ngibulin lo? Kapan ya?”

“Ih, nggak usah sok innocent gitu deh!” kata Luna sebal. “Lo bilang gue dipanggil Kepsek, kan? Lo bilang kepsek mau ngomongin soal nilai gue yang ancur, kan?”

“Aha!” Tommy menjentikkan jarinya, seolah-olah baru teringat sesuatu. Lalu dia berkata serius, “Ehm, gini. Bagian yang nilai lo ancur, gue nggak ngibul. Emang nilai lo ancur, kan? Trus...” Tommy menatap Luna yang matanya sudah hampir copot karena melotot.

“Trus klo yang bagian lo dipanggil kepsek, yah, anggap aja hari ini April mop” kata Tommy dengan santai.

Kemarahan Luna sudah sampai di ubun-ubun. “APRIL MOP MASIH SEBULAN LAGI, GILA!!!” teriak Luna geram sambil menjitak kepala Tommy.

“Ouch!”

Adegan diatas sebenarnya sudah sangat sering terjadi. Tommy dan Luna. Sekolah di sekolah yang sama, kelas yang sama, dan duduknya pun sebangku. Sejak kelas satu hingga kini mereka telah menduduki bangku kelas dua. Biasanya dan seharusnya, hampir dua tahun duduk sebangku akan membuat kedua anak itu bersahabat. Namun apa daya, yang terjadi justru melihat mereka bertengkar, hampir tiap hari. Yang laki-laki sangat suka menjahili yang perempuan. Yang perempuan, parahnya selalu terjerat dalam kejahilan si laki-laki. Dasar emang jodoh, begitu kata teman-teman si perempuan, yang k sama sekali tidak membuatnya lebih happy.

“Awas ya lo, gue pastiin gue akan bales perbuatan lo tadi” kata Luna penuh dendam ketika mereka berdua sedang berjalan menuju gerbang sekolah untuk pulang.

“Gue tunggu, non. Tapi gue nggak yakin lo bakal berhasil” balas Tommy.

“Jangan ngeremehin cewek, Tom” Luna yakin banget, suatu saat dia pasti bisa membalas perbuatan Tommy.

Tommy menggeleng. “Gue nggak pernah ngeremehin cewek. Masalahnya, cewek yang di depan gue ini gampang banget dikibulin dan nggak pernah berhasil ngibulin orang! Hahaha..”

Ugh, Luna semakin gondok. Mau nggak mau dia mengakui dalam hati kalau apa yang dibilang Tommy itu benar.

Sampai malam pun Luna masih merasa kesal. Malah sampai nggak bisa tidur, gara-gara memikirkan strategi untuk membalas Tommy. Ketika pada akhirnya dia menyerah karena tak berhasil menemukan ide cemerlang, dia mengambil handphone-nya dan mengirim sms pada sahabatnya, Pita.

Pit, gw msh sebel bgt sm si Tommy. Kira2 gmn y pit, biar gw bs bales tu anak? Gw ga bs tdr gara2 mikirin ini.

Dibalas oleh Pita :

Yaelah, bknnya lo udh biasa sm kibulannya? Klo lo nyuruh gw ngasih ide ke lo, sori bgt luna, gw ga ad ide...Btw, masak sih smpe ga bs tdr gara2 kepikiran trus? Jgn2...

Gemas, Luna membalas :

Ih, Pita! Jgn-jgn apa coba? Gw lg kesel ni, lg benci bgt ama tu org.

Balasan dari Pita :

Lo mw tw kelanjutanny? Jgn2...lo diem2 naksir Tommy lg! Benci sm cinta itu tipis bgt lun..., hehehe :p

Luna mendelik. Dipencetnya keypad hape.

Gila lo! Gw ga segitu gila kali, smpe mw naksir ama org itu. Kyk ga ad cow lain apa?

Pita sepertinya nggak peduli dengan kejengkelan Luna.

Emg ga ada cow laen kali! Lo kan maenny sm Tommy trs, mana smpt ngelirik cow laen~

Gregetan, Luna membalas :

Idih, maen?! Yg bener aja deh lo. Yg ada dia ngajakin gw berantem mulu kali.
Udah ah! Gw mw bobo dlu. Lo malah bikin gw tambah kesel aja.

Pita malah makin senang meledeknya.

Hehe, oke deh darl. Jgn lupa mimpiin Tommy ya...hehehe :p

Sial, batin Luna. Dia memutuskan untuk tidak membalas sms Pita. Kenapa sih, kok semuanya kayak seneng banget ngejodohin gw sama Tommy? Pada nggak tau apa, gimana si Tommy selalu ngerjain gw?
Si Tommy selalu ngerjain lo biar dia diperhatiin sama lo. Masak gitu aja lo ga nyadar?
Pita pernah ngomong gitu ke gue. Gimana kalo ternyata Pita bener? Gimana kalo ternyata Tommy beneran suka sama gue? Gimana kalo tiba-tiba dia nembak gue? Luna menghela napas lalu menggelengkan kepalanya dengan keras. Nggak mungkin, nggak mungkin banget. Tapi...kalo mau dipikir-pikir lagi...si Tommy ganteng juga, kok. Tubuhnya tinggi dan atletis, kulitnya putih, hidungnya mancung, bulu matanya lentik...

Plak! Luna menampar dirinya sendiri. Gila, gue barusan ngebayangin apaan sih? katanya dalam hati. Akhirnya, Luna pun tertidur dengan seribu pertanyaan dan jantung yang berdegup dengan kencang.
***
“Bro, ngapain senyum-senyum sendiri?” tanya Bagus pada orang yang tengah duduk disampingnya. Mereka berdua sedang berada di kantin saat jam istirahat.

“Hehe, nggak kenapa-kenapa, kok” jawab Tommy sambil menyeruput es jeruknya.

“Alah, paling lo lagi mikir buat ngerjain si Luna lagi, kan?” tebak Bagus.

“Tau aja lo” Tommy nyengir lebar. “Gue lagi nyusun strategi nih” lanjutnya.

“Strategi apaan?” tanya Bagus penasaran.

Tommy tersenyum penuh makna. “Sini, gue jelasin ke lo.”
***
Sudah dua minggu ini Luna memikirkan hal yang sama. Memikirkan kemungkinan kalau Tommy naksir padanya. Saat pelajaran berlangsung pun, Luna mendapati dirinya sedang memikirkan hal itu sambil menatap wajah Tommy yang duduk disebelahnya. Sampai tak sadar kalau Tommy telah menyadari dirinya sedang ditatap oleh Luna. Bahkan juga tak sadar kalau pelajaran telah usai.

“Oi, ngapain lo ngeliatin gue kayak gitu? Belom pernah liat orang seganteng gue ya?” kata Tommy seraya mengibaskan tangannya di depan wajah Luna.

Seperti orang yang baru dibangunkan dari mimpinya, Luna membalas dengan gelagapan, “Eh? Apa?” katanya, lalu kepalanya melihat ke depan kelas. “Lho, Bu Rita udah cabut ya? Biologi udah selesai?”

Tommy mengernyitkan dahinya. “Udah dari tadi kali. Lo tadi ngelamun?”

“Idih, siapa juga yang ngelamun” jawab Luna, ngeles. Dia segera memalingkan mukanya dari Tommy.

Tommy menaikkan alisnya sebelah, heran dengan kelakuan Luna. Ini anak salah makan apa, ya? batinnya.
“By the way,” kata Luna membuka pembicaraan baru seraya membereskan alat tulisnya,

“Belakangan ini lo kok jarang ngerjain gue lagi? Tumben banget.”

“Hehe, lo kangen ya, dikerjain sama gue?” kata Tommy cengengesan.

Luna langsung melotot. “Kangen? Dalem mimpi lo aja kali. Gue sangat sangat bahagia kalo lo
nggak ngerjain gue,” kata Luna dengan mimik muka sok serius.

“Bilang kangen juga nggak apa-apa kok” balas Tommy, masih dengan cengiran lebarnya.

Luna mendengus. “Lo belom jawab pertanyaan gue tadi. Jadi, ada apa dengan lo sampe lo nggak ngerjain gue lagi? Gue curiga ada udang di balik batu.”

“Wah, kalo ada udang di balik batu gue mau dong. Gue kan suka banget tuh sama...” Tommy tak jadi melanjutkan kata-katanya, ketika dilihatnya ekspresi marah di wajah Luna. “Hmm, taking a break bentar nggak salah, kan? Ngerjain lo tuh butuh mikir tau, jadi butuh tenaga ekstra juga.”

“Ngaco lo” komentar Luna. Taking a break katanya? Huh, sok banget. Begitu kata Luna dalam hati. Namun, jauh di dalam hatinya, dia mengakui kalau dia memang kangen dengan kejahilan Tommy padanya.
***
And so, April Fools is here. Luna pun sudah menyiapkan mental, karena hari ini sudah bisa dipastikan Tommy akan meluncurkan serangannya.

“Waspada. Gue musti waspada. Beberapa minggu nggak ngerjain gue, jangan-jangan si Tommy udah menyusun rencana besar buat ngerjain gue hari ini” Luna berbicara pada dirinya sendiri saat dia memasuki kelasnya.

“Pagi, darling, ” sapa Pita dengan senyuman ketika Luna melewati bangkunya.

Luna tersenyum, “Pagi, Pit.”

“Siap-siap ya malem ini,” kata Pita. Ekspresinya penuh makna sampai-sampai Luna tak mengerti maksudnya.

“Siap-siap buat apa, Pit?” tanya Luna heran.

“Ada deh.” Pita mengedipkan satu matanya.

“Apaan, sih? Pagi-pagi udah bikin gue penasaran aja.” desak Luna. Dia benar-benar penasaran dengan maksud kata-kata Pita.

“Udah, ntar lo juga bakalan tau. Duduk gih, bel udah bunyi tuh. Pak Bayu bakal masuk bentar lagi.”

Luna sebenarnya masih ingin bertanya pada Pita, tapi keadaannya tak memungkinkan.. Dia pun berjalan ke bangkunya, lalu duduk sambil meletakkan tasnya. Hm, apa ya kira-kira? tanya Luna dalam hati. Tapi gue kan nggak ultah hari ini. Gue juga nggak punya sesuatu hal yang perlu dirayain. Jadi maksud Pita apaan dong? Luna menjadi pusing memikirkan pertanyaan yang tak bisa dijawabnya. Dia melihat sekilas ke teman sebangkunya, yang kemudian membalasnya dengan senyuman. Deg! Jantung Luna langsung berdegup kencang saat melihat senyuman Tommy.
***
Hari pun berganti malam. Waktu menunjukkan pukul delapan malam. Sepanjang hari di sekolah tadi, Luna tak mendapati satu pun kejahilan Tommy. Aneh, aneh banget. Apa tu anak sakit ya? Luna bertanya-tanya dalam hati.

Ting Tong! Bel rumah Luna berbunyi. Aduh, siapa juga yang dateng ke rumah malam-malam? gerutu Luna dalam hati. Namun, dia terpaksa harus membuka pintu, karena rumah Luna tak memiliki pembantu, dan orang tua Luna sedang pergi ke suatu acara. Luna pun beranjak dari kamarnya dan berjalan ke pintu utama. Betapa terkejutnya dia mendapati seseorang bertuxedo putih berdiri di depan pintu sambil membawa sebuah buket bunga.

“Tommy?” kata Luna. Mulutnya menganga lebar, saking shock-nya.
Tommy nyengir. “Iya, ini gue. Rasanya, muka gue masih begini-begini juga deh dari gue lahir.”
“Lo nggak salah rumah, kan? Gue nggak ngadain pesta disini. Lo pake dandan rapi lagi. Lo beneran nggak nyasar, kan?” cerocos Luna.

“Aduh non, gue nggak salah rumah kali” jawab Tommy.

“Lha, terus, ngapain lo pake baju gitu sampe bawa bunga segala?”

Wajah Tommy bersemu merah. “Ehm, itu, gue mau bilang...” Tommy menarik nafas panjang sebelum bilang, “Gue suka sama lo, Lun. Lo mau nggak jadi pacar gue?”

“HAH?!” Bisa dibayangkan, bagaimana kagetnya Luna saat ini. Wajahnya memancarkan ekspresi tak percaya pada Tommy.

“Lo butuh gue ngulang kata-kata gue tadi?” tanya Tommy.

“Nggak, nggak usah. Gue udah nangkep” balas Luna. Lalu pikirannya mulai kembali ke jalan yang benar. Dilihatnya Tommy dengan tatapan curiga. “Tunggu dulu. Ini April Mop, kan? Lo cuma mau ngibulin gue, kan?”

“Ya ampun, gue nggak dandan segini niat kali, cuma buat ngibulin lo. Lo boleh tanya Pita deh, gue konsultasi ke dia dulu sebelum kesini” kata Tommy.

“Hah? Pita?” tanya Luna. Otaknya berpikir. Olala, jadi ini yang dimaksud Pita tadi pagi. Luna pun berpaling dan menatap mata Tommy. “Lo serius?”

“Iya, Luna” jawab Tommy, ditambah dengan sebuah anggukan.

“Lo beneran serius?” tanya Luna lagi.

“Dua rius, deh Lun” balas Tommy lagi. Ada sedikit nada putus asa dalam kata-katanya.

“Salah siapa coba, suka ngibulin gue, suka ngejahilin gue. Gue kan jadi nggak tau kapan lo serius, kapan lo nggak ngerjain gue. Dan lagi, ngapain juga lo nembak gue di hari April Mop? Kan tambah bikin gue curiga aja” jelas Luna.

“Iya deh, gue minta maaf” kata Tommy menyesal. “Gue nggak bakalan lagi ngibulin ato ngerjain lo. Tapi gue beneran suka sama lo, Lun” lanjut Tommy. Lalu ditatapnya wajah cantik Luna. “Jadi, jawabannya, non?”

“Gue boleh sekali-sekali ngibulin lo nggak?” tanya Luna. Dia mulai salah tingkah di depan Tommy.

Tommy nyengir. “Lo nggak ada bakat tau.”

“Gue juga tau, kok” Luna memasang tampang cemberut. Namun cemberutnya seketika berubah menjadi senyuman. “Jawabannya iya.”

Senyum bahagia tergambar di wajah Tommy. Maka, sejak hari ini, tak ada lagi Tommy dan Luna yang selalu bertengkar. Dan hari ini pun menjadi April Mop terindah untuk mereka berdua.
Read more ...

Thursday, March 25, 2010

Kebencian yang Salah (karya MONIKA)

Prakata : Cerpen karya MONIKA ini. Setelah saya baca, ternyata banyak sekali yang harus diperbaiki terutama dari sisi penggunaan kalimat. Berikut adalah beberapa hal yang harus diperbaiki :

- penggunaan awalan. Kata Di sana harus ada spasi. Jangan digabung menjadi Disana.
- Dengan nafas tersengal-sengal setelah berlari sekitar 3 km dari rumahku, aku menyapa teman-temanku tetap dengan senyumanku.

Kata ‘Tetap’ dihilangkan saja. Bila digunakan bisa menimbulkan arti seakan-akan tokoh AKU sudah tersenyum sebelumnya.

Kata ‘KU’ sebaiknya juga dihilangkan. Kalau digunakan, akan terlalu banyak kata KU.
Maka kalimatnya saya ganti menjadi : Dengan nafas tersengal-sengal setelah berlari sekitar 3 km dari rumahku, aku menyapa teman-temanku dengan senyuman

- Kalimat : Mataku segera memandang sekeliling kelas lalu langsung menuju ke luar kelas menengok ke kanan ke kiri dan terus memasang mataku untuk melihat sekeliling, karena kini aku sedang rindu dengan seseorang. Terdapat pengulangan kalimat yang tidak perlu. Sudah disebutkan bahwa si tokoh Aku memasang matanya melihat sekeliling kelas, jangan diulang dengan menyebutkan “memasang mataku untuk melihat sekeliling.

Sudah saya revisi menjadi : Mataku langsung memandang ke sekeliling kelas mencari-cari seseorang yang sedang kurindukan.

- maka segeralah ku berlari untuk mencium tangannya, membawakan tasnya dan
memberikan senyumanku yang khusus kupersembahkan untuknya.
“ Selamat pagi, Kak !!!” sapaku lengkap dengan senyumanku

Di alinea sebelumnya sudah disebutkan bahwa tokoh Aku memberikan senyuman khusus,
Tetapi pada alinea berikut masih disebutkan :
…., sapaku lengkap dengan senyumanku.

Seharusnya cukup disebutkan satu kali saja. Kalimat itu saya rubah menjadi :
maka segeralah aku berlari untuk mencium tangannya, membawakan tasnya dan
memberikan senyuman yang khusus kupersembahkan untuknya.
“ Selamat pagi, Kak !!!” sapaku.

Sebenarnya masih banyak kalimat yang harus diperbaik tetapi saya tidak mungkin mencantumkan semua revisinya di sini. Silakan membandingkannya sendiri cerpenmu yang saya posting di blog ini dengan naskah awal. Kamu bisa melihat kalimat-kalimat mana saja yang saya perbaiki.

- Alur kisah seringkali tidak jelas. Seperti pada akhir kisah, disebutkan bahwa surat yang diberikan oleh Sinta adalah surat palsu. Apakah itu berarti surat itu dibuat oleh Sinta, bukan oleh Rio? Atau..suratnya memang ditulis oleh Rio tetapi isinya tidak benar. Saya lebih memilih yang terakhir, maka kalimatnya saya ganti karena jika memilih yang pertama, kalimatnya tidak sesuai.


Langkah kakiku terus mantap berlari menuju bangunan itu, yang lebih tepatnya bisa disebut gubuk. Bangunan kecil yang terbuat dari kayu-kayu jati itu adalah tempat yang paling bisa membuatku semangat menjalani hidup. Di sana sudah tampak teman-temanku yang tengah asyik bermain dan mengobrol. Aku dan teman-temanku tinggal di daerah pedalaman Papua tetapi tidak terpencil sekali dari keramaian ibu kota Irian Jaya. Hanya saja sekolah di daerah kami benar-benar langka. Sekolah Menengah Atas Wori 45 adalah satu-satunya SMA yang ada di daerah kami. Dan tempat itulah yang kini aku datangi.

Dengan nafas tersengal-sengal setelah berlari sekitar 3 km dari rumahku, aku menyapa teman-temanku dengan senyuman. Segera, aku masuk ke kelas dan meletakkan tas selendangku yang berwarna biru tua ke atas meja. Mataku langsung memandang ke sekeliling kelas mencari-cari seseorang yang sedang kurindukan. Seseorang yang selama ini kuanggap sebagai sosok yang lembut, baik dan pintar. Benar-benar sosok yang aku idam-idamkan.

Dari kejauhan akhirnya aku melihat sosok itu. Pria tegap dengan tas gendong dipunggungnya, lalu rambutnya yang cepak bak tentara yang baru pulang dari perang sungguh-sungguh menunjukkan karismanya. Hatiku berdegup kencang. Benar-benar pemandangan yang kunanti-nanti setelah libur Natal dan Tahun baru yang cukup lama. Kuyakinkan diriku untuk menghampirinya, maka segeralah aku berlari untuk mencium tangannya, membawakan tasnya dan memberikan senyuman yang khusus kupersembahkan untuknya.

“ Selamat pagi, Kak !!!” sapaku.

“ Selamat pagi, Leta! ” Balasnya menyapaku dengan senyumnya yang meluluhkan hatiku.

“ Saya bawakan tasnya ya, Kak.” Ucapku menawarkan diri.

“ Ah, tidak usah repot-repot. Kamu bawakan buku ini saja. Tas kakak terlalu berat kalau kamu yang bawa. Oke?” Katanya sambil memberikan 3 buah buku tebal berwarna-warni kepadaku.
Bel yang terbuat dari bamboo dipukulkan oleh Pak Jose, pembersih SMA Wori 45 tepat saat waktu menunjukkan pukul 07.00, tanda pelajaran dimulai. Semua anak masuk ke kelas dan memulai pelajaran. Kakak Rio, mahasiswa dari kota Jakarta yang menjadi pengajar sukarelawan di sekolah ku ini memasuki kelas dan dengan ramah menanyakan kabar murid-muridnya. Dialah lelaki tegap yang tadi pagi aku tunggu-tunggu dan kubawakan bukunya. Satu hal yang
membuatku kagum padanya adalah sikapnya yang lembut dan perhatian terhadap semua orang. Dan di hari ke-180 aku mengenalnya, tekadku sudah bulat untuk mengungkapkan semua yang kurasakan padanya. Rasa sayang yang tak dapat kubendung lagi. Rasa cinta yang tak bisa
kupendam lagi. Dan, sepulang sekolah nanti adalah saatnya.

Detik-detik sebelum bel tanda pulang dibunyikan, tiba-tiba saja keringat dingin mengucur deras dari pori-pori tubuhku. Jantungku berdetak cepat sekali. Pak Jose pun memukul bamboo untuk memberitahu sudah saatnya untuk pulang. Semua anak langsung keluar kelas dan dalam waktu beberapa menit sekolah sudah sepi. Tinggal aku berdiri di dekat pintu kelas menunggu Kak Rio keluar dari kelas.

“Leta?? Kenapa kamu belum pulang ?” Tanya Kak Rio membangunkanku dari lamunan.

“Ah, Kak Rio. Eee…eee….itu…mmm… aku…ehh, apa ya ?” Jawabku terbata-bata karena sangat gugup.

“Kenapa Leta ? Kamu sakit? Badan kamu penuh keringat, kamu kecapean?” tanyanya bingung sambil meletakkan tangannya ke dahiku.

“Ah, bukan. Aku ingin… bicara sebentar sama Kakak.” Ucapku sambil menunduk, tidak berani melihat wajahnya.

“Oh, ya sudah. Bicara saja. Ada apa?” tanyanya sambil tersenyum lembut.

“Kak, maaf …kalau aku lancang, tapi… aku…aku…suka sama Kakak. Aku cinta banget sama Kakak. Apa Kakak mau menerima cintaku?”

Akhirnya, seluruh beban mengganduli hatiku terangkat semuanya dalam sekejap. Badanku seperti benar-benar ringan dan siap terbang. Semua perasaan yang aku simpan selama setengah tahun ini, keluar semuanya. Kini aku hanya bisa tertunduk malu, menunggu jawaban darinya.
“Oh, jadi itu yang mau kamu katakan ? Mmmm….Untuk sekarang…kita jalani saja ya. Sekarang ayo, Kakak antar pulang.” Jawabnya ringan.

Aku hanya bisa menatapnya dengan wajah bingung, jadi sebenarnya apa jawaban pasti darinya? Apakah cintaku diterima? Atau ditolak? Apa arti kata ‘kita jalani dulu’? Sungguh tidak karuan perasaanku kini. Sepanjang perjalanan pulang, tangannya terus menggenggam tanganku, senyumnya terus ia tunjukkan padaku. Jadi, apakah kata itu artinya cintaku diterima? Yes!! Tak kusangka, benar-benar saat itu rasanya aku ingin melompat tinggi-tinggi dan berteriak sekencang-kencangnya.

Akhirnya, sampailah kami didepan rumahku. Terlihat dari depan tidak ada siapa-siapa dirumah. Tiba-tiba saja, tangannya memegang kepalaku, mendekatkan wajahku ke dadanya dan ia pun mendaratkan ciuman yang penuh dengan kelembutan ke dahiku. Ia berkata :

“Sampai jumpa besok pagi ya, gadis manis.”

Oh, Tuhan!! Betapa dahsyatnya kuasa-Mu. Aku langsung berlari masuk ke rumah, terus menuju kamarku yang hanya terbuat dari anyaman bambu yang atapnya masih mempersilahkan seberkas cahaya masuk. Aku langsung melihat diriku di kaca, kupegang pelan-pelan dahiku dan kembali kubayangkan saat dimana Kak Rio, lelaki yang aku idam-idamkan selama ini mencium dahiku. Ah, serasa berada di dunia mimpi. Tanpa ganti baju, aku membaringkan tubuh ke kasur dan kupejamkan mata sambil terus membayangkan apa yang akan terjadi besok. Hmm…hari-hariku akan menjadi lebih indah pastinya.

Dua hari telah berlalu sejak kejadian membahagiakan itu. Selama seminggu itu pun aku pulang diantar oleh Kak Rio. Hari ini aku berangkat pagi-pagi sekali, karena aku memang bertugas membersihkan kelas hari ini. Saat aku sedang menghapus papan tulis, Teresa dan Puan masuk ke kelas sambil membicarakan sesuatu dan aku dengar mereka menyebut nama Kak Rio. Segera saat itu juga aku bertanya pada mereka, apa yang sebenarnya sedang mereka bicarakan.
“Ah, kebetulan ada kamu Let.” Ucap Teresa antusias melihatku.

“Iya, benar. Sini kita ceritain. Kebetulan kamu deket kan sama Kak Rio?” Tanya Puan dengan nada berbisik.

“Iya, emang kenapa ?” tanyaku semakin penasaran.

“Bapakku kemarin pergi ke ibu kota untuk mencari sembako selama sebulan. Kebetulan ia juga membeli koran. Sekedar buat nambah bacaan.” Kata Puan memulai cerita.

“Nah, di koran itu ada berita yang berjudul MAHASISWA BENTROK DENGAN POLISI, dan Puan melihat ada nama Kak Rio di daftar nama mahasiswa yang sedang dicari polisi karena dicurigai sebagai dalang kerusuhan.” Lanjut Teresa dengan suara yang keras tanpa menyadari
beberapa anak sudah masuk ke kelas dan mendengar ucapannya. Seketika itu juga anak-anak lain langsung mngerumuni mereka berdua, mencari tahu berita yang menyangkut Kak Rio.
Sedangkan aku hanya terdiam, menenangkan hatiku yang berkecamuk. Sungguh tak menyangka Kak Rio yang lembut bisa menjadi dalang kerusuhan. Karena tidak percaya, aku pun langsung berteriak :

“Itu FITNAH !!! Mereka pasti salah. Polisi itu hanya menduga-duga. Itu tidak benar !!”
Kulemparkan penghapus papan tulis ke lantai dan langsung berlari keluar kelas. Pandanganku mulai kabur oleh air mata. Anak-anak hanya terbengong-bengong melihat tingkahku.

Air mataku terus mengalir hingga akhirnya kurasakan ada tangan yang mengusap-usap kepalaku. Terdengarlah suara lembut seorang wanita. Saat aku membuka mata, kulihat seorang wanita yang cantik sekali. Wajahnya bagai bidadari yang baru turun dari langit.

“Kenapa kamu menangis ?” Tanya wanita itu.

“Siapa kamu?” tanyaku dengan nada sesenggukan menahan tangis.

“Oh, maafkan saya. Perkenalkan, nama saya Sinta. Panggil saja Mbak Sinta. Saya kemari sebagai guru pengganti Kak Rio. Saya sahabat dekat Rio. Mmm…kamu Leta, bukan?” Tanyanya lembut.
“Betul. Saya Leta. Kok, mbak tahu nama saya ?” tanyaku penasaran.

“Oh, jadi kamu yang namanya Leta. Kebetulan, Rio menitipkan surat ini ke mbak. Dia minta saya memberikan surat ini kepada murid yang bernama Leta.” Jawabnya dengan wajah yang mendadak muram. Tidak ada senyum seperti awal bertemu tadi.

“Terima kasih, mbak.” Jawabku dengan senyum hambar.

Perasaanku makin tidak karuan. Sebenarnya apa yang terjadi? Ada apa dengan Kak Rio? Pertama aku mendengar berita tidak menyenangkan tentang dirinya dan sekarang tiba-tiba saja muncul guru pengganti Kak Rio. Ia hanya memberikan surat dan tidak diberikan langsung kepadaku. Setiap melihat diriku mbak Sinta juga berubah menjadi muram. Dimana kamu, Kak Rio ? Kenapa kamu jahat sekali meninggalkan aku?. Apakah cinta yang kamu berikan itu hanya sekedar barang bekas yang dengan mudahnya kamu berikan dan kamu tinggalkan? Kak Rio benar-benar jahat !!! Aku benci Kak Rio !!!

Sepulang sekolah, aku segera pulang dan mengunci diri dikamar. Aku tidak ingin diganggu sama sekali karena aku ingin membaca surat dari Kak Rio. Dalam suratnya ia menulis

Leta sayang,

Tolong lupakan kakak sesegera mungkin setelah kamu membaca surat ini. Karena sebenarnya kata-kata yang kakak ucapkan saat itu hanya sebagai penyemangat dirimu untuk belajar. Selain itu kakak juga harus kembali lagi ke Jakarta, karena orang tua kakak ternyata sudah mempersiapkan pernikahan untuk kakak.

Salam
Kak Rio

Setahun telah berlalu semenjak menghilangnya Kak Rio dari kehidupanku. Dan setahun pula aku terus membencinya. Tapi, walaupun benci aku tetap merasa ada sesuatu yang hilang dan ingin sesuatu itu kembali lagi kepadaku. Kini aku duduk di kelas 3 SMA, dan sebentar lagi akan menghadapi ujian nasional. Aku harus serius belajar. Tidak ada lagi Kak Rio dan segala macam hal yang bersangkutan dengannya. Kini aku hanya ingin belajar, lulus dan masuk universitas yang kuinginkan, serta menjadi seorang guru. Mungkin memang tak bisa kupungkiri kalau aku ingin menjadi guru karena Kak Rio, tapi memang dari awal aku ingin menjadi guru dan memajukan pendidikan di kampung halamanku ini.

Ketika tiba di sekolah, dari kejauhan aku melihat teman-teman sekelasku bergerombol mengerumuni sesuatu. Hmm..apa yang sedang terjadi ? Namun, ketika akan mendekati tempat anak-anak berkumpul, aku mendengar isakan tangis seseorang. Dengan menyelip-nyelip diantara kerumunan anak-anak, aku pun mencoba melihat siapa yang tengah menangis itu. Ternyata orang yang menangis itu adalah mbak Sinta.

Kupandangi juga wajah teman-temanku yang tampak muram. Bahkan, ada yang matanya sudah berkaca-kaca. Ada apa lagi ini ? Apa yang terjadi? Kenapa semua orang memasang muka sedih? Tiba-tiba saja mbak Sinta yang melihat diriku langsung memelukku dengan erat, dan ia pun membisikkan sesuatu. Seketika itu juga tubuhku mulai kaku. Rasanya itulah akhir hidupku. Kata demi kata dari mbak Sinta benar-benar kata-kata yang tidak pernah ingin kudengar.
**
Di bawah langit sore yang mendung, kami berdiri di depan sebuah batu nisan. Dengan baju warna hitam, air mata kami semua jatuh satu per satu tanpa henti. Di depan batu nisan bertuliskan Mario Raga, aku jongkok dan menaburkan bunga-bunga dengan hati yang hancur dan bersalah. Mario Raga atau yang sering ku panggil Kak Rio, lelaki yang telah membuatku melayang hanya dalam beberapa hari dan dalam setahun telah aku benci, kini hanya terbaring kaku. Sebab, ternyata Kak Rio tidak ikut sama sekali dalam aksi kerusuhan mahasiswa itu. Dia telah difitnah sehingga stress. Penyakit darah tingginya pun kambuh dan ia pun terkena stroke.

Dan, saat dia telah tiada itulah mbak Sinta memelukku dengan erat. Dia meminta maaf karena telah membohongi semua murid terutama aku, karena isi surat itu bohong belaka. Kak Rio menulis surat itu agar aku tidak terkena getahnya karena berita buruk mengenai dirinya yang tidak benar. Itu sebabnya setiap mbak Sinta melihat wajahku, dia langsung muram karena dia tidak tega melihatku yang telah dibohongi oleh kak Rio selama setahun ini. Dengan sangat menyesal mbak Sinta meminta maaf padaku, tapi sesungguhnya mbak Sinta tidak salah. Yang paling salah dalam hidup ini adalah aku, karena aku telah membenci Kak Rio dan kebencian itu adalah kebencian yang salah.
Read more ...

Thursday, March 18, 2010

Romansa Masa SMA (karya Prasidya Ilvan Yahdi)

Prakata : Berikut adalah cerpen karya Prasidya Ilvan Yahdi. Sekali lagi banyak sekali kesalahan dalam penggunaan tanda baca, terutama tanda koma. Saya tidak bisa menyebutkan satu per satu. Kamu bisa lihat apa kesalahannya dengan membandingkan cerpenmu ketika dikirim dengan yang sudah diposting di blog ini. Sudah saya perbaiki penempatan tanda bacanya.

Kemudian, dalam penggunaan huruf besar masih banyak kesalahan. Nama negara : Israil dan nam orang : Dini, harus huruf besar. Kesalahan pengetikan juga saya temukan di naskahmu. Pukul ditulis Pulu. Sedikit ditulis sedikt.

Kalau kamu ingin mengirimkan karyamu ini ke majalah, sebaiknya periksa lagi dengan cermat sehingga tidak ada kesalahan dalam pengetikan dan penggunaan tanda baca serta huruf besar.

Dari sisi alur cerita, sama sekali tidak ada ‘greget’ nya. Tidak ada konflik yang membuat pembaca penasaran. Terlalu banyak menceritakan perasaan si tokoh utama (WISNU). Padahal jumlah halaman cerpen sudah mencapai 6 halaman. Mungkin bisa lebih dipersingkat agar bisa menambahinya dengan konflik. Perlu diketahui, jumlah halaman cerpen yang biasanya diminta oleh redaksi majalah antara 5 – 8 halaman. Tapi, dari sisi penggunaan bahasa sudah lumayan bagus.


Tuk,,tuk,,tuk,,jarum penunjuk waktu di depan kelas rasanya amat lamban berputar. Padahal sudah ku pantengin sejak tadi,tapi tetap saja, tak ada perubahan. Kembali ku gelisah, rasanya badan ini sudah panas dan enggan untuk duduk di kursi kayu yang tampak baru ini. Kuperhatikan sekeliling kelas, mencari teman yang senasib-sepenanggungan, percuma, tak kudapati apa-apa. Sunyi. Tak terdengar suara sedikitpun, bahkan dengkuran Oji yang saban hari menggelegar di kelas pun, kini tak terdengar walau barang sekejap. Semuanya tampak memperhatikan dia. Seorang lelaki paruh baya, berbaju biru layaknya pegawai negeri, berperawakan sedang dan mempunyai beberapa helai rambut di kepalanya. Dengan suara lantang yang membahana layaknya singa afrika, dan karisma yang luar biasa layaknya Adolf Hitler, pada siang hari terik itu, ia telah berhasil menghipnotis teman-temanku dengan notasi-notasi fisikanya dan beberapa “keajaiban-keajaiban” alam dan dunia yang berasal dari fisika.

“ Kalian tahu kenapa negara Israel bisa maju seperti sekarang,,? “ Ia bertanya dengan logat bataknya yang begitu kental.

“Tau pak !” jawab seorang anak yang duduk di kursi paling depan.Dia Roni, ketua kelas.
“Iya, Roni. Apa jawabannya ?” tanya bapak itu semangat.
“TAKDIR, Pak !” Jawab Roni, dengan “culunnya”.

Tak pelak jawaban “mbanyol” dari Roni tadi mengundang gelak tawa dari seluruh “penghuni” kelas yang sedari tadi diam bak kuburan.

“Roni, terimakasih untuk jawabannya. Nanti bapak tunggu di kantor sehabis pulang ya.” Dengan wajah merah padam, bak api olimpiade, bapak paruh baya itu berkata.

“Oke anak-anak, kita lupakan “banyolan” roni yang barusan.Tahukah kalian bahwa sebagian besar presiden Israel adalah seorang fisikawan, jadi wajar apabila negara tersebut bisa berkembang seperti sekarang. Nah Roni, sebelum kamu meninggalkan kelas, coba kamu buka bukumu dan kerjakan soal no 13.” Kata bapak paruh baya itu.

“Tapi Pak, ”sergah Roni.
“Sudah jangan banyak “cing-cong” . Ayo maju! SEKARANG !” Bentaknya, masih dengan logat bataknya yang khas.

Tak pelak hal itu membuat suasana kelas menjadi tambah semrawut dan biang keladinya lagi-lagi Roni, sang Ketua Kelas. Tapi, riuh rendah suara tawa siang itu, belum juga dapat menarik perhatianku, yang masih lesu dan tak bersemangat mengikuti pelajaran hari ini.

Pria paruh baya di depan kelas tadi adalah Pak Amir. Nama lengkapnya, Amirudin Pandjaitan. Seorang guru senior yang mengajar Fisika di sekolah kami. Beliau ditakuti dan juga disegani oleh murid-murid, namun tidak demikian halnya denganku. Aku mengaggap dia adalah seorang Ilmuwan besar peraih Nobel Fisika tahun 1963 yang “terdampar dan nyasar” menjadi guru di sekolah ini. Aku begitu mengaguminya.Namun,t idak hari ini. Lima helai rambut yang menutupi kepala Pak Amir bukan lagi menjadi sumber inspirasi ku.

Kini pandanganku beralih. Kira-kira empat puluh lima derajat dari tempatku berdiam, tepat di belakang seorang wanita berperawakan besar yang apabila ia tertawa, maka terdiamlah seluruh kelas, persis di samping seorang “akhwat” berkerudung ungu yang suka menundukkan kepala ketika berbincang dengan lelaki, duduklah seorang wanita berperawakan sedang, dengan tinggi kira-kira 165 cm, rambut tergerai tak nampak begitu panjang, dengan kemilau cahaya matahari menimpa rambutnya seolah-olah ia sedang berjemur di pantai, serta rona kemerah-merahan di kedua belah pipinya, ditambah dua bola mata sayu yang bersinar dan tak lupa sebaris gigi indah tersusun rapi berbalut senyum khas Indonesia. Aihhh...ia nampak seperti Zakiah Nurmala dalam film Sang Pemimpi.

“Kupandangi ia. Tampak begitu menawan. Tak kupandangi dia, tak kuat ku menahan godaan.
Mungkin itulah kata-kata yang tepat menggambarkan perasaan ku. Aihh, nikmat benar rasanya memandang wajahnya yang rupawan, walaupun aku tak yakin ia pernah memandangi wajahku yang tak kalah rupawan ini(menurut Ibuku begitu..hehehe).

“Andini, coba kamu kerjakan soal nomor 13 yang tadi Roni kerjakan itu. Payah kamu Roni,soal seperti itu saja kamu tidak bisa, gimana bisa lulus UAN? Ya sudah, ayo Andini …. coba diselesaikan soalnya.” Intonasi suara Pak Amir nampak turun drastis begitu menyebutkan nama

“Andini” dan naik seketika ketika menyebutkan nama “Roni”.

Dengan segera, bidadari itu bangkit dari kursinya dan berjalan perlahan menuju papan tulis. Lamat-lamat kupandangi dirinya itu. Andini namanya. Andini DwiHapsari. nama lengkapnya. Derap-derap langkah kakinya ketika menginjakkan bumi bak tuts piano yang dimainkan oleh Ludwig Van Beethoven ketika ia merangkai baris-baris nada menjadi Simphoni No.9 yang melegenda itu. Dengan cepat diselesaikannya soal nomor 13 yang tadi terbengkalai oleh Roni.

Tentunya pujian mengalir deras kepada Andini dan Roni, si anak “culun” yang sok tahu harus pasrah akan nasib tragis yang akan diterimanya setelah bel sekolah berbunyi.

KRIIIIIIIIIINGGGGGGG! Bel telah berbunyi, waktu menandakan pukul 14.30 dan saatnya untuk pulang. Saatnya bebas dan menikmati secangkir kopi ditambah beberapa singkong goreng buatan mama memang yang paling yahud. Tiba-tiba terlintas dalam pikiranku untuk menyapa Andini,untuk yang pertama kalinya dalam hidupku. Seluruh tubuhku merasa tegang, jantungku berdegup dengan kencang, ketika aku menyusun rencana untuk menyapanya,mengucapkan kata “Hai” untuk yang pertama kalinya. Terbersit tiga Grand Skenario untuk menyapa Andini.

Skenario satu, dengan tampang yang cool, bibir yang sedikit dimajukan, dada di busungkan, dan derap langkah yang pasti, aku berjalan mengikuti Andini keluar kelas dan mengikutinya sampai ia menengok kebelakang dan menoleh kearahku, dengan seketika aku berkata : “Hai, Dini!” Sambil tak lupa melempar bibir busukku dan menggantikannya dengan sejumput senyuman manis. Dan, pastinya ia akan membalas sapaanku : “Hai Wisnu!”

Skenario Kedua. Aku berjalan bak orang buta yang tak tau arah, lalu dengan sengaja aku menubruknya ketika ia berjalan keluar kelas. Dengan sigap aku menangkap tubuhnya yang nyaris limbung dan mata kami saling bertatapan dan dengan pedenya aku berkata : “ Hai Dini.” Hahaaha …..skenario yang sempurna.

Skenario Ketiga. Aku keluarkan seluruh isi tasku, mulai dari buku fisika yang berat sampai kertas ulangan yang lebih layak disebut kertas gorengan. Lalu,isi tas tersebut kubawa di depan tubuhku dan ketika aku melihat Dini keluar kelas, dengan sengaja aku menubruk halus badannya. Pastinya buku-bukuku dan Andini akan tumpah dan berserakan. Pada saat itulah ketika aku berusaha mencari bukuku, dengan sengaja aku menyentuh tangan Dini dan berkata dengan sangat lembut, “ Hai Dini, kamu gak papa?”

Wihhii,,skenario ini sangat elegan dan sempurna.Tak Sabar aku melakukannya.

KRIINGGGG! Bel sekolah terus berdering dan membuyarkan lamunan skenario jeniusku. Bergegas, aku bersiap untuk melakukan skenario ketiga. Seluruh buku aku keluarkan dari tas dan dengan jantung yang mau copot, kuberanikan diri bangkit dari tempat dudukku. Namun ketika kutengok ia di tempat duduknya, ia sudah tak nampak. Ternyata ia sudah pergi duluan ke luar kelas.

Panik! Tak tahu apa yang harus kuperbuat. Kutinggalkan buku yang telah kugendong di atas meja dan dengan segera aku berlari keluar kelas dan mencarinya. Sayang seribu sayang, tak kudapati batang hidungnya sedikitpun . Sambil menghela napas panjang tanda kepasrahan terdalam kepada Ilahi, aku membalikkan badan untuk mengambil tas dikelas. Saat aku membalikkan badan, dari belakang terdengar suara lembut.

“Hai, Wisnu..”

Disertai sebuah SENYUMAN MENAWAN KHAS INDONESIA
Read more ...

Wednesday, March 10, 2010

Nadia dan Bayi Berkepala Botak (karya RIZKI PI)

Prakata : Cerpen kiriman RIZKI PI patut diacungi jempol. Akhir kisah tak diduga. Bahasa yang digunakan juga enak dibaca. Semuanya terjalin dengan rapi. Sudah pantas dikirim ke majalah wanita seperti : Femina dan Kartini. Hanya ada satu yang perlu diperbaiki : Kata Tuhan harus diawali huruf besar ya?


Aku berkesempatan melihat sosok wanita itu pagi ini di saat ia dengan anggunnya melangkah pasti membuka pintu pagar. Rambut ikal sebahunya terjuntai dengan mantap. Kemeja putih lengan panjang tampak sangat pas melekat dengan tubuh jenjangnya. Dengan balutan rok selutut berwarna hitam semakin mempertegas betapa ia begitu dapat membuat para pemuda di komplek ini sangat memujanya. Bagian paling penting dalam penggambaran menakjubkan wanita ini adalah terletak pada wajahnya. Semua bagian pada wajahnya terletak proporsional sehingga semua pria dan wanita baik tua maupun muda akan setuju bahwa wanita ini memang cantik. Dari jarak empat meter dari pagar rumahnya, aku dapat memperhatikan setiap kedip matanya. Ia hanya mengedip ketika ia butuh untuk mengedip. Rahang itu terpancang kuat, sangat percaya diri. Aku sudah dapat memastikan pendapatku tentang dia. Wanita ini tak hanya anggun tetapi juga kokoh. Aku tidak sedang memujanya seperti bocah ingusan yang baru memasuki masa remajanya. Tidak pula seperti para pria lajang di komplek ini yang hanya bisa bermulut besar di belakang Nadia. Ya, aku hampir lupa menyebutkan nama wanita ini, Nadia namanya.

Aku hanya mengaguminya. Hanya itu. Ibuku pun setuju jika aku mengaguminya daripada aku mengagumi artis remaja yang pamer tubuh untuk menutupi kekosongan otaknya. Nadia pintar, semua orang tak perlu meragukan hal itu. Lulusan universitas negri ternama di negara ini dan universitas ternama di Amerika. Berkarir di sebuah perusahaan multinasional, walaupun aku lupa apa pekerjaannya, namun ibu selalu mengatakan jikalau wanita itu punya kedudukan baik di perusahaan tersebut. Tentunya baik di sini tidak berarti biasa-biasa saja, ‘baik’ berarti ‘di atas baik’. Kamu harus kayak mba Nadia kalau besar nanti, biar engga bergantung sama orang lain. Biar engga kelimpungan kalo ditinggal suami. Pesan ibu sering kali seperti itu. Aku pikir-pikir tidak apa juga kalau aku memakai dia sebagai idolaku, tidak akan pula mengurangi nilai harga diriku, toh pada akhirnya aku memang butuh idola. Jadilah aku memutuskan bahwa Nadia akan menjadi idolaku!

“Wening, mau berangkat sekolah?” ia menatapku dengan dahi berkerut.

“Hah? Ng..iya kayaknya mbak”, dan aku sukses menjawab dengan gugup. Seharusnya aku mengeluarkan kalimat bernada mantap seperti, Iya, aku selalu bersemangat ke sekolah. Hah, jawaban sampah! Setidaknya aku bisa menunjukkan jikalau aku dapat lebih baik daripadanya di kemudian hari, walaupun ia tetap menjadi idolaku.

“Emang engga kesiangan?”

Apa tadi dia bilang tetang ‘kesiangan’? Oh, Tuhan, sudah hampir masuk sekolah dan aku masih bengong di komplek sekitar rumahku, bodohnya!
***
Aku masih menatap kosong lembaran berisi gambar dan tulisan di halaman ini. Ada sebuah gambar pohon besar yang kububuhkan banyak kata di cabangnya. Aku memberi nama pohon ini pohon harapan. Aku meletakkan beberapa hal yang harus aku capai di tahun ini pada rantingnya. Ketika salah satu dari mereka telah aku raih, aku akan mencoret kata pada ranting tersebut. Aku begitu merasa puas setiap kali harus mencoret kata demi kata. Seperti aku menikmati kehidupanku dengan sepenuhnya.

Malam ini kubuka kembali halaman ini dengan maksud mencoret salah satu frase yang bertuliskan ‘go to Japan’. Namun ada hal lain yang mengganggu pikiranku. Aku memperhatikan batang pohon harapanku kalau-kalau ada kemungkinan aku menggambar satu cabang pohon lagi darinya. Hah, apa pula yang aku pikirkan ini! Tentu saja aku tidak akan menggambar apapun di luar dari waktu yang telah ditetapkan. Jika pun ada yang harus aku tambahkan, aku harus melakukannya tahun depan. Aku tidak boleh merencanakan kembali di saat proses sedang berlangsung. Memangnya kamu serius tidak ingin menikah, Nadia? Pertanyaan Retno kembali mengusikku. Jelas saja aku tidak ingin menikah. Aku sudah tegaskan hal itu berkali-kali padanya. Aku memang menyukai anaknya, tapi bukan berarti aku merubah prinsipku. Kenapa pula ia tanyakan hal itu lagi kepadaku? Apa karena ia merasa menang mempunyai hidup yang lebih berisi dibandingkan denganku? Berisi? Apa selama ini hidupku tak berisi? Kosong? Tentu saja tidak! Aku bisa gambarkan itu ke seluruh dunia dengan data-data yang akurat. Tetapi memang harus ku akui, terasa berbeda menatap mata Retno belakangan ini. Seperti tampak lebih bulat berisi dengan komponen padat yang membuatnya terlihat lebih cerah dan merona. Kenapa malam ini aku terlalu sering mengulang kata ‘berisi’? Benar-benar mengganggu. Aku harus lekas tidur dengan pikiran rileks untuk mendapatkan kualitas tidur yang maksimal untuk rapat esok hari. Tapi bayangan tentang hari itu tiba-tiba muncul kembali. Bayangan yang ingin aku robek dan aku buang ke tempat sampah. Bayangan yang memicu mual setiap kali kata ‘pernikahan’ mampir di benakku. Oh Tuhan, mohon singkirkan sejenak bayangan ini. Aku harus berpikir hal-hal yang menenangkan agar mudah tidur, maka aku biarkan bayangan itu muncul dan menelusup ke dalam mimpiku.
***
Aku masih merasa sesak. Oksigen terasa sulit merasuk ke dalam paru-paru ku, tak seperti air mata ku yang meleleh lancar menganak sungai. Pandangan ku terasa kabur tertutup kaca air. Tak apalah, toh aku sedang tak ingin melihat apa-apa, jika perlu tak ingin mengingat apa-apa. Kalau pun bisa, aku tidak ingin berada dimana-mana. Aku ingin tersuruk di kasur kamar ku membiarkan lelehan mata ku meluncur sesuka hatinya. Tapi kenyataannya aku terjebak di dalam keramaian, di suatu tempat makan umum. Beberapa pasang mata memandangi ku dengan aneh, atau mungkin jijik, terserah! Sebaiknya mereka membuat diri mereka lebih berarti dengan mengambilkan ku tabung oksigen karena aku masih merasa sulit bernafas!

“Nad, kamu enggak apa-apa?” pria di depanku tampak khawatir dan merasa bersalah karena telah mengabarkan berita itu di tempat ini. Setelah puas membasuh mata ku dengan banyak tisu, aku mulai memakan spaghetti keju yang belum kusentuh sejak 1 jam yang lalu. Aku merasa sangat lapar, sehingga aku makan dengan cepat. Tak perduli jika mulut ku menjadi begitu penuh dan aku kembali tidak bisa bernafas dan lebih parah dari itu, aku juga tidak bisa menelan! Aku meneguk lemon tea dengan cepat. Aku ingin semua berlalu dengan cepat sampai aku tidak sempat merasakan apapun tentang hari ini, seperti tak berasanya spaghetti keju yang ku dorong dengan lemon tea barusan. Setelah mulut, piring dan gelas di depan ku kosong, aku sempatkan sejenak untuk menarik nafas dalam-dalam. Mencoba tidak berpura-pura tentang hari ini. Aku merasa ragu tentang kita, tentang perasaanku, tentang kamu. Ya, aku sudah mendapatkan gambaran seluruhnya. Dia ingin meninggalkanku setelah aku memantapkan hidupku bersamanya. Sudah kulepaskan beasiswa S2 demi untuk menerima lamaran pernikahan darinya. Sudah dua bulan kami persiapkan pernikahan kami dan apa tadi dia berbicara tentang ragu? Kemana ragu itu selama empat tahun ini? Aku mencoba menatap wajah pria di depan ku yang mengunyah makanannya dengan hati-hati. Aku tahu, aku bisa mengendalikan diriku dengan sangat baik. Aku tahu, aku hanya butuh waktu untuk merasa sedih dan merasa kehilangan, bukankah ini momen yang tepat untuk merasa sedih? Aku tahu, aku bisa mempelajari keadaan ini dengan sangat baik. Aku pun juga tahu, ada bagian-bagian dari seseorang yang harus dicoba untuk dimengerti dan dihargai. Aku tahu, aku sudah dapat mengendalikan diriku dengan lebih baik.

“Romi, aku berharap kita tidak pernah bertemu sebelumnya.”

***
Aku berjalan beberapa langkah di belakang Retno dan aku masih menatap lekat wajah bulat yang sedang bertengger di bahu Retno. Ia juga melakukan hal yang kira-kira sama denganku, menatap wajahku dengan terkadang memamerkan gusinya yang tak bergigi walaupun sudah ku seram-seramkan mimik wajahku. Tidak cukupkah wajahku membuatnya takut? Sudahlah, memang mungkin para bayi memliki serbuk sihir alami yang dapat membuat orang-orang di sekitarnya merasa butuh memperhatikannya. Sesekali ia melambai-lambaikan lengannya yang berjari mini seolah ingin menggapaiku, entah apa maksudnya, kebetulan aku tidak merencanakan mempelajari bahasa bayi. Lelah memperhatikan bayi lelaki yang tak berhenti membuka mulutnya, aku memilih untuk memperhatikan nomor-nomor ruangan yang berjajar di kiri-kanan ku. Aroma racikan kimia memenuhi lorong yang kami lewati, khas rumah sakit. Retno dan Jayanti masih terus berjalan beriringan beberapa langkah di depanku meninggalkanku berjalan sendiri. Aku tidak tahu persis ruangan dimana temanku dirawat, toh aku juga sebenarnya tidak terlalu berkeinginan menengoknya. Bukan karena aku ingin bersikap tidak ramah padanya, mengenai hal itu aku dapat memastikan jikalau setiap orang yang pernah mengenalku pasti menilai aku wanita yang sangat ramah. Tapi ini adalah satu hal yang berbeda. Aku mengunjungi teman yang baru saja selesai melahirkan. Aku lelah bertemu dengan bayi setelah malam tadi aku bermimpi banyak bayi botak berterbangan bagai kelopak bunga yang ditiup angin musim gugur.

Tiba-tiba gerakan Retno dan Jayanti melambat pertanda ruangan sudah ditemukan. Kami memasuki ruangan dengan muka yang dipasang ramah dan turut berbahagia. Kegiatan dilanjutkan dengan menanyakan kabar dan si Ibu baru menjawab dengan berseri-seri untuk kemudian menceritakan proses ketika akan melahirkan. Aku memperhatikan makhluk yang tengkurap menggeliat di atas tubuh temanku itu. Kulitnya coklat kemerahan. Dengan mata yang mengatup, ia tampak asyik menyusu pada dada ibunya. Aku memperhatikan ketiga temanku bercerita dengan mata yang sama dengan yang ku temui pada Retno kala itu, bulat dan merona. Aku seperti tersihir di dalam tiga pasang bola mata yang semakin lama semakin membulat memenuhi ruangan sempit berbau obat ini. Aku tidak merasa sesak, aku mengambang pada sesuatu yang bergelombang. Aliran darahku mengarus begitu tergesa-gesa dengan arus yang juga bergelombang sehingga memompa jantungku begitu cepat berdetak dengan irama yang membuatku terisak. Aku terisak seperti mereka yang juga terisak dalam kalimat memuji Tuhan. Aku jadi seperti mereka. Bercerita seperti mereka. Tertawa seperti mereka. Dan seketika aku ingin seperti mereka. Aku ingin punya anak! Bu, Pak, Nadia sudah bilang berulang kali, Nadia tidak akan menikah baik dengan pria yang bapak pilihkan atau dengan pria yang akan datang pada Nadia! Aku pernah melontarkan kalimat itu pada orangtua ku, sudah tentu aku tidak akan mengingkarinya. Tetapi bagaimana dengan gelombang ini? Bagaimana dengan mata bulat mereka yang ingin juga kumiliki? Bagaimana dengan bayi berkepala botak itu? Baiklah! Setelah berpamitan sebentar pada mereka, aku berjalan menyusuri lorong rumah sakit menuju tempat yang dapat meloloskan tujuanku, mempunyai anak!
***
Malam ini, di meja makan, aku memperhatikan dengan serius cerita yang ibu sampaikan padaku. Tentang kisah heroik Nadia yang tak sengaja bertemu bayi yang ditinggal ibunya di rumah sakit ketika ia menjenguk temannya yang baru saja melahirkan. Bayi itu baru keluar beberapa hari dan sang ibu yang kejam melarikan diri dari rumah sakit, diduga karena bayi itu lahir tanpa seorang bapak. Malangnya nasib bayi itu. Kejamnya sang ibu! Mengagumkannya Nadia! Aku sudah memutuskan! Aku akan memasuki universitas terbaik di negri ini dan juga aku akan memasuki universitas terbaik di Amerika lalu aku akan bekerja dengan gaji yang besar dan kemudian aku akan membangun sebuah panti untuk bayi-bayi yang ditinggal kabur oleh ibu mereka.
***
Pada surat kabar nasional tertulis di halaman depan:

Seorang ibu melaporkan Rumah Sakit tempat ia melahirkan karena diduga telah menukar bayinya dengan bayi lain yang telah meninggal sebelumnya.
Read more ...

Tuesday, March 9, 2010

Balada Resah Adinda (karya Prasidya Ilvan Yahdi)

Prakata : cerpen karya Prasidya Ilvan Yahdi ini sebenarnya bagus. Hanya saja judulnya kurang pas dengan isi cerita. Kenapa ada kata ‘Balada”? Kenapa bukan DUKA HATI ADINDA? Bukankah dalam cerpen ini banyak melukiskan perasaan sedih Adinda? Bukan resah. Tetapi, sedih karena ia ditinggal pergi oleh ayahnya yang mati dibakar. Kemudian dalam penulisan tanda baca, huruf besar dan kata masih banyak kesalahan. Misalnya :

I. “Bunuh teroris itu! bakar dia, bakar rumahnya.

Seharusnya adalah : “Bunuh teroris itu! Bakar dia! Bakar rumahnya!”

Kalimat itu adalah kalimat orang yang sedang berteriak marah, jadi gunakan tanda seru. Bukan tanda koma.

II. “Ada apa ribut-ribut bapak-bapak ibu-ibu?” pekik Pak Darso di hadapan puluhan orang yang mengepung rumahnya.

Seharusnya : “Ada apa ribut-ribut bapak-bapak ibu-ibu?” Tanya Pak Darso di hadapan puluhan orang yang mengepung rumahnya.

Kata ‘Pekik’ berarti berteriak atau menjerit. Tidak tepat digunakan dalam kalimat ketika pak Darso sedang keheranan dan bertanya kepada orang-orang yang mengepungnya. Kalau toh mau menggambarkan pak Darso yang bertanya dengan cara berteriak, gunakan saja kata TERIAK pak Darso. Itu lebih tepat ketimbang pekik.

Itu hanya beberapa contoh kesalahan kecil tapi cukup penting. Selanjutnya, bandingkan saja naskah awal kamu dengan cerpen yang sudah saya revisi dan diposting di blog ini. Perhatikan, beberapa tanda baca yang sudah saya perbaiki.

Tetapi, dari sisi ide cerita sih sudah oke. Begitu pula penggunaan bahasanya.


Balada Resah Adinda

Muram nian malam yang cerah ini,rasa-rasanya seluruh penduduk malam enggan untuk menunjukkan batang hidungnya. Begitu pun dengan Adinda,seorang anak petani miskin berusia 10 tahun yang tinggal di sebuah gubuk kecil di dusun Tegalrejo bersama Ibu dan 2 orang adik kecilnya.

Malam ini bertepatan dengan hari ke-40 Ayahnya tercinta.Pak Darso, meninggal. Di usia nya yang ke 45, Pak Darso meninggalkan istri dan ketiga anak-anaknya yang masih kecil sendirian mengarungi ganasnya rimba kehidupan.

Tepat 40 hari yang lalu, dada kurus Adinda seolah tersengat jutaan ton listrik tatkala mendengar ayah yang selalu menceritakan dongeng sebelum ia dan adiknya tidur itu telah tiada.Ya,Pak Darso, telah tiada. Tapi tak ada yang lebih menyakitkan tatkala menyaksikan bahwa Ayah tercintanya itu meniggal karena di bakar oleh massa kampungnya sendiri. Matanya menerawang...

Malam itu Seperti biasa , Pak Darso menceritakan dongeng kepada anak-anaknya sebelum ia tidur, malam ini dongengnya tentang Maling Kundang, kisah seorang anak yang durhaka kepada ibunya. Tatkala Pak Darso selesai membaca dongeng,ternyata anak-anaknya sudah tertidur lelap.Dicium lembut kening ketiga buah hatinya itu seraya berdoa untuk kebaikan mereka. Malam itu ia berniat untuk mengkatamkan Al-Qur’an, sejauh ini ia masih membaca dan mengkaji surah Ar-Rahman. Namun, tiba-tiba “Prang !!!”, terdengar suara benda keras menghantam kaca depan rumahnya,spontan ia berlari kearah sumber suara dan didapatinya sebuah batu besar yang menghantam kaca jendela rumahnya.

“Astagfirullah”pekiknya dalam hati.Tak sampai di situ kekagetannya, secara tiba-tiba muncullah puluhan orang yang membawa obor dengan pakaian hitam,laki-laki dan perempuan, sambil berteriak :

“Bunuh teroris itu! Bakar dia! Bakar rumahnya!”

Pak Darso kaget bukan kepalang, tapi ia masih bertindak tenang. Ia mengenali beberapa orang yang berkumpul di depan rumahnya. Salah satunya Pak Puji, tetangganya.Tak pelak, suara ribut dan gaduh itu sampai juga ke telinga Bu Lastri,istrinya dan ketiga anaknya. Bergegas mereka menuju sumber suara sembari bertanya dalam hati, “ada apa gerangan?”

“Ada apa ribut-ribut bapak-bapak ibu-ibu?” Tanya Pak Darso di hadapan puluhan orang yang mengepung rumahnya.

“Pak Darso, cepat tinggalkan kampung ini, atau kami akan bakar bapak hidup-hidup !!” Teriak salah satu orang pengepung itu. Dengan sedikit meraba, Pak Darso meyakini bahwa yang berbicara tadi adalah Pak Puji, tetangga sebelah rumahnya.

“Ada apa ini? Apa salah saya? Saya tak mengerti maksud kalian? Sungguh!”

“Sudah Darso, jangan mengelak lagi. Kami tahu, kamu adalah TERORIS. Kampung ini tidak menerima teroris , cepat pergi atau kamu akan kami bakar !!” teriak Pak Puji.

“Astagfirullah, teganya kalian memfitnah saya !” bela Pak Darso.

“Kami tahu, kamu adalah antek-anteknya gembong teroris nomor Wahid Nurdin M. Top, dan kemarin kami melihat kamu bertemu dengannya dan kamu juga telah mengajarkan faham islam yang tidak benar kepada anak-anak kami!” Teriak pak Puji lagi.

“Tapi...” potong Pak Darso. Belum selesai ia berbicara, puluhan orang itu telah menyeretnya dan membopongnya ke lapangan sepak bola di kampung itu. Malam itu adalah malam penghakiman untuk seorang TERORIS.

Apa yang terjadi sungguh di luar nalar manusia. Nampaknya orang-orang yang membawa Pak Darso telah mengalami trance atau kesurupan. Mereka bertindak sudah tidak layaknya manusia. Mereka menyeret Pak Darso di tanah dan sesampainya di lapangan, mereka menyiramkan minyak tanah di sekujur tubuh pak Darso. Tak ada yang bisa Pak Darso lakukan, kecuali menjerit dan berteriak seraya bermunajat lirih dalam hati, ”Ya Allah !!! Ada apa ini?”

Di belakangnya, menyaksikan dengan penuh pilu anak-anak dan istri Pak Darso. Mereka menjerit histeris melihat pemimpin mereka diperlakuakan layaknya binatang .

Akhirnya tibalah saat yang paling memilukan pada malam itu. Pak Puji mengeluarkan sekotak korek api kayu dan mulai menyalakannya, dengan perlahan ia melemparkan 3 batang korek api ke sekujur tubuh ringkih Pak Darso.

Api membumbung tinggi. Malam itu adalah malam penghakiman bagi seorang manusia yang di sangka teroris Malam itu seorang anak manusia diperlakukan layaknya ayam yang terkena virus flu burung.Dibakar. Bau sangit daging manusia menyeruak di kegelapan malam. Memilukan hati, megoyak jiwa, merobek nurani.

Tubuh Pak Darso menggelinjang kepanasan. Ia berguling kesana-kemari untuk memadamkan api di sekujur tubuhnya. Tapi percuma, api telah terlanjur memakan dirinya. Selang 3 menit kemudian, tubuh Pak Darso tidak lagi bergerak. Ia diam. Api ciptaan Tuhan telah menghanguskan dirinya dan membawanya pergi dari dunia yang fana ini. Orang-orang yang tengah kesurupan itu seketika diam. Mereka terpaku memandangi tubuh gosong Pak Darso, dan mereka tidak mengeluarkan satu patah kata pun. Tak jelas mengapa. Nampaknya mereka mulai menyadari apa yang telah mereka perbuat. Sekejap kemudian mereka membubarkan diri dan hilang dalam pekatnya malam itu.

Adinda mematung. Ia menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri betapa kejamnya manusia. Ia menjadi saksi dari kematian orang yang amat dicintainya. Sementara itu, Bu Lastri dengan menggendong Santi dan Sinta, anak kembarnya yang berusia 11 bulan, berlari menuju tubuh suaminya yang telah gosong sambil berteriak histeris.

“Abi !!!! Abi !!! Abi !!!......Abi !!! Abi !!! Bangun Abi !! Apa salahmu Abi? Apa salahmu?” Pekik histeris Bu lastri memecah keheningan malam itu ditambah jerit menyayat hati dari dua bayi mungil Sinta dan Santi

Adinda masih terdiam. Ia bingung. Ia bingung dengan semua yang terjadi. Yang ada di pikirannya adalah saat dimana ayahnya membacakan dongeng Malin Kundang untuk dirinya dan kedua adiknya serta saat dimana ayahnya mencium hangat kening Adinda dan adiknya. Ia tak percaya kalau orang yang selalu menjadi tempat bersandar dan mengeluh serta bercengkrama dan bercanda ini telah tiada. Ia tak percaya kalau Abi tercintanya telah meninggalkan ia selamanya.

“Siapa yang akan membacakan dongeng untuk Dinda, Sinta dan Santi? Siapa yang akan mencium kening Dinda sebelum tidur? Siapa yang akan menceritakan kisah-kisah Nabi kepada Dinda? Siapa yang mengajari Dinda mengaji?” Pikiran-pikiran itu terus membayang di benak Adinda. Tak terasa, sebulir air mata menetes di pipinya.Air mata itu terasa sangat berat untuk menyusuri halusnya pipi Dinda. Disusul air mata-air mata berikutnya. Kini pipi Adinda telah di banjiri Air mata.

“Dinda...kamu kenapa sayang?”tanya Bundanya.
“Eh,,gak apa apa bunda. Tadi mata Dinda kemasukan debu. He he he…..”Jawab Dinda seraya menyeka air matanya.

“Kamu rindu sama Abi ya?” tanya Bundanya.

“Sedikit Bunda, tapi udah gak lagi kok. Bunda, aku pergi ke dapur dulu ya. Kayaknya nasinya udah mateng tuh.” Jawab Adinda seraya berlari ke dapur.

Bundanya menyadari bahwa, anak perempuannya itu masih merindukan Abinya. Tak terasa sebulir air mata membasahi pipinya. Namun dengan segera ia menyekanya.

Malam ini adalah malam ke- 40 kepergian Pak Darso. Rencanaya mereka akan mengadakan pengajian di gubuk kecil mereka. Sedari pagi, Bu Lastri sudah repot berbelanja ke pasar untuk menyiapkan makanan berkat untuk para undangan yang hadir.

“Din, nitip Sinta sama Santi dulu ya. Bunda mau belanja ke pasar buat 40 harian Abi mu. ” Kata Bu Lastri.

“Siap Bunda ! Sinta sama Santi aman di tangan Dinda. Dinda akan ngemong Sinta dan Santi dengan baik. He he he …” kata Dinda tegas sembari tertawa.

Malam harinya, acara 40 harian Pak Darso dimulai. Undangan yang hadir cukup banyak, sampai-sampai para undangan duduk di luar gubuk yang ditempati Adinda. Malam itu sungguh syahdu, lantunan ayat-ayat Al-Qur’an di lantukan, Doa yang teramat khusyuk di sematkan kepada almarhum. Pada pukul 21.00 acara selesai. Bu Lastri dengan dibantu oleh beberapa undangan membersihkan rumah.
****
“Bunda, kenapa Abi dibakar orang?” tanya Dinda kepada Bundanya ketika akan beranjak ke peraduan setelah selesai merapihkan jamuan.

Bundanya kaget bukan kepalang. “Eh,,,kenapa Dinda tanya hal itu, sayang?” tanya Bundanya balik kepada buah hatinya itu.

“Dinda bingung, bunda. Abi kan orang baik, tapi kenapa dia dibakar sama orang? Apa salah Abi, bunda?” desak Adinda.

“Sayang.., ” patah-patah Bundanya menjawab. “Abi kamu itu orang baik. Dia orang yang soleh tapi banyak orang yang fitnah dia. Sayang,ini tanda cinta Allah untuk Abi.” Jawab Bundanya.

“Kok bisa Bunda...? Kalau Allah sayang, kenapa Abi dibakar? Abi kasian, bunda!! Enggak Ada lagi yang bacain dongeng buat Dinda. Enggak ada lagi yang cium kening Dinda saat Dinda tidur. Gak ada lagi yang......” Belum selesai Dinda berbicara, Bundanya langsung mendekap dan memeluknya. Dinda pun menangis sesunggukan. Kali ini dia tidak berbohong pada ibunya. Dia menangis bukan karena ada debu yang hinggap di matanya, tapi karena kerinduaan dirinya yang teramat mendalam kepada Ayah yang amat dicintainya itu.Di umurnya yang kesepuluh, Dinda telah mengalami cobaan berat.

“Sayang....Allah sayang sama Abi dan Dinda, itulah cara Allah meningkatkan derajat hambanya yang saleh. Dinda, bunda yakin, Abi kamu sekarang sedang bahagia di alam baka sana. Beliau akan selalu tersenyum kepada kita. Dinda, Abi kamu sebenarnya tidak pernah pergi. Dia selalu ada sini.” Kata Bundanya sembari menunjuk dadanya.

“Sayang, yakinlah bahwa Allah itu selalu memberi yang terbaik kepada hambanya. Apalagi kamu anak yang saleh. Dinda sayang, Abi kamu akan selalu bersama kita, dia akan abadi di hati kita. Ia punya tempat tersendiri di hati kamu yang suci itu, sayang.Ia ada disana. Makanya, setiap shalat kamu berdoa ya sama Allah supaya Abi kamu bahagia di sana,, ya sayang.” Ujar Bundanya bijak.

“Bunda.... ” Ujar Adinda.

“Iya, sayang...” Bunda menoleh.

“Bunda,,semalam aku mimpi bertemu Abi. Abi mukanya sangat cerah. Beliau tersenyum. Katanya, salam buat Bunda sama adik-adik.” Ujar Dinda.

“Dinda...sayang...” Bunda tak dapat melanjutkan kata-katanya. Tak terasa air mata wanita itu membasahi pipi dan bajunya.Kali ini bunda tidak dapat menahan perasaan yang bergemuruh di hatinya. Sebenarnya sedari tadi ia ingin menumpahkan lelehan air matanya. Tapi selalu bisa ditahan. Namun kali ini rasanya air mata itu sendiri yang keluar dari mata lentiknya.Terasa kerinduan yang amat mendalam kepada laki-laki yang amat dicintainya itu. Didekapnya Adinda semakin erat.

“Dinda..sampaikan ke Abi, Waalaikum salam. Salam sayang dari Bunda ya…” kata Bunda sembari sesunggukan.

“Iya Bunda. Kata Abi, beliau janji mau ketemu Bunda dan Dinda setiap malam dan mau ngajak Dinda main dan bacain dongeng lagi buat Dinda.” Seulas senyum terlihat dari bibir mungil Adinda. Anak berusia 10 tahun yang begitu tegar ditinggal Abi tercintanya.

“Iya Sayang...nanti malam Bunda juga mau ketemu sama Abi...” Ujar Bundanya menahan isak tangis.

“Bunda..aku ngantuk. Aku mau buru-buru ketemu Abi. Bunda..kita tidur yuk!” Kata Dinda sembari tersenyum simpul,walaupun masih bercucuran air mata dari mata mungilnya. Kali ini Adinda menangis merindukan Abinya, bermain bersama Abinya dan juga mencium kening Abinya.

Malam itu keluarga kecil yangt telah ditinggal pergi Sinar kehidupannya menangis. Menangis untuk bersyukur kepada Penciptanya atas segala Rahmat dan kasih sayang yang telah dilimpahkan kepada keluarga mereka.

Secercah cahaya menerangi kesucian interaksi anak dan Ibu di malam itu. Malam itu seulas senyum terpancar dari bibir mungil Adinda. Ia bertekad nanti malam ia akan bermain bersama Abinya tercinta.
Read more ...
 
Indonesia dulu dikenal sebagai bangsa yang toleran dan penuh sikap tenggang rasa. Namun, kini penilaian tersebut tidak dapat diamini begitu saja, karena semakin besarnya keragu-raguan dalam hal ini. Kenyataan yang ada menunjukkan, hak-hak kaum minoritas tidak dipertahankan pemerintah, bahkan hingga terjadi proses salah paham yang sangat jauh.
free counters

Blog Archive

Seseorang yang mandiri adalah seseorang yang berhasil membangun nilai dirinya sedemikian sehingga mampu menempatkan perannya dalam alam kehidupan kemanusiaannya dengan penuh manfaat. Kemandirian seseorang dapat terukur misalnya dengan sejauh mana kehadiran dirinya memberikan manfaat kearah kesempurnaan dalam sistemnya yang lebih luas. Salam Kenal Dari Miztalie Buat Shobat Semua.
The Republic of Indonesian Blogger | Garuda di DadakuTopOfBlogs Internet Users Handbook, 2012, 2nd Ed. Avoid the scams while doing business online

Kolom blog tutorial Back Link PickMe Back Link review http://miztalie-poke.blogspot.com on alexa.comblog-indonesia.com

You need install flash player to listen us, click here to download
My Popularity (by popuri.us)

friends

Meta Tag Vs miztalie Poke | Template Ireng Manis © 2010 Free Template Ajah. Distribution by Automotive Cars. Supported by google and Mozila