Thursday, September 9, 2010

SURAT UNTUK MERRY (karya Sakurai Ayumi)

Prakata : Cerpen ini merupakan salah satu cerpen yang memenangi Lomba Menulis Cerpen yang diadakan blog Sang Cerpenis dan Vixxio. Tema yang unik dan ketegangan yang diciptakan dalam cerpen ini membuatnya layak menjadi Pemenang. Ayumi sepertinya punya potensi untuk menulis cerita bergenre thriller.

SURAT UNTUK MERRY (karya Sakurai Ayumi)

”Jika senja datang, aku pasti akan merangkak ketakutan, seolah rembulan akan menggerogoti hidupku selapis demi selapis. Aku takut jika mentari menghilang. Takut tubuhku bukan jadi milikku lagi. Ketika kegelapan menguasai, aku tahu, aku akan kehilangan arah. Tolong aku, Merry! Aku tak pernah menginginkan lahir sebagai orang buta!”

Saya tersentak ketika melihat sepucuk surat yang terselip di antara sebuah catatan yang saya temukan di gudang. Tulisannya tak karuan, hanya saja saya familiar dengan tulisan ini. Saya membolak-balik halaman yang lain, penuh tulisan yang sifatnya pribadi. Saya rasa buku ini buku harian orang rumah ini, mungkin buku harian kakak sepupu saya, mungkin juga adik sepupu saya.

Hari Minggu yang cerah tak membuat saya harus bersemangat. Pekerjaan rumah tangga yang kian menumpuk membuat saya melupakan betapa cerahnya hari ini hanya untuk sekedar merilekskan otak sejenak, terbebas dari perkuliahan. Ohya, perkenalkan, nama saya Indira. Saya hanya seorang anak perempuan yang menumpang tinggal di rumah saudara sepupu saya. Sudah dari kecil saya terpisah dari orang tua karena alasan pekerjaan. Saya sudah terbiasa.

Seperti Hari Minggu lainnya, pekerjaan ke-pembantu-an saya sudah menumpuk dan hari ini saya akan berkutat dengan kumpulan buku penuh debu, merapikan mereka lalu menyusunnya. Saya heran mengapa orang-orang di sini membeli banyak buku hanya untuk disimpan di gudang begitu saja, hingga saya harus berada di sini, menemukan sebuah catatan harian seorang tanpa nama, dengan sepucuk surat misterius di dalamnya.

Saya dengan segera merapikan buku-buku yang tersisa. Jam sudah menunjukkan pukul 11.00. Sudah waktunya makan pagi di Hari Minggu, tapi bukan hal itu yang membuat saya tergesa-gesa. Saya ingin segera melanjutkan membaca catatan yang saya temukan tadi. Saya tak langsung membaca dari awal halaman, melainkan dari halaman saat surat itu terselip.

Tanggal 19 Mei 1996
Oh Merry, aku sangat membencinya. Saat siang, saat aku bisa melihat segalanya, dia selalu megawasi gerakanku. Seolah aku akan membocorkan tentang aib yang dia lakukan, seolah dia menginginkan mataku juga saat siang. Aku sudah buta saat malam hari, apakah dia ingin aku buta saat siang?


Saya membalik halaman berikutnya. Belum mendapat petunjuk mengena siapa pemilik buku ini dan alur ceritanya. Memangnya keluarga kami ada yang rabun senja? Mungkinkah ini buku milik paman saya atau bibi saya?

Tanggal 20 Mei 1996
Dia selalu menakutiku, Merry. Aku selalu dibuatnya menangis. Tapi saat orang lain tak ada yang pedulikan aku, kau selalu ada untukku. Kau selalu mendengarkan curhat dan tangisanku, meskipun kau hanya bisa melakukannya saat malam. Saat aku tak bisa melihat dunia dengan jelas.


Kubalik halamannya kembali. Kosong. Kubalik lagi hingga beberapa halaman, masih kosong. Aku mulai membaca buku itu dari awal. Tulisannya rapi dan indah. Berbeda sekali dengan tulisan sebelumnya.

Tanggal 10 November 1995
Aku terpikat pada lelaki yang duduk di hadapanku. Dia tampan, senyumanya cukup membuat kakiku lunglai. Ohya, namanya Mahesa. Kulitnya putih, hidungnya mancung, dia tak tampan, hanya manis, dia tak tinggi, tapi senyumannya cukup membuatku salah tingkah. Tapi,haruskah aku jatuh cinta pada kakakku sendiri? Tidak, ini hanya rasa kagum biasa!


Tanggal 15 November 1995
Aku tak sanggup menahan diriku untuk tidak salah tingkah di hadapannya. Tapi apa? Dia terus menggodaku. Membuatku merasa panas setiap dia berusaha menempelkan bibirnya ke pipiku, atau merasa panas setiap melihat dia bermesraan dengan kekasihnya. Haruskah dia bermesraan di hadapanku? Kenapa kami baru dipertemukan? Jika saja kami dipertemukan sejak awal, cinta ini tak mungkin ada.



Tanggal 30 Desember 1995
Kenapa kami baru dipertemukan? Jika saja kami dipertemukan sejak awal, cinta ini tak mungkin ada. Aku ingin segera mengakhiri semuanya. Kak Mahesa tak akan pernah menganggapk sebagai kekasihnya. Aku hanya anak buangan yang tak diterima siapapun.


Saya membalik halaman berikutnya, namun halamannya sobek. Membuatku kecewa. Padahal kisah dalam catatan kecil ini luar biasa menarik. Baiklah, aku mencoba menganalisa pemilik buku ini. Yang pasti buku ini ada hubungannya dengan anak tertua di rumah ini, Kak Mahesa.

Pertama, perlu saya ceritakan bahwa di rumah ini ada enam orang penghuni dan delapan anjing. Sebenarnya rumah ini tidak besar, hanya saja kami memangkas lahan yang seharusnya dijadikan perkebunan, sehingga bisa dikatakan rumah kami gersang.

Orang-orang tersebut terdiri dari paman saya, namanya Oom Agung beserta istrinya, Tante Mira. Kemudia anak-anak mereka, si kembar Adelia dan Amelia yang seumuran denganku dan kakak mereka yang otomatis jadi kakakku. Namanya Mahesa, genap enam orang dengan saya sebagai penghuni terakhir.

Dari semua kemungkinan, Adelia yang paling mungkin memilikinya. Dia adalah kembar sulung yang tak pernah punya pacar. Dia selalu manja dengan Kak Mahesa, ya, semenjak kehadiran lelaki itu ke rumah kami. Perbedaan usia kami dengannya terpaut 11 tahun dengan Kak Mahesa dan dia sudah tinggal merantau saat dia berusia 12 tahun sehingga kami bayangan tentang dirinya minim sekali.

”Indira, kamu disuruh makan ama Ibu,” suara sesorang mengejutkanku dari depan pintu kamar. Aha! Bingo! Pucuk dicinta ulam pun tiba. Suspect’s captured. Barusan adalah suara milik Adelia.

Buru-buru saya melenyapkan buku catatan tadi agar tak terlihat olehnya. Adelia nampak ragu melangkahkan kakinya. Ia sepertinya enggan mendekat dan memasang wajah curiga seolah tahu saya menemukan harta karunnya.

“Ya, saya nyusul sebentar lagi,” jawab saya seraya bangkit dari tempat tidur menuju ke ruang makan.

Seusai makan, saya kembali membolak-balik halaman buku itu. Dan saya menemukan kalimat janggal di halaman teakhir dan membuat saya bergidik.

”Tanggal 31 Desember adalah hari pembalasan saya, saya akan buat dia menyesal telah membuat saya menderita.”

Astaga! Ada apa dengan tanggal 31 Desember? Yang saya takutkan bukan keaslian maksud si penulis, tapi cap jempolnya, yang dibuat dengan darah! Tiba-tiba saya mual dan menutup catatan itu. Saya baru mulai ketakutan, jangan-jangan dari tadi saya membaca buku kutukan. Dan setelah dipikir-pikir sekarang juga tanggal 31 Desember. Bulu kuduk saya bergidik. Saya sembunyikan buku itu di dalam meja belajar saya. Kepala saya pusing, ingin rasanya merebahkan kepala sejenak.
***
”Malam kembali datang. Sepi seperti biasanya. Gelap seperti biasanya. Aku tak akan termakan temaram lagi, semuanya akan baik-baik saja. Semua akan berjalan dengan lancar! Aku sudah punya peneranganku sendiri. Biar sekelam apa hatiku dikata orang, aku tak peduli.

Kini dia sudah jadi milikku, wajahnya yang memuakkan tersapu siluetku yang terkena cahaya lilin. Dia ertidur dengan mimpi indahnya. Tak apa. Kubiarkan dia menikmati mimpinya semenit lagi, toh pisau ditanganku masih bisa menunggu. Tapi aku terlalu lama menatapnya, sehingga ia tersadar dan berteriak. Aku tak sadar pisau di tanganku sudah berpindah dan menancap di dadanya”

***

Mimpi! Ternyata saya hanya bermimpi. Saya bermimpi menjadi sesosok wanita terkejam sedunia. Keringat membanjiri tubuh saya dan saya terbangun dengan nafas tersengal, seolah usai berlari beratus-ratus kilo jauhnya. Saya tersenyum, terbahak ternyata segalanya hanya mimpi belaka. Saya pasti terlalu menghayati catatan aneh yang saya temukan tadi.

”Nona, apakah Anda sudah siuman?” seorang laki-laki paruh baya bertanya ke rahku.
”Siapa Anda?” tanya saya balik.

”Saya Giri Griadhi! Psikiater,” jawabnya dengan tatapan datar.
Kepala saya pusing. Apa saya masih bermimpi?

”Apakah Anda mengenali lingkungan sekitar Anda?”

Saya melihat sekitar, dan yang terlihat terlihat hanya warna putih.

''Apa Anda dapat mengenali lingkungan Anda?" orang yang menggunakan jas putih itu kini mendesak saya. Saya akhirnya mengangguk.

''Lalu apa Anda mengenal orang-orang ini?'' lelaki itu menunjuk paman saya, bibi saya dan Amelia satu per satu. Saya mengangguk mantap. Lalu dia menunjuk Adelia, tangannya dibalut perban.

''Kau kenapa Del?'' tanyaku. Adelia melemparkan tampang kecut, seolah menampis pandanganku. Aku bingung.

''Baiklah Nona, bisa anda ceritakan apa yang Anda lakukan semalam?''
Aku terdiam sebentar.

''Saya tidur.''

''Jam brapa Anda tertidur?''

''Saya tak ingat karena saya tiba-tiba merasa pusing, memangnya ada apa?''

''Apa Anda tahu orang ini?'' dia tidak mempedulikan saya.

Saya mengangguk mantap. Dia kak Mahesa.

''Apa Anda tahu dia meninggal?''

''Apa?'' Saya bingung.

''Jadi anda benar-benar tidak tahu apa-apa?''
Saya terdiam.

''Lalu apa anda bisa menjelaskan ini?'' psikiater itu menunjukkan sebuah pisau. Itu pisau yang ada dalam mimpi saya yang tadi. Keringat dingin mengucur mengaliri pelipis saya.
Hening.

”Menurut keterangan Saudari Adelia, semalam Anda tertangkap basah telah melakukan pembunuhan terhadap kakak laki-lakinya. Saudari Adelia juga menemukan sobekan buku harian ini dan hendak menyerahkannya ke pihak yang berwajib,” kata laki-laki itu seraya menyodorkan sebuah buku catatan.

Tanggal 31 Desember 1995
Kenapa selalu aku yang menjadi korban? Kak Mahesa dengan keji telah melecehkanku dan mengancam akan menyiksaku. Tak kusangka dia sekejam dan setega itu. Kali ini pun aku tak bisa lagi menulis, Merry! Kau harus kusembunyikan di dalam gudang yang jauh di sana. Sampai jumpa Merry.


Tiba-tiba saya merasa hati saya mencelos, jiwa saya diseret keluar tubuh.

***
”Indira, apa kau baik-baik saja?''
''Kalian siapa? Aku bukan Indira! Aku Merry!''
Read more ...

Thursday, September 2, 2010

JALAN BUNGA oleh ARIESKA ARIF

Prakata : Cerpen ini adalah salah satu cerpen yang memenangkan acara Lomba menulis Cerpen yang diadakan blog Sang Cerpenis dan Vixxio.

JALAN BUNGA
OLEH : ARIESKA ARIEF

Aku bermimpi sedang berjalan di atas hamparan bunga beraneka warna. Mereka tetap tegar dan bermekaran indah meskipun diinjak-injak di bawah telapak kakiku. Bunga-bunga itu berpijar lembut memanjakan kakiku. Aku begitu menikmatinya hingga kumembuka mata.

Bau khas obat-obatan menyerbu indra penciumanku begitu kuterbangun. Kulayangkan pandanganku. Lagi-lagi aku masuk rumah sakit! Aku bergegas bangun, namun rasa sakit di pergelangan tanganku membekukku. Aduh! Baru kusadari ternyata aku diinfus. Kutarik selang infus itu hingga terlepas. Rasa sakit pun menjalar. Tapi aku tak peduli. Aku harus segera pergi dari sini untuk menemui mereka.

Sekarang kakiku tidak melangkah di hamparan bunga lagi. Dengan bertelanjang kaki aku melangkah di atas aspal yang panas, batu-batu kerikil dan kotoran-kotoran. Tapi aku tak peduli akan apa yang mengenai kakiku itu. Aku terus bertahan untuk tetap melangkah menemui mereka. Entah butuh berapa lama. Padahal aku bisa naik angkutan umum, tapi aku memutuskan untuk melangkah sendiri demi memperlihatkan kesungguhanku mendatangi mereka. Aku ingin melangkah tanpa bantuan dari siapa pun. Mereka adalah orangtuaku. Aku merasa kesepian karena merasa terbuang oleh mereka. Terbuang karena merasa tak diperhatikan lagi. Padahal putra mereka ini tengah mendapat ujian, tapi mereka tak pernah mendampingiku mengalami kesulitan itu.

Langit tampak gelap. Aku memandang ke atas dan samar mendengar suara petir. Aku tahu sebentar lagi akan hujan, tapi aku terus melangkah. Aku tak peduli kendala apa yang akan kulalui dalam perjalananku ini. Tak lama tubuhku pun diguyur hujan. Sementara orang-orang mencari tempat berlindung, aku terus berjalan. Perjalananku jadi semakin berat. Padahal aku belum sembuh benar. Kepalaku jadi pusing karena diguyur hujan. Tapi aku tak boleh berhenti. Aku pun memaksakan diri untuk tetap melangkah.

Aku menunduk lesu membiarkan kepalaku dihajar hujan. Sungguh ini bukan jalan seempuk melalui hamparan bunga. Dingin. Badanku menggigil. Tapi aku tetap tak mau berhenti. Jalan berduri pun akan kulalui, kalau bisa petir pun kuterobos. Hujan takkan bisa mengalahkan aku!
Perjalanan masih panjang. Aku mulai berjalan sempoyongan. Perih mengibas kakiku. Aku yakin kakiku sudah lecet-lecet. Tapi aku masih saja menguatkan diri untuk melangkah. Hujan malah semakin deras. Nafasku sesak. Air mataku mengalir. Apakah aku masih sanggup berjalan dalam kondisi seperti ini?

Aku lalu jatuh terjerembab karena lemas. Oh, aku sudah tak sanggup lagi. Tapi tidak! Aku tak boleh berhenti! Aku harus berjuang. Jika aku pulang, mereka pasti akan kaget. Aku harus tetap melangkah meskipun sampai harus merangkak. Aku pun merangkak. Seandainya aku bisa lebih daripada ini, berlari misalnya
agar cepat sampai. Tapi apalah dayaku. Tubuhku benar-benar tak bisa bekerjasama.
Aduh! Ada rasa sakit menjalar tiap kali aku bertopang pada tangan kiriku. Kupandang tanganku dan miris melihatnya. Pergelangan tanganku luka dan berdarah. Pasti karena kucabut selang infus-nya dengan paksa. Tapi kalau merangkak saja susah, aku harus bagaimana lagi? Aku mulai putus asa. Tapi tetap saja aku ngotot tak ingin menyerah. Sesulit apa pun akan terus kulalui perjalananku ini.

Di mana aku sekarang? Aku mendongak dan membaca papan nama jalan. Jalan Bunga. Aku terpaku begitu melihat orang-orang di salah satu rumah di jalan itu. Mereka tinggal di sebuah rumah yang meskipun sederhana, tapi ketiganya tampak bahagia. Kupandangi seorang pemuda sebayaku. Ia dikecup sayang ibu bapaknya sebelum berangkat ke sekolah. Seandainya saja anak itu adalah aku. Oh, aku sungguh merindukan kasih sayang kedua orangtuaku. Aku menangis. Ya Tuhan, apakah aku takkan pernah sebahagia anak itu? Karena sedih dan cemburu, kusumpahi anak itu mendapat nasib sepertiku. Cacat sehingga orangtuanya membuangnya.

Mereka yang tengah berbahagia itu tak menyadari kehadiranku. Pemuda itu lalu keluar dari rumahnya sambil membawa payung hitam. Aku memutuskan untuk meneruskan perjalanan. Aku mencoba untuk berdiri lagi. Tiba-tiba saja seseorang mengulurkan tangannya padaku. Tak hanya itu, payungnya ikut melindungiku. Payung itu kan.. Kuperhatikan orang itu. Ia tersenyum ramah. Aku membuang muka karena malu. Pemuda itu. Padahal aku baru saja mendoakannya yang jelek-jelek, tapi dia…

Aku tak pantas menerima bantuannya setelah apa yang kupikirkan tentangnya. Ia lalu berjongkok dan menatap wajah sedihku. Wajahnya lalu ikut-ikutan sedih seolah mengerti penderitaanku. Ia lalu menggamit tanganku, lalu menggenggamkan payungnya ke jemariku.
Setelah mengulum senyum ia langsung pergi sambil menerobos hujan deras. Aku merasa semakin tak enak padanya. Ia rela kehujanan dan merelakan payungnya padaku. Aku memanggil-manggilnya, tapi suara hujan mengalahkanku.

Tiba-tiba saja sebuah mobil meluncur kencang di ujung jalan. Tapi pemuda yang hendak menyebrang sambil berlari menghindari hujan itu tak menyadarinya. Gawat! Ia bisa celaka. Spontan aku pun berlari sebelum terjadi hal yang tak diinginkan. Aku berlari begitu kencang dan mendorongnya menghindar. Mobil itu semakin mendekat. Aku memejamkan mata ngeri. Aku tak peduli apa yang terjadi pada tubuhku. Bukankah sudah tak ada lagi yang peduli dan menyayangiku?

Ciiiit! Mobil itu langsung berhenti tepat di hadapanku. Tak terjadi hantaman yang menyakitkan. Kumembuka mata perlahan. Terdengar suara pintu mobil terbuka.

“Astaga! Ya Tuhan! Fay?! Faaaaaaaaaayyy!!” pekik sebuah suara yang kukenal. Seorang wanita lalu keluar dan berhambur memelukku. “Kau tidak apa-apa kan, sayang?”

Lalu seorang pria keluar dari mobil. “Ya ampun, Fay? Kau bisa berjalan?!” tanyanya tak percaya. Ia lalu menghampiriku. “Kenapa kabur dari rumah sakit? Hujan-hujan begini lagi. Kami baru saja hendak mencarimu. Kami sangat mencemaskanku, sayang.”

“A.. aku pikir ayah dan ibu sudah tak mempedulikanku lagi,” gagapku. “Di saatku menderita, kenapa kalian tak pernah menemani dan menghiburku?” protesku.

“Bodoh. Mana mungkin kami membuangmu, nak. Maafkan kami jarang berada di sisimu. Tapi itu semua demi kesembuhanmu, nak. Kami ingin melihat kau bahagia. Makanya kami sibuk ke sana kemari mencarikan dokter yang hebat dan obat agar kau bisa berjalan kembali,” tutur ibu panjang lebar. “Itulah sebabnya kami tak bisa berlama-lama menemanimu, sayang.”

“Maafkan kami, nak. Kami sudah membuatmu sedih. Kami tak nyangka kau akan berpikiran buruk seperti ini,” kata ayah sambil membelai rambutku.

Aku mengulum senyum terharu. Ternyata ayah dan ibu masih peduli padaku. Aku menyesal telah berpikiran yang tidak-tidak tentang mereka. Air mataku menetes. “Yah, Bu, aku kabur karena ingin memperlihatkan ‘ini’ pada kalian. Tanpa kursi roda lagi, aku bisa. Aku ingin membuat kalian terkejut. Oleh karena itulah aku terus melatih diri untuk berjalan. Sebenarnya aku sudah bisa berjalan beberapa hari yang lalu. Tapi aku malah jatuh dari tangga dan dilarikan ke rumah sakit.”

Aku lalu memeluk mereka hangat. “Bu, Yah, maafkan Fay. Fay sudah salah sangka pada ayah dan ibu. Fay nyesel banget sudah berprasangka buruk pada ayah dan ibu! Kalian mau kan memaafkan Fay?”

“Tentu saja, sayang. Tentu. Kau anak kami satu-satunya,” kata mereka. “Kami akan tetap mencintaimu apa pun keadaanmu.” Mereka lalu mengacak-acak rambutku.

Kami lalu saling berpelukan tanpa sadar hujan telah reda. “Aku janji akan jadi anak yang berbakti dan membahagiakan kalian. Sekarang aku sudah normal. Kalian tak perlu mengorbankan banyak hal lagi untukku,” kataku senang.

Ternyata inilah maksud dari jalan penuh bunga yang kulalui dalam mimpiku tadi. Ternyata aku akan menemukan kebahagiaanku di jalan Bunga. Ini juga tak lepas dari peranan pemuda tadi. Kalau saja tak ada dia, kami pasti takkan bisa berkumpul seperti ini.

Kutatap pemuda tadi. Ia turut tersenyum. Aku lalu menghampirinya kemudian mengulurkan tangan. “Kenalkan. Aku Fay. Terima kasih ya atas perhatiannya,” kataku. Kami pun saling berjabat tangan. “Oh iya. Nama kamu siapa?”

Pemuda itu lalu menggerakkan tangannya berupa isyarat-isyarat. Bibirnya yang tak bersuara bergerak mengucapkan vokal yang tak jelas.
Read more ...

Monday, August 23, 2010

TANIA karya ANAA

Prakata : Ini dia cerpen karya Anaa, salah satu pemenang lomba menulis cerpen yang baru saja berakhir. Yuk, kita baca rame-rame..!!

TANIA
OLEH ANAA


Hari ini, hujan mengguyur bumi. Membuat Tania enggan beranjak dari tempat duduknya. Ia masih saja asyik menikmati gemericik suara air yang menghantam tanah dan memberikan efek cipratan dikakinya. Imajinasi Tania melayang ke sebuah padang rumput hijau nan asri. Terbayang sosok sang bunda, dengan lembut menggenggam tangannya.

“Mbak Tania, ayo masuk. Ini kan sudah sore. Nanti bisa masuk angin lho”. Suara mbok Nah membuyarkan imajinasi Tania. Meski agak kesal, Tania tak menolak saat mbok Nah menuntunnya masuk ke dalam. Mbok Nah adalah satu-satunya orang yang ia miliki sekarang. Ayah, bunda, dan Diandra, adik semata wayangnya tewas dalam sebuah kecelakaan mobil. Ia sendiri sebenarnya sempat kritis, namun sepertinya Tuhan masih memberinya kesempatan untuk merasakan nikmat-Nya.

Begitu selesai berganti pakaian, Tania menuju meja makan yang letaknya bersebelahan dengan ruang dapur. Disana mbok Nah sudah menyediakan semangkuk bubur sum-sum hangat. Makanan kesukaannya yang biasa disiapkan sang bunda untuk mereka nikmati bersama. Memang sulit bagi Tania untuk melupakan itu semua, karena seluruh bagian dari rumah itu penuh dengan kenangan manis.

Malam telah larut, namun hujan belum juga reda. Hal itu membuat Tania tak kunjung memejamkan mata. Baginya, hujan adalah momen khusus yang tidak boleh untuk dilewatkan. Suasana yang tercipta, selalu berhasil menyeret Tania ke satu dimensi, dimana tak ada keterbatasan yang bisa menghalanginya. Disisi lain, mbok Nah tampak mengusap air mata yang menetes di pipinya saat memandangi anak majikan yang sudah diasuhnya sejak bayi. Mungkin wanita renta itu terlalu miris menyaksikan gadis remaja yang dulu sangat periang, kini menjadi gadis buta yang menghabiskan seluruh waktunya hanya di dalam rumah.
***

Tania terbangun saat merasakan hangat sinar mentari menyentuh kulitnya. Suasana hatinya tak terlalu bagus hari ini. Ia membanting vas, pigura, hiasan, dan seluruh benda yang berhasil dijangkau oleh tangannya. Perasaan bersalah atas kecelakaan maut itu kembali menghinggapinya, ia marah kenapa hanya dirinya yang selamat, kenapa ia tak ikut mati saja agar tak harus menderita seperti sekarang, ia juga kesal, mengingat semua teman yang dulu selalu ada, kini justru menghilang saat dirinya benar-benar membutuhkan motivasi, semua bercampur menjadi satu. Dadanya sesak, tak sanggup menampung semua beban yang dihadapinya.

Mbok Nah tampak panik saat memasuki kamar Tania, meski bukan kali ini saja gadis itu mengamuk. Beberapa saat kemudian, baru mbok Nah berhasil membuat Tania tenang. Dengan penuh kasih sayang, dibelainya rambut panjang Tania yang awut-awutan. “Mbak Tania nggak boleh begini lagi ya. Mbok sedih mbak, kalo mbak Tania ngamuk-ngamuk. Pasti Ibu juga sedih kalau ngeliat mbak begini”. Tania hanya bisa terisak mendengar kata-kata Mbok Nah barusan. Meski tak bisa melihat tapi Tania bisa merasakan bahwa wanita yang selalu setia merawatnya itu susah payah mengucapkannya karena menahan tangis.

“Kita ke dapur yuk mbak, temenin mbok masak”. Tania menurut, sebab yang diinginkannya sekarang hanyalah terlepas dari rasa sedih dan kecewa yang berlarut-larut.

“Itu yang namanya kekian mbak. Yang biasa mbok pakai buat bikin cap cay. Bentuk mentahnya kayak gitu”. “Kalau ini apa mbok?” “Itu timun mbak”. Mbok Nah tampak bersemangat menerangkan satu persatu setiap benda yang Tania pegang. Tania sendiri tampak menikmati kegiatan barunya. Meski kelihatannya sederhana tetapi banyak pelajaran yang bisa dipetik. Ternyata tak ada yang benar-benar berubah selama ini. Dirinya sendirilah yang membuat hidup Tania tampak tak berarti. Matanya memang tidak bisa berfungsi seperti dulu, tapi hatinya masih bisa merasa. Tania bersyukur sekali, meski kehilangan seluruh keluarganya, ia masih memiliki mbok Nah. Orang yang tak memiliki pertalian darah tapi sangat tulus menyayanginya.

***
Ketika tengah mengubah posisi tidurnya, tiba-tiba terdengar suara tembakan dari arah kamar mbok Bah. Jantung Tania berdegup kencang. Ia turun dari tempat tidurnya dan mengambil posisi di pojok ruangan, meringkuk ketakutan. Tidak berapa lama, pintu kamarnya yang terkunci, dibuka secara paksa dari arah luar. Suara beberapa langkah kaki mendekatinya. Tubuh Tania gemetar hebat. Kepalanya dipukul dengan benda keras. Setelah itu Tania tak ingat apa-apa lagi.

***
“Mbak…mbak…mbak tidak apa-apa?” Terdengar suara lelaki yang tidak asing ditelinga Tania. “Mbok Nah, bagaimana keadaan mbok Nah?”, Tania meronta panik begitu kesadarannya penuh. “Tenang mbak, mbok Nah sudah tidak apa-apa. Sekarang yang penting mbak istirahat dulu saja”. Mendengar mbok Nah ternyata tidak apa-apa Tania menjadi tenang. Ia juga sudah berhasil mengingat suara orang yang berbicara dengannya. Itu suara kang Usman, anak bungsu mbok Nah yang sesekali datang kerumahnya untuk mengurus kebun.

Seminggu kemudian, keadaan Tania telah pulih. Begitu mengetahui bahwa dokter mengatakan, ia sudah bisa keluar dari rumah sakit, ia terus mendesak kang Usman yang sejak kejadian malam itu senantiasa menemaninya untuk memberitahukan keadaan mbok Nah. Wajah kang Usman pucat karena kebingungan mencari cara yang tepat untuk menceritakan hal yang sebenarnya kepada anak majikan ibunya itu.

“Mbok…mbok. Tania sudah pulang mbok. Mbok dimana?” Kang Usman semakin salah tingkah. Ia benar-benar tak tahu harus bagaimana. “Kang, mbok Nah mana, kok nggak ada suaranya?” “Ehmm…mbak…simbok sudah nggak kerja disini lagi. Sudah waktunya beliau istirahat. Sekarang simbok sudah tenang”. Meski tak yakin tapi Tania tahu kemana arah pembicaraan kang Usman. Terdengar sekali dari suaranya yang serak. Tak kuasa Tania menahan air matanya, tangisnya meledak. Kang Usman sendiri hanya bisa membisu, tak kuasa mengingat bahwa Mbok Nah tewas tertembak dalam perampokan yang terjadi pada malam naas itu.
***
Tania tersenyum bangga saat namanya dipanggil sebagai salah satu juara penulis muda berbakat tahun itu. Kisah perjuangannya sebagai tuna netra yang berhasil bangkit dari keterpurukannya telah menginspirasi banyak orang. “Piala ini untuk kalian Yah, Bunda, Diandra, dan Mbok Nah”, bisik Tania saat menerima penghargaan.
Read more ...

Saturday, August 21, 2010

BERAWAL DI JENDELA KAMAR oleh DEWI

Prakata : Cerpen ini adalah salah satu cerpen yang memenangkan Lomba Menulis Cerpen yang diadakan oleh blog Sang Cerpenis dan Vixxio.

BERAWAL DI JENDELA KAMAR OLEH : DEWI


Sebuah mobil van berhenti disamping rumahku. Aku mendongak dari novel terbaruku yang tengah kubaca. Sepertinya rumah di samping rumahku kedatangan penghuni baru. Sudah satu bulan rumah itu kosong semenjak ditinggal pemilik sebelumnya. Dulu rumah itu di huni oleh keluarga Pak Chandra beserta istri dan anak semata wayang mereka yang baru menginjak SMP. Keluarga kecil itu pindah ke Jogjakarta dan sudah sejak sebulan yang lalu rumah itu digantungi papan bertuliskan 'Dijual'. Mobil van itu mengangkut banyak perabotan ruamah tangga. Seorang pria berumur yang agak tambun turun dari mobil diikuti oleh seorang wanita. Sepertinya mereka suami istri calon tetangga baruku. Pria itu tampak memberi komando dengan gerakan tangan pada dua orang laki-laki yang tengah menurunkan lemari kayu dari belakang mobil. Mereka telihat sangat sibuk memindahkan semua perabotan ke dalam rumah. Aku terlonjak kaget saat tiba-tiba ibuku memanggilku dari dalam rumah.

"Citra..."

"Ya, bu..."Aku buru-buru menyahut. Ternyata dari tadi aku terlalu asyik memperhatikan tetangga baruku.

"Disini kamu rupanya." Ibu menghampiriku di dekat kolam ikan di samping rumah. Aku tersenyum. Sikap Ibuku belakangan ini sangat over protektif. Sebentar saja aku hilang dari pandangannya, ia langsung meneriakkan namaku. Padahal aku tak mungkin bisa pergi jauh. Aku hanya bisa berada di sekitar lingkungan rumahku saja.

"Ada tetangga baru, Bu." Aku memberitahu Ibuku. Beliau menengok ke arah rumah sebelah yang hampir selesai bebenah.

"Oh...," gumamnya sambil manggut-manggut. Lalu ia kembali padaku. "Sudah, hampir maghrib. Ayo Ibu bantu kamu mandi," ucapnya sambil membawaku masuk kedalam rumah.

Aku masuk ke dalam kamarku. Menyalakan laptop. Memasang modem USB dan menyalakan internet. Benda kecil ini sangat berguna sekali untukku. Aku tetap bisa terhubung dengan dunia luar tanpa harus menunduk malu menghindari tatapan penasaran semua orang pada kakiku. Aku bisa ngobrol dengan banyak orang tanpa mereka tahu aku duduk di kursi roda. Aku telah kehilangan kedua kakiku. Dua tahun yang lalu kakiku terpaksa harus di amputasi setelah aku mengalami kecelakaan. Kedua tulang kakiku hancur. Sekarang kakiku hanya sampai dengkul saja. Dan hidupku sekarang bergantung pada kursi roda. Jangan ditanya bagaimana hancurnya aku saat itu. Entah sudah berapa banyak air mata yang ku keluarkan. Sampai sekarangpun aku kerap menangisi kemalanganku. Diam-diam merindukan sepatu high heel yang dulu sering kugunakan. Selalu iri pada orang-orang yang lewat depan rumahku yang tengah berjalan ataupun berlarian. Aku menarik diri dari dunia luar.

Tapi untunglah ibuku selalu mendampingiku. Selalu memberiku semangat dan motivasi. Hidup ini indah dan terlalu berharga hanya untuk kau lewati begitu saja. Kau tak punya kaki, tapi kau masih punya tangan yang bisa menopangmu. Mengapa kau tak pergunakan saja apa yang kau punya daripada kau menangisi sesuatu yang sudah hilang. Perkataan ibuku membuat aku mencoba bangkit. Aku belajar menulis, menggambar, melukis bahkan menyulam. Semua hal-hal yang bisa kukerjakan dengan tangan kupelajari. Dan aku tertarik pada dunia tulis menulis. Aku mencoba membuat blog. Menuliskan semua yang ada dalam benakku. Merangkai setiap kata-kata menjadi susunan kalimat yang enak di baca. Lalu aku mulai membuat cerpen. Iseng-iseng mengirimkannya pada majalah. Dan aku memekik senang saat salah satu cerpen kirimanku ternyata diterbitkan. Bukan hanya itu saja aku juga mendapat honor dari cerpen kirimanku. Makin bersemangatlah aku.

Ibuku motivasi terbesarku untuk bangkit dari keterpurukanku. Tapi aku belum berani menghadapi dunia luar. Aku masih takut melihat pandangan orang-orang padaku. Jujur, aku merasa minder dengan keadaanku. Ibuku bilang aku harus sesekali keluar rumah, tapi apa bisa beliau melepasku seorang diri keluar rumah dengan kursi rodaku. Kadang ia saja masih bertindak kelewat berlebihan terhadapku. Ibuku sering sekali membantuku mandi padahal aku bilang aku bisa sendiri. Setiap sejam sekali selalu mengecek keberadaanku. Aku tahu ia melakukan itu bukan karena menganggapku lemah, tapi itulah bentuk rasa sayangnya padaku. Seorang ibu tak kan mau berhenti untuk merawat anaknya.

Aku tengah asyik memindahkan imajinasiku ke layar komputer saat aku mendengar suara petikan gitar. Tanganku berhenti menari di keyboard. Suara gitar itu makin jelas. Aku menoleh ke arah jam di dekatku. Sudah pukul satu dini hari. Tak terasa aku sudah melewatkan malam dengan begadang. Aku menguap lalu mengulet. Merentangkan tangan keatas dan mulai merasakan kantuk. Suara gitar itu masih ada. Aku menge-save tulisanku dan mematikan laptop. Memandangi jendela kamarku lalu memutuskan menggelindingkan rodaku kesana. Aku membuka gorden dan mengintip dari balik jendela mencari sumber bunyi berasal. Ternyata dari rumah sebelah, tetangga baruku. Jendela kamarku berhadapan langsung dengan salah satu kamar di rumah sebelah yang hanya di batasi tembok penyekat yang rendah. Aku melihat seorang laki-laki. Bukan laki-laki yang kulihat tadi pagi. Ia masih muda. Mungkin sebaya atau lebih muda satu tahunan denganku tengah memainkan gitarnya. Jendela kamarnya terbuka. Makanya aku bisa dengan jelas mendengar suara petikan gitarnya. Aku terbuai mendengar alunan gitarnya yang merdu. Aku tak tahu lagu apa yang ia mainkan. Masih asing ditelinga namun sangat enak didengar. Tiba-tiba permainan gitarnya berhenti. Saat aku tersadar, laki-laki itu tengah memandangiku dipinggir jendela kamarnya. Aku tersentak dan pipiku langsung memerah. Aku ketahuan sedang mengintip. Ia tersenyum. Walau dalam keremangan tapi aku bisa melihat kedua lesung pipinya.

"Hallo, maaf ya menggangu tidurmu ?" sapanya ramah.

Aku menggeleng dan berusaha membalas senyumnya dengan grogi. "Tidak. Kebetulan aku juga belum tidur."

"Syukurlah kalau begitu. Aku tetangga baru kamu. Salam kenal. Namaku Robin." ucapnya mengenalkan diri.
"E...aku Citra" jawabku gugup. Ini interaksi pertamaku dengan orang lain setelah dua tahun aku mengurung diri.

"Citra..." gumamnya menyebut namaku. "Kamu masih sekolah?" tanyanya.

Aku menggeleng. Aku sudah menamatkan SMU dua tahun yang lalu. Saat ini mungkin aku tengah kuliah jika saja aku tak mengalami kecelakaan itu. Peristiwa itu terjadi saat aku baru saja mendaftarkan diri di universitas pilihanku. Bus yang aku tumpangi menabrak pembatas jalan dan terguling. Kakiku terjepit dan saat sadar aku sudah kehilangan kedua kakiku.

Robin ternyata dua tahun lebih muda dariku. Ia masih pelajar kelas 3 SMU. Ia pindahan dari Bali. Orangtuanya asli Jakarta. Namun ia dari lahir sudah tinggal di Bali. Keluarganya punya usaha cafe di Bali dan tengah mencoba mengembangkan usahanya di Jakarta. Kafetaria milik keluarganya tak begitu jauh dari tempat tinggal kami. Hanya berada di ujung jalan dekat jalan raya. Mungkin hanya butuh waktu 15 menit jika aku menggunakan kursi rodaku ke sana. Aku tak perlu menyebrang jalan. Jadi aku tak perlu khawatir dengan kendaraan yang lewat. Robin sudah sering mengajakku ke cafenya, tapi aku selalu menolak. Ia belum tahu aku cacat. Dan aku tak tahu reaksinya seperti apa jika ia sampai tahu. Sejauh ini obrolan kami hanya di depan jendela kamar kami masing-masing.

Sekarang aku punya pekerjaan baru, menungguinya pulang sekolah dan kami bisa menghabiskan waktu berjam-jam untuk mengobrol antar jendela. Ia sering menceritakan pulau Bali padaku. Aku baru sekali saja ke Bali. Itupun sudah lama sekali waktu aku melakukan study tour saat SMP. Aku suka dengan pantai Kuta dan Sanurnya. Menikmati dinginnya udara di Bedugul. Semuanya membuat aku rindu. Robin malah berjanji akan mengajakku ke Bali jika ia liburan sekolah. Ia bilang pantai Dreamland lebih indah dari Sanur dan Kuta yang sudah ramai oleh wisatawan. Pasirnya putih dan aku bisa bermain air sepuasnya disana. Aku hanya tersenyum tipis menanggapi ajakannya. Jika ia tahu keadaanku, apa ia masih mau mengajakku. Kurasa ia akan berpikir ulang sebelum mengajakku.

"Citra..." teriak Robin. Aku tersenyum. Aku segera membuka jendela kamarku. Tapi aku tak menemukan Robin berdiri di kamarnya seperti biasa.

"Citra..." panggilnya lagi. Aku tersentak dan segera tahu suara Robin berasal dari depan rumahku. Kepanikan melandaku. Aku teringat Ibuku sedang pergi ke Bogor, menjenguk tanteku yang sakit.

Ada apa ini mengapa Robin tiba-tiba ada di depan rumahku. Bukanlah biasanya kami bertemu di jendela kamar kami. Bisakah aku menemuinya dan memperlihatkan kakiku?

Ponselku berdering. Aku terlonjak kaget dari kursi rodaku. Aku meraih ponselku. Nama Robin tertera di layar HP. Aku bimbang, namun kemudian mengangkatnya.

"Cit..., bukain pintu dong. Kamu di dalam, kan?" ucap Robin. "Aku mau ajak kamu ke kafe. Aku baru bangun perpustakaan kecil disana. Koleksi bukuku bagus-bagus, lho. Kamu pasti senang," cerocos Robin panjang lebar.

Aku teringat ucapan Robin tempo hari tentang keinginannya membangun sebuah perpustakaan kecil di kafetaria miliknya. Robin memang pecinta buku. Aku sering dipinjaminya buku-buku yang baru di belinya. Koleksi buku yang ia punya beragam. Aku lebih suka meminjam novel science fiction miliknya.

"Hallo. Hallo.... Citra!!!"

"Eh, ya-iya," aku tergagap.

"Ayo dong, bukain pintu. Nanti aku traktir milk shake buatanku deh. Dijamin enak, lho!" Robin berpromosi.

"Iya. Tunggu," ucapku pada akhirnya.

Aku mengambil selimut di ujung tempat tidurku. Menutupi kakiku dengan selimut lalu mendorong kursi rodaku dengan enggan. Hatiku berdegup kencang. Aku takut dengan reaksi Robin. Aku takut ia nantinya menjauhiku. Aku baru mendapatkan teman yang benar-benar aku suka. Bagaimana jika ia tak mau berteman denganku lagi?

Aku menuju pintu gerbang rumah. Sebelumnya menyambar kunci di bawah pot. Dengan gemetar aku membuka kunci gembok dan membuka pintunya. Robin masuk. Ia menatapku lama dalam diam. Aku gusar. Menundukkan kepalaku karena malu.

"Bisakah, kamu tak melihatku terus-terusan seperti itu?" Aku mulai protes padanya.

"Jadi karena ini kamu tak pernah keluar rumah bahkan takut mememuiku?"

Lagi-lagi aku menunduk.

"Maaf, aku tak pernah memberitahumu sebelumnya. Tapi kalau kamu tak mau berteman denganku lagi, aku bisa terima."

"Apa? Picik sekali pikiranmu? Apa kau pikir karena kau duduk di kursi roda maka aku tak mau lagi berteman denganmu?"

Aku mengangguk. Bulir-bilir air mata mulai menetes di pipiku.

"Yang benar saja. Kau ini. Hey, suruh siapa kau menangis..!" hardik Robin. Ia jongkok di depanku. Memegangi kursi rodaku dan memandangku dengan tajam.

"Memangnya kamu siapa melarangku menangis. Ini kan airmataku sendiri. Aku tidak memintanya darimu, kan?" ucapku kesal.

Tiba-tiba Robin tertawa keras. Lalu ia berdiri dan memutar tubuhnya ke belakangku. Mendorong kursi rodaku keluar.
"Mau kemana?" Aku menahan tanganku di pintu gerbang. Menoleh padanya.

"Tadi kan aku sudah bilang mau mengajakmu ke kafe. Aku traktir milk shake biar kamu tidak nangis lagi," ledeknya sambil terkekeh. Aku cemberut.

Setelah mengunci pintu kami pergi ke kafenya. Sepanjang jalan aku menceritakan tragedi yang menimpaku hingga aku harus kehilangan kakiku. Ia tak banyak berkomentar, hanya manggut-manggut mendengar ceritaku. Dan ajaibnya aku tak menangis sama sekali waktu menceritakan hal itu pada Robin. Biasanya hanya mengingat kejadiannya saja sangat mudah memancing air mataku keluar. Dan setelah menceritakan semuanya aku merasa lega. Tidak sesulit yang kubayangkan. Aku juga senang dan cukup terkejut melihat reaksi Robin yang menerimaku tanpa ada pandangan takut atau kasihan.

Kami sampai di depan kafetaria. Ornamen Bali sudah terlihat dari luar. Pohon palem di dua sisi bangunan dihiasi dengan kain kotak-kotak hitam putih. Patung Topeng Bali menyambut kami di depan pintu kafe. Nuansa Bali juga terasa saat kami masuk ke dalam. Lukisan-lukisan penari Bali tergantung rapi di setiap dinding kafe. Suansananya sangat nyaman. Robin menggiringku ke dalam sebuah ruangan lain yang di papan pintu kacanya tertempel papan 'Perpustakaan Mini'. Rak-rak kayu berisi buku-buku menyambutku. Robin meninggalkanku. Aku menyisiri setiap rak buku yang tersusun rapi. Robin kembali masuk dengan membawa kedua orangtuanya. Pria dan wanita yang kulihat saat mereka baru pindahan dulu. Mereka tersenyum.

"Kenalkan ini Citra, temanku sekaligus tetangga kita," ucap Robin. Anehnya ia berbicara sambil menggerakkan kedua tangannya membentuk setiap kata-kata yang diucapkannya tadi. Aku sering melihat hal ini di TV yang ku tahu itu merupakan bahasa isyarat. Aku melongo. Kedua orang tuanya pun membalas dengan melakukan gerakan pada kedua tangan dengan suara sengau yang tak jelas.

"Mereka bilang mereka senang bertemu denganmu," beritahu Robin padaku. Aku salah tingkah tak tahu harus menjawab apa.

"Jawab saja mereka bisa kok membaca gerakan bibir kita."

"Oh, eh...aku juga senang bertemu dengan kalian," ucapku akhirnya. Ibu Robin mengangguk. Meraih jemariku dan mengusap lembut pungggung tanganku. Tangannya hangat. Lalu mereka meninggalkanku dan Robin. Begitu mereka pergi aku langsung mendongak pada Robin. Ia tersenyum.

"Apa kamu pikir mereka adalah orang tua yang sangat baik dan pengertian jika tiap malam anaknya selalu bermain gitar dan kamu tak pernah melihatnya mendobrak kamarku karena merasa terganggu, heh."

Aku tertawa.

"Kedua orangtuaku tuna rungu, tapi aku bangga pada mereka. Aku tak merasa malu mempunyai orang tua seperti mereka. Kau lihat walaupun mereka mempunyai keterbatasan tapi mereka bisa berhasil seperti orang normal lainnya. Begitu juga dengan kamu..." Robin menunduk di depanku dan menggenggam erat tanganku. "Jangan menutup diri lagi. Tangan ini aku yakin akan membawa keberhasilan untukmu juga."

Mataku berkaca-kaca. "Terima kasih," ucapku tersendat menahan haru. Robin mengacak rambutku. Aku pura-pura cemberut.

"Eh, apa kamu mau mengajariku bahasa isyarat?" Aku bertanya pada Robin
"Tentu saja." Robin memutar tubuhnya ke arah rak buku dan menarik sebuah buku berwarna cokelat. Lalu menyerahkannya padaku. Aku membaca judul buku itu. Belajar Bahasa Isyarat untuk Tunarungu.

"Aku pinjam, ya?"

Robin mengangguk. Ia kembali meraih buku di rak. Sepertinya sebuah novel dengan lembaran lebih tebal dari buku yang kupegang dan ragu-ragu memberikannya padaku.

"Buku ini juga bagus."

Aku tertawa geli. "Sejak kapan kamu menyukai novel seperti ini?". Aku tahu jenis bacaan yang disukai Robin. Novel-novel percintaan bukan buku bacaan favoritnya. Makanya aku kaget ia bisa punya novel seperti ini. Dan menduga-duga apakah ia juga sudah membacanya.

"Kalau kamu mau novel itu boleh untukmu?"

"Untukku. Oh, terimakasih. Kamu sudah membacanya?"

"Sudah." Robin menarik kursi dan duduk di depanku. "Ceritanya bagus tentang seorang pria yang jatuh cinta pada wanita yang lebih tua.. Kamu tahu tokoh utamanya jatuh cinta pada teman Ibunya sendiri." Lalu Robin menatapku penuh arti.. "Kamu tak masalah kan jika seorang pria menyukai wanita yang lebih tua apalagi hanya beda dua tahun."

"APA...?!!"
Read more ...

Wednesday, August 18, 2010

MENARI BERSAMA AWAN OLEH ROSAANAKMAMI

Prakata : Menari bersama Awan karya Rosaanakmami ini sudah menarik perhatian juri sejak didaftarkan di Lomba Menulis Cerpen yang diadakan oleh Sang Cerpenis dan vixxio. Judulnya keren, temanya pun oke.

MENARI BERSAMA AWAN
OLEH: ROSAANAKMAMI

Suasana ramai sekali ketika aku masuk ke ruangan. Bli Kadek hendak membantu mendorong kursi rodaku, tapi aku meyakinkannya bahwa aku bisa melakukannya sendiri. Para peserta talkshow sepertinya sudah tak sabar karena saat aku masuk mereka semua langsung menatapku. Ruangan yang tadi ramai tiba-tiba senyap, tatapan-tatapan penuh rasa ingin tahu segera menyergapku.

Aku duduk tepat di tengah-tengah meja panjang dengan tumpukan novel terbaruku, menghadap pada semua mata yang memandang tak sabar ingin acara segera dimulai. Tanpa menunggu lebih lama MC membuka acara. Dan tak terasa sampailah pada sesi tanya-jawab. Mereka sangat antusias bertanya tentang novel terbaruku sesekali diselipi pertanyaan tentang kehidupan pribadiku. Semua berjalan lancar sampai ketika seorang peserta bertanya sesuatu yang sudah tertinggal jauh.

“Apakah menjadi novelis adalah cita-cita Mbak Saras sejak kecil? Atau ada cita-cita lain yang masih ingin mbak raih? Terima kasih untuk kesempatannya.” tanyanya dengan sopan.
Aku tertegun mendengar pertanyaannya. Tiba-tiba aku terlempar ke dalam pusaran waktu duapuluh tahun lalu. Rasanya aku bisa melihat gadis kecil berumur lima tahun sedang dipangku aji tersayangnya, menonton sebuah pertunjukan tari. Ketika itu matahari hampir tenggelam sempurna manakala Sita sedang belenggak-lenggok dengan anggunnya bersama Rama yang dikelilingi pemuda-pemuda penari kecak, menyihir gadis kecil tadi. Sejak itu si gadis kecil bercita-cita ingin menjadi seorang penari yang lemah gemulai, menari dengan indah berlatar matahari tenggelam.

Aku tersadar dari lamunanku setelah Bli Kadek menyentuh lenganku dengan lembut. Melalui tatapan matanya dia mengatakan agar aku tak perlu menjawab pertanyaan itu. Tapi aku harus bisa menjawabnya agar aku bisa bebas dari segala perasaan buruk yang mungkin masih tertinggal.

“Hmmm… Sebenernya saya bercita-cita jadi penari. Seorang penari Bali yang menarikan tarian-tarian dengan gemulai dan anggun. Tapi ternyata yang bisa menari sekarang hanya jari-jari saya ya, menari di atas keyboard. Menulis cerpen atau novel.”

Aku kaget sendiri manakala aku menyadari bahwa aku bisa menjawab pertanyaan itu bahkan sambil tersenyum senang. Ya Tuhan aku bahagia bisa ada di sini sekarang, terima kasih Tuhan.

Lagi-lagi aku terbawa ke dalam pusaran waktu, kali ini pusaran waktu lima tahun lalu, aku baru saja berulang tahun yang keduapuluh. Senja itu aku sedang berkeliling ke meja-meja, bertanya pada tamu-tamu yang sedang menikmati makan malam. Aji punya sebuah restoran seafood di Jimbaran. Karena bahasa Inggrisku lancar maka aji memintaku untuk mengobrol sedikit dengan para tamu menanyakan bagaimana rasa masakannya atau sekedar menjelaskan menu makanan khas dan terbukti cara aji berhasil karena restoran kami terus berkembang dan terkenal keramahannya.

Aku ingat benar, hari itu 1 Oktober 2005, senja yang merubah hidupku, membuatku mengurung diri selama lima bulan yang menyedihkan, mengasihani diri sendiri, memaki siapa saja yang mendekatiku. Sudah hampir setengah delapan malam saat aku mengobrol dengan Mr. Michael dan istrinya yang kebetulan adalah pelanggan setia kami, mereka tak pernah absen mampir ke restoran aji kalau sedang berlibur. Mr. Michael tertawa senang seraya memuji karena cumi bakarnya enak sekali tepat sebelum ledakan pertama terdengar. Kami semua kaget dengan ledakan yang seketika membuat pandangan jadi kabur, asap dimana-mana.

Dan ketika aku baru menyadari telah terjadi ledakan, ledakan kedua terdengar yang lebih dahsyat dari ledakan pertama. Aku merasakan sakit amat sangat di kedua kakiku sebelum akhirnya jatuh pingsan

Aku tak tahu sudah berapa lama aku pingsan sampai akhirnya terbangun pagi itu. Aku melihat meme di sebelahku, memegangi tanganku dengan lembut. Aku mencoba tersenyum tapi rasanya sakit sekali. Aku bertanya pada meme apa yang terjadi, tapi meme hanya tersenyum sambil menahan bendungan bening di matanya. Aku mencoba bergerak tapi sepertinya tubuhku dipaku ke tempat tidur jadinya aku menyerah dan diam saja.

Hari-hari berlalu, aku masih belum bisa bangun atau sekedar menyangga tubuhku agar bisa duduk tegak di tempat tidur. Tadinya aku tak menyadarinya sampai Bagus, adik laki-lakiku, tidak sengaja bicara tentang tanggal hari itu. Tiba-tiba saja sebentuk kesadaran mendatangiku, bangkit dari pikiranku yang belakangan sering kosong. Seharusnya November itu aku berangkat ke Jakarta untuk menari di Festival Kebudayaan Indonesia.

Seharusnya sekarang ini aku sedang berlatih untuk memastikan bahwa tarianku sudah pas untuk kemudian ku pertunjukkan dalam festival itu. Seharusnya aku bukan ada di ruangan ini. Demi menyadari itu aku memaksakan diriku untuk bangkit dari tempat tidur. Namun yang terjadi adalah aku jatuh berdebam di lantai kamar yang dingin. Aku jatuh berdebam begitu keras, namun yang membuatku amat kaget adalah aku tak melihat kedua kakiku. Aku hanya terdiam melihat kakiku yang hanya tinggal sebatas dengkul. Aku terdiam dan merasa semua hanya mimpi. Ni Putu Saraswati kini menjadi seorang gadis buntung.

Aku melihat meme tapi meme hanya diam. Aku berpaling pada aji yang juga diam. Bagus dan Ayu pun tak bersuara. Beberapa detik sampai akhirnya aku menjerit-jerit histeris, menyadari keadaanku. Kata aji kakiku terpaksa harus diamputasi karena mengalami luka berat akibat ledakan itu. Aku menangis sampai tertidur, juga karena pengaruh obat bius yang disuntikkan saat aku mengamuk.

Setelah hari itu aku berubah menjadi amat pendiam, aku mengurung diri di kamar. Menolak siapa saja yang mencoba menghiburku. Cita-citaku hancur sudah, harapanku hilang. Aku tak bisa lagi menarikan peran Sita setiap senja dalam pertunjukan tari kecak di Uluwatu atau menari dimana pun. Aku tak bisa lagi berlatih tari di sanggar setiap pulang kuliah. Aku tak pernah lagi kuliah meski orangtuaku meyakinkan bahwa aku tetap bisa berkuliah dengan diantar-jemput Bli Made, sopir keluarga kami. Aku tak pernah lagi berbincang dengan tamu-tamu yang datang ke restoran yang biasanya kulakukan di kala senggang.

Aku bahkan menolak untuk ikut sembahyang bersama keluargaku, tak ada lagi upacara-upacara yang ku ikuti. Tuhan sudah mengambil kakiku, maka untuk apa aku memuji-Nya lagi. Hidupku menjadi amat menyedihkan, hanya berisi tangisan, jeritan dan bentakan. Aku menjadi gadis pemurung. Aku marah pada Tuhan, pada teroris yang membuatku seperti ini, pada aji, pada meme, pada semua orang. Mengapa aku yang harus mengalami ini semua.

Lima bulan kulalui dengan buruk meski keluargaku tak juga menyerah menyemangatiku untuk bangkit. Dan hari itu adalah otonanku, hari kelahiranku berdasarkan tanggalan Bali yang dirayakan setiap 210 hari. Meme memandikanku lalu memakaikanku kebaya dan kain juga membelitkan kamben. Aku hanya diam menurut tanpa ekspresi, padahal biasanya aku selalu bahagia tiap kali otonan. Setelah siap, aji mengangkatku agar bisa duduk di lantai, menghadap tempat tidurku yang dilapisi sukla dengan banten tersusun rapi di atasnya. Aku hanya diam selama upacara berlangsung sampai akhirnya giliranku yang harus sembahyang namun sebenarnya aku tak mengucapkan apa-apa bahkan dalam hatipun tidak. Setelahnya tirta suci dicipratkan kepadaku, kening dan leherku ditempeli bija, aku menelan sebutir bija lainnya lalu tanganku diolesi base. Terakhir aku dipakaikan benang putih yang dijalin halus. Otonanku sudah selesai, aku bernapas lega karena bisa kembali sendirian di kamarku.

Ketika itulah, saat aku melihat jalinan benang putih yang dipakaikan di tanganku, tiba-tiba saja penerimaan itu datang. Aku memang sudah tak mempunyai kaki, sudah tak bisa melakukan banyak hal yang dulu bisa ku lakukan. Tapi Tuhan begitu baik, Tuhan memang mengambil kakiku, tapi kedua tanganku masih utuh, mataku masih bisa melihat, telingaku masih mampu mendengar, begitupun dengan organ tubuhku yang lainnya masih bekerja dengan baik. Tuhan begitu baik sudah memberiku hidup. Yang bisa ku lakukan untuk membalas semua kebaikan-Nya adalah dengan hidup yang berguna, melakukan banyak kebaikan, dan kembali memuji-Nya seperti dahulu.

Aku mengambil kertas dari laciku, mulai menulis apa yang ku rasakan juga tentang hal-hal yang telah terjadi. Aku menulis sampai lelah dan tiba-tiba saja sudah berlembar-lembar kertas penuh dengan tulisanku. Ayu masuk saat aku masih asik menulis, aku tersenyum padanya, menyuruhnya masuk. Itulah senyum pertamaku setelah lima bulan terakhir.

Sejak hari itu aku mulai keluar dari kamar, beradaptasi dengan kursi rodaku. Aku mulai berdamai dengan keadaanku, tertawa bersama adik-adikku, mengobrol bersama meme, kadang juga berdebat dengan aji. Aku kembali mejalani hari-hariku dengan normal sambil terus menulis, dan aku mulai menulis dengan laptop kesayanganku. Tahun ajaran berikutnya aku kembali berkuliah. Teman-temanku juga amat baik, mereka sering membantuku manakala aku kesulitan dengan kursi rodaku. Hari-hariku berubah menjadi menyenangkan dan ceria.

Seperti belum cukup kebahagiaan yang ku temukan kembali, aku mendapat tawaran untuk membukukan cerpen-cerpenku. Salah seorang teman Ayu yang kebetulan bekerja di sebuah penerbitan buku memberikan tawaran yang bahkan tak pernah aku impikan. Awalnya Ayu diam-diam membawa cerpenku untuk ditunjukkan padanya, dan ternyata menurutnya cerpen-cerpenku bagus sehingga dia meminta Ayu untuk mengenalkannya padaku. Akhirnya cerpen-cerpenku dibukukan, cerpen-cerpen yang tadinya hanya ku tulis untuk sekedar terapi bagi hatiku.

Bli Kadek menggenggam tanganku, menyadarkanku dari perjalanan pusaran waktu yang rasanya sudah lama sekali berlalu. Semuanya sudah tertinggal jauh di belakang. Aku berhasil menyelesaikan sarjanaku. Aku menikmati hidupku yang bahagia dan kesibukanku sekarang adalah menulis. Bahkan sekarang aku sedang menghadiri talkshow peluncuran novel terbaruku. MC mempersilahkan satu pertanyaan lagi sebelum acara diakhiri.

“Siang Mbak Saras, menurut gossip katanya mbak mau menikah bulan depan? Kalau boleh tahu siapa pangeran yang beruntung itu?” tanya seorang peserta. Pipiku seketika menjadi panas. Bli Kadek malah tenang sekali, mempererat genggamannya, mengangguk tersenyum padaku.

“Iya, saya akan menikah bulan depan dengan pangeran tampan yang ada di sebelah saya ini..” Aku membalas senyuman Bli Kadek, pangeranku yang meskipun tak bisa membawaku dengan kuda putihnya tapi dia bersedia menggendongku dengan kedua tangannya.

Acarapun selesai. Aku amat bahagia seperti baru saja berhasil membawakan satu tarian indah. Kalau aku tak bisa menari dengan kedua kakiku, maka aku akan menari dengan jari-jariku, menulis banyak kisah, membiarkan hatiku menari dengan bebas.
Read more ...
 
Indonesia dulu dikenal sebagai bangsa yang toleran dan penuh sikap tenggang rasa. Namun, kini penilaian tersebut tidak dapat diamini begitu saja, karena semakin besarnya keragu-raguan dalam hal ini. Kenyataan yang ada menunjukkan, hak-hak kaum minoritas tidak dipertahankan pemerintah, bahkan hingga terjadi proses salah paham yang sangat jauh.
free counters

Blog Archive

Seseorang yang mandiri adalah seseorang yang berhasil membangun nilai dirinya sedemikian sehingga mampu menempatkan perannya dalam alam kehidupan kemanusiaannya dengan penuh manfaat. Kemandirian seseorang dapat terukur misalnya dengan sejauh mana kehadiran dirinya memberikan manfaat kearah kesempurnaan dalam sistemnya yang lebih luas. Salam Kenal Dari Miztalie Buat Shobat Semua.
The Republic of Indonesian Blogger | Garuda di DadakuTopOfBlogs Internet Users Handbook, 2012, 2nd Ed. Avoid the scams while doing business online

Kolom blog tutorial Back Link PickMe Back Link review http://miztalie-poke.blogspot.com on alexa.comblog-indonesia.com

You need install flash player to listen us, click here to download
My Popularity (by popuri.us)

friends

Meta Tag Vs miztalie Poke | Template Ireng Manis © 2010 Free Template Ajah. Distribution by Automotive Cars. Supported by google and Mozila