

Akhir-akhir ini saya lumayan stress menghadapi papa yang sedang sakit. Kalau orang lain stress, biasanya jadi doyan makan atau marah-marah. Saya malah jadi gila menulis. Kemarin saja sudah menulis 4 artikel untuk blog Sang Cerpenis. Semuanya untuk postingan terjadwal sih. Tapi, saya jadi kaget sendiri. Lho...banyak amat? Kenapa jadi banyak ide gini?
Hmm, siapa bilang mencari ide sulit? Bahkan, lagi stress pun kita bisa dapatin ide, seperti ide tulisan ini. Tiba-tiba saja muncul saat lagi stress. Padahal, saya sempat bingung mau kasih pelajaran apa lagi nih untuk para murid. Ha ha ha...
Well, menulis itu memang menyenangkan, bukan? Kalian bisa meramu sebuah tulisan dari kesedihan, kebingungan kalian. Jadi, enggak usah bingung kalo kehabisan ide. Coba gali lagi masalah apa yang pernah kalian hadapi? Masalah di masa lalu? Masalah yang sedang digeluti saat ini? Masalah yang akan datang yang sedang kalian cemaskan?
Mengapa semua masalah itu enggak dijadikan sebuah ide tulisan?
Tidak harus sama persis dengan masalah yang kalian hadapi, tapi bisa dibumbui. Bahkan, bisa ditambahkan cara penyelesaiannya. Tentu saja cara penyelesaian yang kalian impikan tapi dalam kenyataannya sulit dilaksanakan. Nah, dengan menuliskannya secara enggak lalngsung sudah mengobati perasaan sedih dan stress. Karena ketika kita menulis, semua yang mengganjal tercurah keluar. Plong deh jadinya. Sukur-sukur, tulisan itu bisa berbentuk cerpen. Kalo toh enggak berbentuk cerpen, kan bisa jadi diary. Anggap saja, sedang latihan mengungkapkan perasaan lewat tulisan.
So, mari menulis masalah yang sedang kamu hadapi. Bisa 'kan?
Kalo kamu serius mau menekuni bidang menulis. Menulis apa aja deh. Entah itu cerpen, puisi, artikel-artikel serius, berita, dll. Maka, kamu kudu wajib punya kamus, terutama kamus Bahasa Inggris, Kamus Besar Bahasa Indonesia dan Tesaurus Bahasa Indonesia.
Akan lebih bagus lagi kalo kamu punya Kamus Idiom/ungkapan dalam bahasa Inggris, kamus peribahasa Indonesia dan beberapa kamus bahasa daerah.
Semua ini untuk memudahkan kamu mencari kata-kata yang bervariasi saat menulis. Termasuk membantu kamu saat kebingungan mencari kata-kata yang tepat. Selain itu, kalo kamu ragu akan arti sebuah kata, kamu juga bisa mencarinya di kamus. Melihat apa sih arti dari kata itu. Apa sinonimnya, dll.
Btw, saya mau tunjukin beberapa kamus yang saya miliki dan...kalo kamu mau, kamu bisa beli kamus serupa.
Yang saya tunjukkan hanya beberapa kamus penting. Masih ada lagi kamus-kamus lainnya tapi saya malas mengeluarkannya dari lemari buku.
Apa yang akan kamu lakukan jika cerpen yang kamu kirim ditolak? Apakah kamu langsung sedih, kecewa dan putus asa? Eits! Jangan dulu merasa sedih, kecewa dan putus asa.
Cerpen ditolak pasti ada beberapa sebab, seperti :
- syaratnya tidak terpenuhi misalnya : jumlah halamannya terlalu panjang atau terlalu pendek. Jelas aja ditolak.
- alur ceritanya tidak bagus.
- isi cerpen tidak sesuai dg misi majalah/surat kabar. Misal : cerpen bertema remaja kamu kirim ke majalah wanita dewasa. Ya, jelas nggak dimuat dong.
- cerpen kamu nyelip, lupa dibaca saking banyaknya cerpen yang masuk. Ini sih jarang terjadi kali.
- hal-hal lain yang tak terduga.
Dari sekian banyak sebab yang membuat cerpen ditolak, maka saya ingin membahas sebab yang paling logis, yaitu alur cerita yang nggak bagus.
Nah, kalau kamu sudah sadar bahwa cerpen kamu memang nggak bagus sehingga nggak layak muat, kamu harus segera mengoreksi ulang cerpenmu. Baca dan pelajari bagian mana yang jelek. Lakukan editing terhadap bagian-bagian yang jelek itu. Bila perlu, ganti judulnya. Karena bisa jadi judulnya saja sudah tidak menarik.
Bahkan, kalau kamu merasa cerpenmu itu memang benar-benar jelek, lakukan perombakan secara total. Mungkin tema tetap sama tapi alur kisah, tokoh, konflik dan lain-lain dirubah seluruhnya sehingga menjadi sebuah kisah baru yang lebih manis.
Kenapa saya berani menyarankan hal ini? Karena saya pernah merombak total beberapa cerpen yang ditolak, lalu setelah diedit ulang dan diganti judul, saya coba kirim lagi ke media cetak, ternyata dimuat.
Bahkan, ada cerpen saya yang sudah ditolak tahun lalu - setelah saya edit dan ganti judulnya dan dikirim ke majalah yang pernah menolaknya - eh...dimuat tahun ini oleh majalah itu. Berarti, cerpen pertama yang ditolak itu memang perlu diedit.
Ada juga cerpen yang ditolak oleh majalah A lalu saya revisi dan kirim lagi ke majalah B, ternyata dimuat oleh majalah B. Padahal, lebih sulit menembus gawang seleksi editor di majalah B ketimbang majalah A.
So, jangan cepat menyerah kalau cerpenmu ditolak! Bukankah kegagalan adalah sukses yang tertunda?
Buat kamu-kamu yang sudah sering bikin cerpen dan punya stok cerpen cukup banyak, mungkin kamu pernah bertanya-tanya. Mau dikirim kemana nih cerpen-cerpen saya?
Nah, saya punya usul buat kamu yang sudah siap mengirim cerpenmu. Sering-sering aja ke toko buku buat hunting majalah. Lho? Buat apa?
Yah, buat ngecek alamat redaksi plus alamat imel majalah ybs. Dengan mengetahui alamat redaksi plus imelnya, 'kan kamu bisa kirim tuh cerpen ke sana. Tapi, enggak semua majalah bisa diintip begitu aja lho. Karena ada majalah yang dibungkus plastik rapat-rapat.
Kalau sudah begini, mau gak mau kamu harus rela keluar kocek. Beli deh tuh majalah. Atau..kalo mau lebih murah, beli aja di tempat penjualan majalah bekas. Bisa juga pinjam majalah milik temanmu, saudaramu, tetanggamu. But...jangan lupa dikembaliin ya. He he he....
Paling afdol sih beli sendiri. Jadi, kamu bisa puas membaca majalah itu, sekalian baca cerpen yang ada di majalah tsb. Survei dong! Survei. Buat meneliti lebih jauh seperti apa cerpen yang disukai sang editor majalah itu.
Pokoknya, kalo kamu memang niat banget jadi cerpenis, harus rela ngorbanin uang jajan kamu untuk beli majalah yang jadi target kamu. Jangan cuma satu majalah lho. Kalo bisa sebanyak-banyaknya. Dengan demikian kesempatan kamu akan lebih lebar. Kamu bisa kirim cerpen ke lebih dari 1 majalah. Siapa tahu di antara sekian banyak majalah yang kamu incar itu, ada yang bisa memuat karyamu.
So..tunggu apa lagi? Ayoooo! Hunting majalah! Sisihkan uang jajanmu. Kalo perlu, puasa dulu jajan baksonya. He he he he...
Saya senang sekali dengan antusiasme para murid yang ingin sekali ngirim cerpen ke majalah. Tapi, sayang sekali banyak yang tidak tahu bagaimana caranya. Sebenarnya, dulu ketika baru pertama kali mengirim cerpen ke media cetak, saya juga buta. Tidak tahu syarat-syaratnya, tetapi saya selalu memerhatikan semua isi majalah yang menjadi sasaran saya. Biasanya - entah di halaman pertama atau paling belakang - sering tercantum kolom kecil yang berisi syarat untuk pengiriman naskah. Jadi, kalau kalian mau kirim cerpen ke sebuah majalah/surat kabar, periksa saja dengan teliti halaman-halaman pertama dan terakhir. Kalau tidak ada juga, coba cek semua halaman dari atas sampai bawah.
Tapi untuk membantu kalian, saya akan coba memaparkan yang saya tahu mengenai syarat pengiriman cerpen ke majalah.
- TEMA CERPEN :
Sesuaikan dengan visi dan misi majalah/surat kabar yang menjadi sasaran kalian. Kalau majalah remaja, tentu saja temanya untuk anak remaja. Jangan sampai cerpen bagus kamu tidak dimuat gara-gara tidak sesuai dengan visi dan misi majalah/surat kabar. Akan lebih sip jika kalian beli dulu majalah yang akan dituju, baca cerpen yang dimuat di majalah itu sehingga kalian tahu kira-kira tema seperti apa yang disukai redaksi majalah tersebut.
JUMLAH HALAMAN :
Ini yang paling penting, karena jumlah halaman yang tidak memenuhi syarat bisa menjadi alasan tidak dimuat sebuah cerpen. Padahal, cerpennya sudah bagus. Sayang sekali kan? Karena itu, jangan sampai cerpen yang kalian buat melebihi jumlah halaman yang diminta. Biasanya, jumlah halaman yang diminta adalah 5 - 7 halaman folio. Tapi, tergantung majalahnya juga.
- JUMLAH KATA :
Ada pula majalah yang sangat memerhatikan jumlah kata yang terdapat dalam sebuah cerpen. Cara mengetahui jumlah kata : klik TOOLS di jendela Word kalian, lalu klik WORD COUNT. Nanti akan terlihat : pages, words, characters (dg spasi) characters (tanpa spasi).
- JUMLAH KARAKTER :
Harus dibedakan antara jumlah kata dengan jumlah karakter. Yang dimaksud jumlah karakter adalah jumlah kata lengkap dengan tanda baca dan spasi antar kata. Sedangkan jumlah kata adalah jumlah kata yang ada di cerpen. Untuk mengecek jumlah karakter caranya sama dengan mengecek jumlah kata.
- SPASI :
Biasanya spasi yang diminta adalah spasi dobel (rangkap). Ini untuk memudahkan editor membaca karya kalian. Kalau terlalu rapat, kan susah bacanya. Bikin mata pedes. Untuk mengecek spasi bisa klik Format lalu klik paragraf dan cari di Line Spacing. Di situ tercantum berbagai pilihan spasi. Ada 1,5 lines, single, double, dll
- ALAMAT EMAIL DAN ALAMAT KANTOR REDAKSI :
Perhatikan cara pengiriman cerpennya, apakah bisa via email atau harus dikirim by pos? Kalau harus dikirim by pos berarti kalian harus mengetik dan mencetaknya di atas kertas sesuai ukuran yang diminta. Setelah itu baru dikirim lewat pos. Perangkonya jangan sampai kurang ya? Nanti tidak sampai lho!
Kalau dikirim lewat email sih mudah dan cepat. Tapi tak semua majalah mencantumkan alamat email dan bersedia menerima naskah by email.
- NOMOR REKENING :
Jangan lupa cantumkan nomor rekening kalian untuk memudahkan pengiriman honor cerpen kalian. Usahakan norek atas nama kalian sendiri. Bukan atas nama orang lain. Biasanya, norek yang diminta adalah norek BCA. Kalau tidak ada norek BCA,bisa dengan norek Bank lain tapi mungkin akan dipotong biaya kirim. Semuanya tergantung kebijakan redaksi. Hanya saja, hampir semua redaksi majalah/surat kabar punya norek BCA.
- BIODATA :
Boleh disertakan di halaman terpisah dari cerpen kalian apabila memang diminta, tapi jika tidak diminta yaaa...tidak usah diberikan. Isi Biodata biasanya berupa :
Nama lengkap, Nama samaran (kalau kalian mau pakai nama samaran), tempat/tgl lahir, pekerjaan, alamat rumah dan nomor telpon/handphone.
- NOMOR TELPON/HAPE :
Ini yang paling penting. Karena kalau cerpen kalian dimuat, biasanya akan diberitahukan by phone. Jarang sekali pemberitahuan via email. So, jangan sampai lupa mencantumkan nomor telpon. Kalau bisa, nomor telpon/hape yang pasti. Jadi, kalau berniat ngirim cerpen, jangan suka ganti-ganti nomor hape ya?
- JANGKA WAKTU TUNGGU :
Setelah cerpen dikirim, kalian tunggu saja kira-kira 3 bulan sejak tanggal naskah diterima. Biasanya, bila lewat 3 bulan tidak dimuat, berarti cerpen ditolak. Tetapi, cerpen saya pernah dimuat setelah 1 tahun lewat. Saya sendiri sampai kaget, tak menyangka cerpen itu dimuat karena sudah lama sekali. Namun itu jarang terjadi. Tiga bulan adalah batas waktu tunggu yang umum.
Oke, selamat mencoba mengirim cerpen ya. Good Luck!
Prakata : TIPS INI sudah pernah diposting di blog Sang Cerpenis, tetapi saya pindahkan ke blog ini aja. Biar para murid bisa mempelajarinya. Mau tahu tipsnya? Simak yang satu ini!
- Biasanya sebelum mengirim sebuah cerpen, saya akan membeli majalah yang menjadi target saya. Saya baca dan pelajari cerpen yang dimuat di majalah itu. Dari situ, akan terlihat cerpen jenis apa yang disukai redaksi majalah itu. Tapi, jika ternyata cerpen saya berbeda genrenya dengan cerpen di majalah itu, maka saya akan menunda pengiriman cerpen. Setidaknya, sampai saya sudah menghasilkan cerpen dengan genre yang sama. Secara kalau genrenya beda, sebagus apapun karya kamu, belum tentu dimuat.
- Perhatikan persyaratan yang biasanya tercantum di halaman awal majalah. Misal :
Jumlah halaman, jumlah karakter, spasi dsbnya.
- Paling bagus kalau mengirim cerpen via e-mail (dari sisi editor : lebih mudah mengeditnya, dari sisi penulis : lebih hemat biaya dan lebih praktis). Tapi tidak semua majalah mau menerima cerpen by e-mail. Jika demikian, mau nggak mau cerpen harus di print dan dikirim via pos.
Boleh juga kalau kamu telpon ke kantor redaksi majalah ybs, tanya apakah ada alamat e-mailnya (kalau kamu memang lebih suka ngirim by e-mail tapi tidak tahu alamat e-mailnya/tidak tercantum di majalah).
- Untuk cerpen yg dikirim via pos, harus diprint di kertas yang bersih (bisa folio
atau A4, tergantung persyaratan). Jangan bolak balik ya. Masukkan cerpen kamu
ke amplop coklat panjang. Jangan dilipat. Kesannya tidak rapi.
- Di halaman akhir cerpen cantumkan nama jelas, alamat lengkap, nomor ponsel/telpon rumah, nomor rekening. Kalau mau pake nama samaran boleh saja tapi jangan lupa cantumkan juga nama jelas kamu (nama yg sesuai dengan nama di rekening kamu, agar pihak redaksi gak bingung saat ngirim honor).
- Pengiriman yang dilakukan via email tidak usah pakai kata pengantar segala.
Editor sudah cukup sibuk. Jangan ditambah kesibukan baru buat baca kata pengantar kamu. Tapi jangan lupa tulis subjek : CERPEN atau FIKSI (liat persyaratannya, apakah harus tulis cerpen atau fiksi). Kata pengantarnya cukup :TERLAMPIR. Lalu cerpen yang kamu simpan di word, kamu attach aja.
- Cek lagi, apakah sudah berhasil dikirim. Kalau belum, coba lagi. Karena kadang-kadang ada majalah yang inboxnya sudah penuh cerpen tapi belum dibersihkan.Saya sering tuh mengalami yang kayak gini. Failure terus. Kalau masih belum bisa juga, tunda pengiriman 2 atau 3 hari.
- Jika masih gagal juga (undelivered terus) lebih baik telpon ke redaksi majalah
ybs. Tanya apakah ada alamat email lain? Atau, tanya aja kenapa gak bisa ngirim
cerpen by email. Barangkali, alamat email sudah ganti. Memang kesannya niat banget ya. Tapi, kalau mau jadi cerpenis yaa…harus ada perjuangan dong.
Nah, kalau cerpen sudah berhasil terkirim, kamu tinggal tunggu deh!
Masa menunggu ini paling menjemukan. Pernah cerpen saya yang sudah setahun dikirim baru dimuat. Capeeee deh! Makanya, sebaiknya setelah kirim, lupakan saja. Kalau makin ditunggu dan diharapkan terbit, malah jadi bete sendiri.
Tapi supaya tidak terjadi pengiriman ganda (satu cerpen dikirim ke 2 majalah) lebih baik kamu buat catatan di notes atau di ponsel. Misal : cerpen berjudul AAA dikirim ke majalah C, cerpen berjudul BBB dikirim ke majalah D). Kalau mau lebih detail, boleh juga ditulis tgl pengirimannya. Karena biasanya….kalau sudah lewat 3 bulan tapi tidak ada kabar dari redaksi, berarti cerpen kamu gak dimuat. Walaupun tidak selalu begitu.
Kalau cerpen kamu dimuat, biasanya 2 minggu sebelumnya akan diberitahu by phone or email. So, rajin-rajinlah ngecek email. Saya pernah nggak ngecek email lantaran pergi melancong selama 3 minggu. Tau-tau, honor udah masuk ke rekening. Saya jadi kelimpungan deh mencari majalah yang memuat cerpen saya itu.
Secara nggak semua redaksi mau mengirimkan majalah yang memuat karya kita, maka sebaiknya kalau ada pemberitahuan by phone tentang cerpen kita yang akan dimuat, jangan lupa tanya di edisi berapa? Supaya kamu bisa membeli majalah itu dan gak kehabisan.
Ada juga sih, redaksi yang royal dan mau ngirimin majalah yang memuat karya kita. Tapi, kadang-kadang mereka juga kehabisan stok.
Well, itu aja tips dari saya. Selamat menulis cerpen!