Wednesday, February 16, 2011

Susu Sapi Hanya Baik untuk Anak Sapi

Bagaimana jika ada yang mengatakan kepada Anda bahwa keyakinan, kepercayaan Anda sejak kecil ternyata tidak benar. Bukan sekedar tidak benar, lebih tepatnya salah total. Kurang lebih seperti membayangkan ada yang mengatakan kepada Anda bahwa Tuhan yang Anda sembah ternyata salah.
Susu Sapi Hanya Baik untuk Anak Sapi
Wah wah wah, bisa perang dunia nih. Sejarah mencatat bahwa sebagian perang yang menelan korban jiwa besar adalah perang karena alasan agama.

Beruntung yang satu ini bukan agama atau Tuhan, melainkan susu.

Ya, sejak kecil sepanjang hidup kita sudah dicekoki dengan pengetahuan bahwa susu adalah minuman terbaik yang penuh gizi, vitamin dsb. Sampai-sampai di Indonesia ada slogan “Empat Sehat Lima Sempurna”, yang kurang lebih bisa diartikan kalau belum ada susu ya kesehatan kita belum sempurna.

Hmm, siapakah yang berani-beraninya menyebutkan susu itu bukan minuman sehat. Bukan sekedar bukan minuman sehat, dalam satu kalimatnya malah disebutkan susu adalah minuman yang buruk.

Bagi para gastroenterelogis dan ahli bedah di seluruh dunia, "Hiromi Shinya", MD tidak perlu diperkenalkan lagi. Sebagai seoragn pelopor pembedahan menggunakan kolonoskop (dialah yang mengembangkan teknik tersebut - yang diberi nama sesuai dengan namanya - dan membantu merancang peralatan yang digunakan), Dr. Shinya dikenal luas sebagai salah seorang dokter terkemuka di dunia.
Susu Sapi Hanya Baik untuk Anak Sapi
Dr. Shinya telah berpraktek kedokteran selama lebih dari empat puluh tahun, mengobati para presiden, perdana menteri, bintang filem, musisi, dan banyak, banyak lagi pasien lain yang tidak terkenal. Sepanjang karir kedokterannya, Dr. Shinya telah memeriksa lambung dan usus lebih dari 300.000 orang. Saat ini Dr. Shinya menjabat Profesor Klinis Pembedahan di Alber Einstein College of Medicine, New York City, dan Kepala Unit Endoskopi Bedah di Beth Israel Medical Center.

Susu dan Osteoporosis

Salah satu miskonsepsi umum yang terbesar mengenai susu adalah bahwa susu membantu mencegah osteoporosis. Oleh karena jumlah kalsium dalam tubuh kita berkurang seiring dengan bertambahnya usia, kita diberi tahu untuk minum susu yang banyak untuk mencegah osteoporosis. Namun ini adalah kesalahan besar. Minum susu terlalu banyak justru menyebabkan osteoporosis.
Susu Sapi Hanya Baik untuk Anak Sapi
Penjelasannya begini, kadar normal kalsium dalam darah manusia berkisar pada 9 - 10 mg. Pada saat minum susu, konsentrasi kalsium dalam darah akan meningkat tiba-tiba. Peningkatan yang tidak seharusnya ini memiliki sisi buruk, tubuh berusaha mengembalikan keadaan abnormal ini kembali normal dengan membuang kalsium dari ginjal melalui urine. Dari empat negara susu besar: Amerika, Swedia, Denmark, dan Finlandia justru paling banyak ditemukan kasus retak tulang panggul dan osteoporosis.

Susu pada wujud alaminya mengandung banyak unsur yang baik. Susu mengandung banyak jenis enzim, juga mengandung laktorerin yang dikenal memiliki efek antioksidan, anti peradangan, antivirus, dan pengatur imunitas tubuh. Namun susu yang dijual di toko-toko telah kehilangan seluruh sifat baik ini melalui proses pengolahannya.

Susu segar terdiri dari sekitar 4% lemak, sebagian besar terdiri dari partikel-partikel yang berbentuk butiran-butiran kecil. Jika susu segar dibiarkan, lemak akan membentuk lapisan krim di permukaan. Ketika susu segar masuk industrialisasi, susu dan lemak susu mengalami proses homogenisasi. Proses ini menyebabkan lemak susu menjadi lemak terhidrogenisasi (lemak teroksidasi) atau dapat dikatakan telah berkarat. Seperti halnya semua lemak terhidrogenisasi, lemak dalam susu homogen buruk bagi tubuh.

Susu untuk bayi

Kebanyakan orang memiliki cukup banyak enzim laktase ketika masih bayi. Enzim laktase ini berguna untuk mengurai laktosa. Laktosa adalah zat gula yang hanya terdapat dalam susu mamalia. Ketidakmampuan mengurai laktosa akan menyebabkan diare. Hal ini sering ditemui ketika bayi berganti dari ASI ke susu formula.

Seiring bertambahnya usia, enzim laktase pada manusia semakin berkurang dan tidak dimiliki lagi oleh orang dewasa. Hal ini menjelaskan mengapa sebenarnya Tuhan menciptakan manusia dan segala jenis mamalia lain hanya perlu minum susu ketika masih bayi, ketika belum bisa mencerna jenis makanan lain

Tidak ada mamalia lain di dunia ini yang minum susu setelah dewasa (kecuali homo sapiens = manusia).

Pengetahuan-pengetahuan baru yang membuat kita terkaget-kaget berulang kali ini ditulis Dr. Hiromi Shinya dalam bukunya The "Miracle of Enzyme".

Buku yang awalnya booming di Jepang, ketika diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris dengan judul asli “The Enzyme Factor” rata-rata terjual 100.000 copy setiap bulan sejak tahun 2008 - 2009 menjadikan buku tersebut salah satu bestseller buku kesehatan populer. Apa yang dituliskan di buku tersebut sangat sejalan dengan belasan buku diet kesehatan lain, juga bisa menjelaskan menu diet ketat bagi penderita kanker.

Penjelasan mengenai susu diatas hanya sebagian kecil dari isi buku The Miracle of Enzyme yang sesungguhnya menjelaskan pentingnya enzim bagi manusia. Selama ini enzim hanya dianggap sebagai katalisator (pemercepat) dalam proses metabolisme tubuh dan bukan sebagai zat utama. Itu mengapa dalam semua jenis makanan saat ini, yang menjadi perhatian adalah kandungan protein, kandungan vitamin, dan karbohidrat. Sedikitpun tidak ada yang menginformasikan mengenai kandungan enzim.

Padahal menurut Dr. Hiromi Shinya dalam bukunya, faktor enzim adalah sangat penting. Semua aktivitas metabolisme tubuh memerlukan enzim, namun cadangan enzim manusia adalah tidak tak terbatas. Hal ini bisa menjelaskan mengapa kemudian ada orang yang terkena sakit kanker dan berbagai jenis penyakit lain.

Walaupun menghabiskan sebagian besar hidupnya sebagai dokter, Dr. Hiromi Shinya juga mengkritik ilmu kedokteran modern (barat) yang meenganggap organ tubuh manusia sebagai komponen-komponen terpisah sehingga pengobatan barat tidak melihat kesehatan manusia sebagai suatu kesatuan fungsi yang terintegrasi.

Peringatan: Jangan membaca buku ini jika Anda bukan termasuk orang yang open minded. Namun sebaliknya jika Anda termasuk manusia yang open minded, terbuka untuk berbagai pengetahuan dan kemungkinan yang lebih baik, hanya satu rekomendasi,  "belilah buku ini"
Read more ...

Saturday, January 8, 2011

Susu Kerbau Dibilang Susu Sapi

Oleh: Abdurrahman Wahid

Pada tanggal 1 Oktober 2004 malam, penulis berangkat ke Korea Selatan. Keberangkatan itu untuk mengikuti konfokasi para pemimpin dunia, yang diselenggarakan di Seoul. Setelah semalam di perjalanan, penulis sampai di ibu kota Korea Selatan itu, dan besok paginya (3 Oktober 2004) menyampaikan pidato di hadapan forum tersebut. Penulis menyatakan, gagasan menghimpun kekuatan-kekuatan beraneka ragam untuk mencapai perdamaian dunia, haruslah diimbangi oleh kemampuan memahami alur-alur kekuatan besar yang ada secara global saat ini. Penulis melihat dua buah alur utama “menguasai” keterlibatan semua pihak, dan karenanya tidak dapat diabaikan. Pertama, adalah pemikiran ideologis tanpa Tuhan, yang sekarang dipimpin oleh Republik Rakyat Tiongkok yang semula adalah ideologi komunis. Kedua, adalah ideologi demokratik yang tadinya berasal dari nilai-nilai Kristiani. Namun sayang, nilai-nilai itu dikuasai oleh pemikiran materialistik juga.

Alur kedua itu juga terpecah menjadi dua. Pertama, demokrasi yang bersendikan nilai-nilai kaum Protestan (lebih di kenal dengan sebutan nilai-nilai WASP -White Anglo Saxon Protestan) yang dipimpin Presiden George W. Bush Jr dari AS. Kedua, bertumpu pada nilai-nilai agama Katholik di bawah pimpinan Sri Paus. Saat ini terutama berkembang di dua buah negara dengan mayoritas penduduk orang-orang Katholik, Jerman dan Prancis. Kedua macam demokrasi dengan tumpuan berbeda-beda itu, rasa-rasanya pantas dimasukan ke dalam sebuah pola, yang semula berintikan nilai-nilai Kristiani, namun sekarang telah menjadi faham sekuler yang berwatak materialistik, namun tetap mengaku bersandar kepada nilai-nilai Kristiani. Tentu saja, cara penulis melakukan pembagian itu akan banyak ditentang orang, namun biarlah sejarah yang akan memberikan penilaian nanti setelah terjadi polemik yang berkepanjangan.

Nah, tentu saja ada tempat bagi alur ketiga, yaitu berbagai pemikiran dan pandangan yang bersumber pada agama-agama yang berkembang di Asia, termasuk berbagai pandangan Kristiani. Ini bukan masalah membenarkan atau menyangkal apa yang kita anggap sebagai “kenyataan sejarah” di masyarakat-masyarakat Asia, termasuk faham-faham yang berasal dari spiritualitas Kristiani di Asia, yang justru menerima keragaman sebagai sesuatu yang memperkaya agama tersebut. Lihat saja bagaimana gereja Asia yang diperkaya oleh berbagai perkembangan lokal. Dapat diambil sebagai contoh, bagaimana sekarang gamelan juga dapat menjadi bagian dari Liturgi Gereja. Demikian juga agama Islam dengan Yahudi (Judaisme), yang harus memikul beban kesejarahan sebagai sebuah faham yang berada di benua tersebut. Dalam hal ini, antara Islam dan agama tersebut harus ada perdamaian yang langgeng, bukannya pertentangan terus menerus.

Penulis tidak tahu, apakah pembagian yang dilakukannya itu diterima oleh sidang, walaupun sewaktu keluar dari sidang, penulis banyak didukung oleh teman-teman yang mengikuti forum. Mengapa? Karena selesai berpidato, penulis langsung terus ke lapangan terbang Incheon, yang terletak lima puluh kilometer dari Seoul. Maklumlah, penulis harus mengejar pesawat Korean Airways, yang berangkat dari Incheon jam 13.00. Penulis mengejar sebuah acara yang direncanakan penulis hadiri di Munchen, Jerman. Untuk bertemu dengan Wakil Menteri Pertahanan AS Paul D. Wolfowitz bersama-sama dengan Dato’ Anwar Ibrahim dari Malaysia. Anwar baru saja menjalani bedah punggung, setelah ditahan di penjara Kuala Lumpur, selama 6 tahun. Penulis memperkirakan ia akan menjadi tokoh kunci dalm perkembangan dunia Islam.
Pada saat ini terasa, bahwa “Dunia Islam” tampak sedang berada dipersimpangan jalan. Antara lain hal itu terlihat dari besarnya arus menunjukkan atau memperagakan kemampuan kaum muslimin di berbagai bidang. Tampak bahwa cukup besar keinginan orang-orang muda muslimin, berbuat dengan sungguh-sungguh untuk menunjukkan bahwa Islam dapat menjadi motor kehidupan secara formal. Artinya mereka tidak menginginkan “Negara Islam’ sebagai sesuatu yang bersikap resmi, melainkan ingin memperagakan Islam sebagai jalan hidup terbaik bagi umat manusia yang tengah mengalami krisis di berbagai bidang. Contoh terbaik dalam hal ini adalah Partai Keadilan Sejahtera (PKS ) yang mendadak sontak menjadi parpol yang harus diperhitungkan dalam perpolitikan Indonesia. Tentu saja perkembangan seperti ini harus diperhatikan dan diperhitungkan oleh siapapun.

Kebangkitan seperti itu, adalah sesuatu yang tentu saja dapat membuat “Dunia Islam” bertabrakan dengan faham-faham lain, dan menjadi tugas bagi para tokoh muslimin untuk sejauh mungkin mempertautkan antara berbagai pemikiran dan pandangan itu. Di sinilah terletak posisi istimewa dari tokoh-tokoh seperti Anwar Ibrahim. Ia harus meringkuk di penjara selama 6 tahun, setelah itupun ia masih harus “mengendalikan diri” dari dunia politik, karena Majelis Hakim di Kuala Lumpur belum menyatakan ia diperkenankan aktif dalam politik. Maka masih menjadi pertanyaan apakah ia akan memilih aktivitas Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), ataukah menunggu perkenaan pengadilan untuk aktif kembali dalam bidang politik? Karena posisinya yang unik itu, Anwar Ibrahim dapat saja menjadi “juru penengah” antara berbagai pandangan dan pemikiran, atau ia justru terlibat dalam pertentangan-pertentangan yang baru.

Karena itulah, penulis beranggapan pertemuan Paul D. Wolfowitz dan Anwar Ibrahim sangat penting. Bahwa penulis turut serta dalam pertemuan itu, juga menjadikannya sesuatu yang bernilai tinggi. Ini rupanya di mengerti sepenuhnya oleh Paul Wolfowitz, hingga ia datang dengan pesawat khusus ke Munchen dan kembali lagi ke Washington DC, setelah bertemu berdua dengan Anwar Ibrahim daan kemudian bertiga dengan penulis. Penulis dan Paul Wolfowitz sama-sama beranggapan, bahwa posisi Anwar Ibrahim, seperti Saad al-Din Ibrahim, Sekjen Muntada Al-Fikr Al-‘ARabi (Klub Pemikiran Arab), yang meringkuk bertahun-tahun di penjara Kairo, Mesir, harus dijaga sebagai salah satu tokoh Muslim moderat. Di lingkungan para pemimpin muslim, posisi seperti itu tidak dapat diisi oleh orang lain yang tidak memiliki latar belakang yang tepat.

Setibanya di Cengkareng, penulis langsung menghadapi para wartawan dan Istiqomah, ayah dan suami Istiqomah dari Banyuwangi bersama dengan Bupati Banyuwangi. Dengan terus terang, penulis menyatakan bahwa ia baru “berbuat sesuatu” yang sangat sederhana: wawancara dengan televisi berbahasa Arab Al-Jazeera, dalam wawancara tersebut ia menyatakan bahwa harus diketahui lebih dahulu kelompok mana yang menyanderanya, apa motifnya dan sebagainya. Ada kemungkinan keterangan penulis bahwa Istiqomah adalah seorang Indonesia, juga mendorong mereka untuk memerdekakannya, namun dapat juga terjadi bahwa pidato Megawati Soekarnoputri di layar televisi yang sama, yang “menggerakkan” para penyandera itu untuk membebaskan Istiqomah dan Casingkem. Jadi belum jelas apa alasan yang sebenarnya terjadi, sehingga belum dapat dikemukakan hal itu dengan pasti.

Apapun alasan pembebasan Istiqomah and Casingkem, namunnd ari peristiwa itu telah menunjukan adanya keruwetan sejarah untuk membukukan apa yang sebenarnya terjadi. Di sinilah terletak pentingnya diperhatikan Sumber-Sumber Daya Manusia (SDM). Menjadi tugas sejarah untuk menampilkan pandangan-pandangan dan pemikiran orang-orang kecil seperti itu, yang sering tidak diketahui oleh orang lain. Bahwa penulis dianggap melakukan sesuatu yang berarti untuk pembebasan mereka, sebenarnya itu adalah “bagaikan menganggap susu kerbau adalah susu sapi”, salah atau benarnya anggapan itu adalah kemudian hari yang akan dinilai orang. Juga sama halnya dengan anggapan penulis, bahwa hasil-hasil Pemilu tahun 2004, adalah sesuatu yang tidak dapat diterima karena ia cacat hukum. Bukankah Komisi Pemilihan Umum (KPU) telah melakukan pelanggaran 5 buah terhadap 4 Undang-Undang, tanpa ada seorangpun yang memprotes hal itu? Bukankah mudah kita harus bertindak jujur, walaupun sangat sulit melaksanakannya, bukan?

Jakarta, 8 Oktober 2004
Read more ...
 
Indonesia dulu dikenal sebagai bangsa yang toleran dan penuh sikap tenggang rasa. Namun, kini penilaian tersebut tidak dapat diamini begitu saja, karena semakin besarnya keragu-raguan dalam hal ini. Kenyataan yang ada menunjukkan, hak-hak kaum minoritas tidak dipertahankan pemerintah, bahkan hingga terjadi proses salah paham yang sangat jauh.
free counters

Blog Archive

Seseorang yang mandiri adalah seseorang yang berhasil membangun nilai dirinya sedemikian sehingga mampu menempatkan perannya dalam alam kehidupan kemanusiaannya dengan penuh manfaat. Kemandirian seseorang dapat terukur misalnya dengan sejauh mana kehadiran dirinya memberikan manfaat kearah kesempurnaan dalam sistemnya yang lebih luas. Salam Kenal Dari Miztalie Buat Shobat Semua.
The Republic of Indonesian Blogger | Garuda di DadakuTopOfBlogs Internet Users Handbook, 2012, 2nd Ed. Avoid the scams while doing business online

Kolom blog tutorial Back Link PickMe Back Link review http://miztalie-poke.blogspot.com on alexa.comblog-indonesia.com

You need install flash player to listen us, click here to download
My Popularity (by popuri.us)

friends

Meta Tag Vs miztalie Poke | Template Ireng Manis © 2010 Free Template Ajah. Distribution by Automotive Cars. Supported by google and Mozila