Wednesday, September 21, 2011

Kapan Memakai Jilbab, Seru Nich

Pada awalnya, suami saya menganjurkan saya untuk memakai jilbab, dan saya pada waktu itu masih belum memikirkan hal seperti itu karena pengetahuan agama saya masih minim (saya dulu sekolah di SMU Katolik, tapi saya beragama Islam). Saya juga tahu bahwa seorang wanita muslim diwajibkan mengenakan jilbab, sehingga saya mulai mempersiapkan diri dengan membeli beberapa kerudung. Saya juga mulai banyak membaca terjemahan al-Qur'an, dan akhir-akhir ini mulai timbul keinginan untuk mengenakan jilbab. Tapi saya sendiri masih ragu akan niat saya ini bukan 100% karena Allah, bisa jadi disebabkan karena anjuran suami saya atau karena ingin tampil beda. Saya berkesimpulan demikian, karena pada waktu membaca terjemahan al-Qur'an surah 3:59, surah tersebut belum menggugah hati saya pada saat itu (saya tekankan pada saat itu) karena keinginan itu baru timbul akhir-akhir ini.

Apa yg harus saya lakukan? Apakah saya tetap melanjutkan keinginan saya ini atau saya harus menunggu sampai hati saya mantap? Saya mohon arahan dari Bapak.

Terima kasih.

Ifa - Makassar

Jawab:

Kebingungan Anda untuk memakai jilbab apa harus nunggu sampai hati mantap? Saya sarankan Anda segera memakainya. Alasannya, ya karena jilbab itu wajib. Dan Anda sudah yakin bahwa jilbab itu wajib. Pelaksanaan suatu (perintah) kewajiban itu hubungannya dengan mampu atau tidak. Maksudnya, kalau kita mampu ya harus dilakukan. Tidak perlu nunggu suasana hati, sampai benar-benar ikhlas/rela.

Secara logis bisa disederhanakan begini: Memakai jilbab dengan ikhlas, maka akan mendapat pahala sekaligus terhindar dari dosa. Memakai saja tanpa hati ikhlas, maka telah terhindar dari dosa, pahalanya belum. Tidak memakainya, maka mendapat dosa.

Nah, sekarang ya dipaksa-paksakan sedikit lah. Agar Anda terhindar dari dosa.

Arif Hidayat
Read more ...

Berhenti Kuliah di Fakultas Teknik untuk Belajar Agama Lebih Intens

Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Ustadz, saya seorang mahasiswa semester VII Fakultas Teknik di sebuah PTN di Medan. Dalam menjalani perkuliahan saya mengalami banyak hambatan. Di antaranya masalah ekonomi, dan adanya perasaan bahwa jurusan yang sedang saya tempuh sekarang ini sebenarnya tidak nyambung dengan jiwa saya. Dulu karena ortu saya tidak sanggup membiayai saya untuk belajar di pesantren, terpaksa saya menempuh pendidikan di Tsanawiyah dan Aliyah Negeri yang sebenarnya tidak begitu intens dalam mendidik siswanya dalam masalah keagamaan.

Waktu kecil saya cukup berminat belajar agama dan ingin menjadi seorang yang ahli dalam ilmu agama dan bahasa Arab. Dalam fikiran saya, seandainya saya dulu melanjutkan pendidikan ke pesantren maka saat ini mungkin saya lebih mafhum dalam masalah agama dan bahasa arab.Terkadang karena kesulitan ekonomi yang cukup hebat ini, timbul dalam fikiran saya untuk berhenti saja kuliah dan kembali kepada cita-cita saya semula.

Saya sudah merasa cukup jenuh terus dicekoki dengan ilmu-ilmu keduniaan. Untuk menjalani perkuliahan ke depan, saya rasa lebih berat lagi tantangan yang harus saya hadapi daripada perkuliahan sebelumnya. Sebab masih cukup banyak praktikum dan mata kuliah saya yang belum lulus, sementara saya dikejar oleh deadline bahwa kalau 3 tahun lagi tidak tamat maka saya pasti kena DO.

Perlu Ustadz ketahui bahwa sewaktu tamat Aliyah dulu saya sempat menganggur 2 tahun,dan sekarang saya sudah 24 tahun. Pertanyaan saya:

1. Apakah saya telah bersalah karena telah lari dari cita-cita saya semula yang cukup mulia itu, sehingga sampai saat ini saya selalu mengalami kesulitan untuk meneruskan kuliah teknik saya.

2. Bagaimana pandangan Ustadz kalau seandainya saya berhenti saja dari kuliah dan belajar agama secara lebih intens.

3. Apakah ada semacam lembaga informal yang membuka khusus program belajar agama, menghafal Al-Qur'an dan Hadis serta belajar Bahasa Arab untuk orang seperti saya.

Lubis

Jawab:

Assalamu `alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh Alhamdulillah, Washshalatu wassalamu `ala Rasulillah, wa ba’d.

Seandainya kegamangan anda itu terjadi pada semester I atau II, mungkin secara pertimbangan masih wajar anda pindah kuliah. Sayangnya kini anda sudah pada semester VII, artinya anda tinggal 1 semester lagi untuk menyelesaikan kuliah bila berjalan normal.

Sekarang masalahnya apakah anda yakin bila banting setir bisa dipastikan anda akan berhasil dalam mempelajari ilmu-ilmu keislaman. Dan seberapa baik kualitas lembaga yang anda incar itu? Masalahnya kalau kualitas hanya biasa-biasa saja, jangan-jangan anda pun tidak mendapatkan cita-cita yang anda inginkan.

Dalam banyak kasus, lembaga yang kurang berkualitas biasanya hanya akan menghasilkan lulusan yang tanggung, alumnusnya kurang bisa bahasa arab kecuali hanya sebatas kulit terluarnya saja, tapi giliran disodorkan kitab berbahasa arab yang sesungguhnya, ketahuan bahwa belajar bahasa arabnya selama ini hanya sekedar formalitas belaka. Dan bila lembaga itu kurang berkualitas, biasanya mahasiswanya akan datang silih berganti. Yang baru datang dan yang lama sudah keburu bubar. Berapa banyak ma'had bahasa arab dan tsaqafah di negeri ini yang tidak menghasilkan apa-apa?

Belajar bahasa arab dan ilmu-ilmu keislaman tidak cukup hanya dengan sebuah kursus yang seminggu dua-tiga kali. Realita di lapangan menunjukkan kegagalan ma'had model kursus seperti ini. Bahkan Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab (LIPIA) di Jakarta pun sekarang sudah menutup kursus bahasa arab non intensif yang sore hari. Padahal ma'had ini cukup kondang dan telah menelurkan ratusan sarjana syariah yang menguasai bidangnya dengan cukup baik. Sebabnya adalah masalah klasik, yaitu murid program kursus itu datang silih berganti datang dan pergi. Sehingga tidak pernah sampai melahirkan mahasiswa yang menguasai bahasa arab secara serius. Kecuali mereka yang pindah ke kuliah di pagi hari dan belajar dengan sistem perkuliahan yang full time. Masuk kulah tiap hari Senin s/d Jumat dari jam 07.00 s/d jam 12.00. Tanpa kurikulum dan sistem demikian, kualitas mahasiswanya tidak bisa dipertanggung-jawabkan.

Jadi kalau anda sudah mendapat jaminan diterima kuliah di fakultas syariah baik di LIPIA, Madinah, Al-Azhar Mesir atau Universitas Islam 'ngetop' lainnya, bolehlah anda berpikir untuk pindah kuliah. Tapi kalau hanya sekedar ikut-ikutan kursus dengan meninggalkan kuliah teknik sekarang ini, sebaiknya lupakan saja niat itu dari pada anda menyesal nantinya.

Maka kami hanya memberi satu pesan saja: Kejar kuliah anda itu dengan niat jihad fi sabililah. Kalau anda ingin jihad, maka sekarang lah waktunya. Kejar IP anda yang ketinggalan seberat apapun tantangannya. Prioritaskan pengejaran ini dan lupakan sementara waktu segala macam kesibukan lainnya. Ilmu yang anda pelajari sekarang ini sama sekali bukan ilmu keduniaan, tetapi ilmu yang wajib dikuasai oleh umat Islam secara kifa'i. Anda bertanggung jawab kepada Allah dan umat ini bila sampai gagal menguasai bidang ilmu yang telah anda pelajari selama ini. Sebab ilmu ini sangat berguna untuk menyongsong kebangkitan umat Islam yang telah dijanjikan. Tidak semua anak generasi ini harus jadi ustaz. Sebaliknya, semua bidang ilmu harus dikuasai dengan sebaik-baiknya. Dan anda bertanggung-jawab atas penguasaan bidang teknik.

Semoga Allah SWT memudahkan jalan Anda dan memberikan kelapangan di dalam hati untuk tetap berjihad di bidang ilmu pengetahuan.

Hadaanallahu Wa Iyyakum Ajma`in, Wallahu A`lam Bish-shawab, Wassalamu `Alaikum Warahmatullahi Wa Barakatuh.

Ahmad Sarwat, Lc
Read more ...

Perempuan Bepergian Sendirian

Assalamualaikum Wr. Wb.

Bagaimana hukumnya seorang wanita yang pergi haji tidak didampingi mahramnya melainkan dengan teman wanitanya, padahal ia mempunyai suami atau anak. Karena menurut sepengetahuan saya wanita seharusnya (atau sebaiknya (?)) didampingi mahram dalam menunaikan ibadah haji.

Wassalamu'alaikum Wr. Wb.

Nazmi - Jakarta Timur

Jawab:

Mbak Nazmi,

Pada dasarnya, mengapa perempuan yang haji (atau bepergian ke mana saja) sebaiknya harus disertai mahramnya itu karena untuk menjaga keamanannya, dan demi menghindari fitnah-fitnah yang mungkin terjadi.

Jadi pengharaman itu bukan karena semata kepergiannya (safar) -tanpa mahram-, namun "saddan li al-dzarii'ah" atau menghindari hal-hal yang tak diinginkan.

Persoalannya kemudian, jika kita percaya perjalanan (haji) itu aman, karena si perempuan juga tidak sendirian tapi bersama rombongan yang bisa menjamin keamanannya, apakah tetap diharamkan? Saya kira tidak. Karena kembali ke prinsip bahwa sesuatu yang diharamkan tidak karena dirinya sendiri (li al-dzaatih), tapi "saddan li al-dzarii'ah", maka jika hal-hal yang tak diinginkan itu dipastikan tidak bakal terjadi, maka sesuatu itu tidak lagi diharamkan.

Demikian pula dengan perempuan yang berangkat haji tanpa disertai suami atau mahramnya. Karena perempuan itu bersama rombongan (banyak laki-laki dan banyak perempuan), perjalanan aman, selama di Saudi juga dipastikan tidak ada apa-apa, maka tidak ada alasan lagi untuk mengharamkannya. Demikian, Wallahua'lam bisshawaab.

Wassalamualaikum Wr. Wb.

Mutamakkin Billa & Arif Hidayat
Read more ...

Dengan Dalih Dakwah, Bolehkah Jalan Berduan dengan Lawan Jenis?


Assalaamu'alaikum wr. wb.

Dalam rangka berdakwah yang selama ini saya jalani, kebanyakan yang saya lakukan terhadap wanita yang notabene-nya masih awam. Saya sering ajak jalan bareng bila ada acara.

Muhammad Sani

Jawab:

Assalamu `alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh Alhamdulillah, Washshalatu wassalamu `ala Rasulillah, wa ba’d.

Dakwah itu mulia tujuannya. Dan kepada orang yang bisa menjadi sebab buat orang lain untuk mendapat hidayah, Allah menjanjikan pahala yang berlipat ganda.

Dakwah adalah pekerjaan suci manusia terbaik di dunia, sebab dakwah adalah profesi para Nabi. Tentu saja tidak mungkin pekerjaan semulia itu diiringi dengan bentuk teknis yang kurang sejalan dengan misi dakwah itu sendiri. Misalnya dakwah kepada lawan jenis yang secara teknisnya mengakibatkan terjadinya khlawat.

Khalwat atau menyepi berduaan dengan lawan jenis yang bukan mahram adalah perkara yang telah diharamkan Allah SWT dan Rasul-Nya. Rasulullah SAW bersabda:

"Jangan sekali-kali seorang laki-laki menyendiri (khalwat) dengan wanita kecuali ada mahramnya. Dan janganlah seorang wanita bepergian kecuali bersama mahramnya." (HR Bukhori, Muslim, Ahmad, Ibnu Majah, Tabrani, Baihaqi dan lain-lain).

Jadi meski kegiatan dakwah itu baik, tapi berduaan antara laki-laki dan wanita yang bukan mahram hukumnya haram. Salah satu hikmah dari diharamkannya berduaan adalah untuk menghindari godaan syetan yang bisa terkena kepada siapa saja. Tidak peduli orang itu tebal atau tipis imannya.

Ketika berduaan itu berlangsung, pastilah ada setan yang ikut membisiki agar masing-masing melakukan hal yang diharamkan. Tentu saja caranya tidak sekaligus, tetapi melalui perasaan, ketertariakan dan ikatan dalam hati. Barangkali baru akan terlihat hasilnya nanti setelah sekian lama. Namanya juga setan, tentu punya sekian trik licik untuk menjebloskan orang beriman ke dalam kemaksiatan. Karena itulah kita diperintahkan untuk membentengi diri agar setan tidak sempat masuk ke dalam pergaulan kita. Beliau SAW bersabda,

"Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka jangan sekali-kali dia berduaan dengan seorang perempuan yang tidak bersama mahramnya, karena yang ketiganya ialah syaitan." (Riwayat Ahmad)

Untuk itu jalan keluarnya adalah Anda bisa mempersilahkan ustazah yang sesama wanita menjadi pengajarnya. Atau kalau pun tidak ada wanita yang lain, maka minimal Anda tidak hanya berduaan saja, harus ada mahram dari wanita itu yang ikut duduk menemani Anda berdua. Itulah yang dibenarkan dalam Islam.

Hadaanallahu Wa Iyyakum Ajma`in, Wallahu A`lam Bish-shawab, Wassalamu `Alaikum Warahmatullahi Wa Barakatuh.

Ahmad Sarwat, Lc.
Read more ...

Belum PD Mengemban Amanah Dakwah

Assalamu'alaikum

Ana seorang mahasiswa, kebetulan dapat amanah memimpin sebuah LDK. Tapi ana merasa nggak PD, karena merasa diri ini masih banyak maksiat. Bagaimana sikap ana seharusnya, karena sudah terlajur diberi amanah dan dipercaya sama temen-temen. Apakah dakwah ini harus menunggu kita itu baik semua dulu? Jazakallah.

Wassalamualikum

Nukman

Jawab:

Assalamu `alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh Alhamdulillah, Washshalatu wassalamu `ala Rasulillah, wa ba’d.

Kalau teman-teman anda telah mempercayai anda untuk memegang sebuah amanah, maka hargailah kepercayaan itu. Sebab kepercayaan mereka bisa saja menjadi hikmah tersendiri. Misalnya, ternyata kepercayaan itu merupakan cara Allah SWT untuk mengarahkan anda menjadi orang yang shalih dan selalu menjaga citra diri sebagai muslim.

Barangkali kalau anda tidak mendapatkan kepercayaan itu, anda tidak terlalu risih bila melakukan hal-hal yang kurang dibenarkan dalam agama. Namun karena kini Anda memegang amanah itu, mau tidak mau Anda pun terpola dengan sendirinya untuk berlaku lurus, hanif, berhati-hati dan menjaga semua aturan Islam. Minimal anda punya sebuah rem untuk menahan hal-hal yang kurang selaras dengan Islam dengan jabatan yang kini anda panggul.

Sebaiknya Anda tidak perlu repot dulu dengan urusan niat atau motivasi. Jangan terlalu negatif dalam menilai diri. Maksudnya, anda tidak perlu merasa bahwa 'kealiman' anda itu hanya gara-gara sedang menjabat menjadi ketua LDK. Jadikan diri anda sebagai 'orang alim' karena Allah SWT. Namun bila motivasi itu terakselerasi dengan adanya jabatan yang kini anda pegang, tentu bukan hal yang perlu disesali.

Tentu saja 'kealiman' anda itu harus diusahakan se-original mungkin, bukan sekedar akting atau lips service belaka. Tapi manfaatkan posisi anda ini sebagai starting point menuju kepada kepribadian Islami. Kurangi sedikit demi sedikit segala maksiat dan munkarat yang mungkin pernah anda lakukan. Ganti dengan kebiasaan baik yang lebih Islami dan bernilai sunnah. Dan jangan lupa bahwa semua itu anda lakukan ikhlas karena Allah SWT, bukan karena jabatan semata. Usahakan se-istiqamah mungkin dalam menjalaninya.

Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan, "Tuhan kami ialah Allah," kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan, "Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih." dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu. (QS Fushshilat: 30).

Hadaanallahu Wa Iyyakum Ajma`in, Wallahu A`lam Bish-shawab, Wassalamu `Alaikum Warahmatullahi Wa Barakatuh.

Ahmad Sarwat, Lc.
Read more ...
 
Indonesia dulu dikenal sebagai bangsa yang toleran dan penuh sikap tenggang rasa. Namun, kini penilaian tersebut tidak dapat diamini begitu saja, karena semakin besarnya keragu-raguan dalam hal ini. Kenyataan yang ada menunjukkan, hak-hak kaum minoritas tidak dipertahankan pemerintah, bahkan hingga terjadi proses salah paham yang sangat jauh.
free counters

Blog Archive

Seseorang yang mandiri adalah seseorang yang berhasil membangun nilai dirinya sedemikian sehingga mampu menempatkan perannya dalam alam kehidupan kemanusiaannya dengan penuh manfaat. Kemandirian seseorang dapat terukur misalnya dengan sejauh mana kehadiran dirinya memberikan manfaat kearah kesempurnaan dalam sistemnya yang lebih luas. Salam Kenal Dari Miztalie Buat Shobat Semua.
The Republic of Indonesian Blogger | Garuda di DadakuTopOfBlogs Internet Users Handbook, 2012, 2nd Ed. Avoid the scams while doing business online

Kolom blog tutorial Back Link PickMe Back Link review http://miztalie-poke.blogspot.com on alexa.comblog-indonesia.com

You need install flash player to listen us, click here to download
My Popularity (by popuri.us)

friends

Meta Tag Vs miztalie Poke | Template Ireng Manis © 2010 Free Template Ajah. Distribution by Automotive Cars. Supported by google and Mozila