Kalau ada satu kata yang sederhana, yang dicari dan dikejar semua manusia di atas bumi ini, namun yang paling sulit dimengerti...kata itu ialah: BAHAGIA. Apa sih bahagia itu??
Mana yang lebih mendekati arti bahagia? Miskin atau kaya? Bahkan seorang anak SD pun (merasa) tahu jawabannya: Ya kaya dong! Makanya sedari kecil orang tua kita selalu menyuruh kita rajin sekolah supaya kelak jadi orang pintar, lalu bekerja, dan jadi orang sukses dan kaya. Itu kenyataan yang kita pegang sejak kecil hingga menanjak dewasa. Sekarang pertanyaan yang sederhana: Apakah setelah si anak kaya, otomatis ia bahagia? Nah...jawabannya bisa bermacam-macam, dan semakin kaya seseorang kayaknya jadi semakin ruwet jawabannya.
Dari pengalaman hidupku, aku sudah banyak bertemu orang dan menyaksikan kehidupan mereka, dari yang kaya raya sampai yang sangat miskin. Aku selalu ingin tahu, bagaimana sih kehidupan mereka? Apakah mereka merasa bahagia? Karena keluarga kami boleh dibilang berada di kisaran menengah, kaya tidak, tapi di bawah garis kemiskinan juga tidak (syukur kepada Tuhan!). Selalu menarik untuk mengamati kehidupan yang lain dari kehidupanku sendiri.
Orang kaya tampaknya memang bahagia. Wajah mereka sumringah, pakaian mereka bersih, rumah mereka terang benderang, kendaraan mereka mengkilap. Sedang orang miskin wajahnya bergurat-gurat, tubuhnya berpeluh karena kerja berat, pakaian lusuh, rumah suram. Jelas bukan gambaran bahagia deh! Terus aku berpikir, kalo begitu Tuhan itu gak adil dong? Bagaimana orang miskin bisa mengangkat hidup anak-anaknya untuk menjadi kaya? Ada sih yang bisa, tapi berapa jumlahnya? Lalu bagaimana dengan anak-anak yang dilahirkan dari keluarga miskin? Berarti mereka takkan pernah bisa mengenyam kebahagiaan dong?
Tapi herannya dari pengamatanku, orang-orang kecil itu hidupnya sederhana. Tuntutan mereka tak banyak. Cukup dengan bisa makan kenyang, sekolah, dan sehat. Itu saja. Sementara orang kaya, semakin ia kaya, tuntutannya akan semakin banyak. Kapan hari aku membaca tentang seorang wanita muda yang kaya mendadak karena memenangkan lotere. Tiba-tiba saja ia merasa membutuhkan mobil mewah, rumah mewah, liburan-liburan eksotis, baju-baju bermerek, berlian, dsb. Hingga akhirnya ia jatuh melarat karena bangkrut. Sekarang mobilnya mobil tua kecil, dan pekerjaannya mengambil sampah! Kalau ia ditanya, mungkin ia akan mengatakan lebih baik ia tak pernah menang lotere itu.
Dari pemikiran di atas, aku tiba pada kesimpulan bahwa bahagia itu berkaitan dengan hati, bukan dengan kekayaan. Saat kita bisa hidup dengan tenang, aman, mampu mencintai dan dicintai orang lain, bersyukur atas keadaan kita, dan dekat dengan Sang Pencipta...pada saat itulah kita akan merasa bahagia. Maka, berapapun harta kita, miskin ataupun kaya, kita hanya dapat merasa bahagia kalau kita membuat diri kita bahagia.
Mendekatlah padaNya, syukurilah semua yang kita miliki, berikanlah cinta dan bukalah hati untuk merasakan cinta, hiduplah dengan baik dan jujur, maka niscaya bahagia itu akan selalu menyelimuti hati anda! Bagaimana menurut teman-teman?
Ditulis oleh: Fanda
Mana yang lebih mendekati arti bahagia? Miskin atau kaya? Bahkan seorang anak SD pun (merasa) tahu jawabannya: Ya kaya dong! Makanya sedari kecil orang tua kita selalu menyuruh kita rajin sekolah supaya kelak jadi orang pintar, lalu bekerja, dan jadi orang sukses dan kaya. Itu kenyataan yang kita pegang sejak kecil hingga menanjak dewasa. Sekarang pertanyaan yang sederhana: Apakah setelah si anak kaya, otomatis ia bahagia? Nah...jawabannya bisa bermacam-macam, dan semakin kaya seseorang kayaknya jadi semakin ruwet jawabannya.
Dari pengalaman hidupku, aku sudah banyak bertemu orang dan menyaksikan kehidupan mereka, dari yang kaya raya sampai yang sangat miskin. Aku selalu ingin tahu, bagaimana sih kehidupan mereka? Apakah mereka merasa bahagia? Karena keluarga kami boleh dibilang berada di kisaran menengah, kaya tidak, tapi di bawah garis kemiskinan juga tidak (syukur kepada Tuhan!). Selalu menarik untuk mengamati kehidupan yang lain dari kehidupanku sendiri.
Orang kaya tampaknya memang bahagia. Wajah mereka sumringah, pakaian mereka bersih, rumah mereka terang benderang, kendaraan mereka mengkilap. Sedang orang miskin wajahnya bergurat-gurat, tubuhnya berpeluh karena kerja berat, pakaian lusuh, rumah suram. Jelas bukan gambaran bahagia deh! Terus aku berpikir, kalo begitu Tuhan itu gak adil dong? Bagaimana orang miskin bisa mengangkat hidup anak-anaknya untuk menjadi kaya? Ada sih yang bisa, tapi berapa jumlahnya? Lalu bagaimana dengan anak-anak yang dilahirkan dari keluarga miskin? Berarti mereka takkan pernah bisa mengenyam kebahagiaan dong?
Tapi herannya dari pengamatanku, orang-orang kecil itu hidupnya sederhana. Tuntutan mereka tak banyak. Cukup dengan bisa makan kenyang, sekolah, dan sehat. Itu saja. Sementara orang kaya, semakin ia kaya, tuntutannya akan semakin banyak. Kapan hari aku membaca tentang seorang wanita muda yang kaya mendadak karena memenangkan lotere. Tiba-tiba saja ia merasa membutuhkan mobil mewah, rumah mewah, liburan-liburan eksotis, baju-baju bermerek, berlian, dsb. Hingga akhirnya ia jatuh melarat karena bangkrut. Sekarang mobilnya mobil tua kecil, dan pekerjaannya mengambil sampah! Kalau ia ditanya, mungkin ia akan mengatakan lebih baik ia tak pernah menang lotere itu.
Dari pemikiran di atas, aku tiba pada kesimpulan bahwa bahagia itu berkaitan dengan hati, bukan dengan kekayaan. Saat kita bisa hidup dengan tenang, aman, mampu mencintai dan dicintai orang lain, bersyukur atas keadaan kita, dan dekat dengan Sang Pencipta...pada saat itulah kita akan merasa bahagia. Maka, berapapun harta kita, miskin ataupun kaya, kita hanya dapat merasa bahagia kalau kita membuat diri kita bahagia.
Mendekatlah padaNya, syukurilah semua yang kita miliki, berikanlah cinta dan bukalah hati untuk merasakan cinta, hiduplah dengan baik dan jujur, maka niscaya bahagia itu akan selalu menyelimuti hati anda! Bagaimana menurut teman-teman?
Ditulis oleh: Fanda
0 comments:
Post a Comment