Pelajaran pertama dimulai. Semua murid harap duduk tenang ya. Dengarkan..eh, baca baik-baik catatan bu guru hari ini.
Oke, kalian sudah tahu apa yang disebut cerpen? Kalau belum tahu, coba ambil majalah yang ada rubrik cerpen dan baca cerpennya. Kenapa saya bertanya seperti ini? Karena banyak orang yang tidak bisa membedakan antara cerpen dengan artikel lain seperti : artikel KISAH NYATA yang sering diterbitkan majalah wanita, artikel psikologi, artikel berupa PARODI di Harian Kompas Minggu yang ditulis Samuel Mulia, artikel PENGALAMANKU YANG LUCU (biasanya ada di majalah remaja), dll.
Cerpen juga berbeda dengan artikel RENUNGAN yang sering saya tulis di Blog Sang Cerpenis.
Walaupun dalam artikel RENUNGAN itu bisa berisi kisah-kisah menarik, tapi...itu BUKAN CERPEN.
CERPEN merupakan sepotong kisah dari seluruh kehidupan seorang manusia. Misalnya : Kisah si Amel yang jatuh cinta pada cowok yang sudah beristeri. Mungkin di kisah ini, ada pergumulan batin Amel. Antara terus menjalin hubungan dengan si pria atau berhenti. Pergumulan batin Amel ini bisa dikemas menjadi cerpen menarik.
Kita bisa mengakhiri pergumulan Amel dengan penyelesaian : AMEL MEMUTUSKAN HUBUNGANNYA karena tidak mau menyakiti hati isteri sang pria. Bisa juga kita buat AMEL TETAP MELANJUTKAN HUBUNGANNYA karena ia sangat mencintai pria itu. Tak peduli apapun resikonya.
Sampai disitu, sebuah cerpen bisa dituntaskan. Tak usah diperpanjang dengan konflik yang berbelit-belit, misalnya : Apa resiko Amel kalau dia melanjutkan hubungannya? Apakah ia akan didamprat sang isteri?
Karena cerpen bukan novel, bukan novelet (novel pendek). Cerpen bukan cerber. Walaupun bisa saja dari sebuah cerpen karena terlanjur panjang dan rumit konfliknya, akhirnya dibuat menjadi cerber.
Sekian pelajaran hari ini. Kalau ada yang mau bertanya, silakan tulis di kolom komentar.
0 comments:
Post a Comment