Di sebuah desa hiduplah sepasang suami isteri dengan seorang putera tunggalnya. Karena anak mereka hanya satu, maka untuk mengisi waktu luang, mereka
sering pergi ke hutan untuk mencari tumbuhan yang langka. Tumbuhan itu akan digunakan mereka untuk dibuat obat.
Suatu hari, ketika mereka sedang berjalan di tengah hutan, tampaklah sebutir telur yang tergeletak di atas rerumputan. Sang suami pun mengambil telur itu dan memberikannya pada isterinya.
Telur itu disimpan di lumbung padi mereka hingga akhirnya menetas. Seekor bayi rajawali betina tampak menciap minta makan. Suami isteri ini pun memelihara burung rajawali itu.
Ketika rajawali itu sudah semakin besar, ia pun terbang meninggalkan keluarga ini. Tetangga mereka pun mencemooh tindakan mereka yang telah susah payah memelihara rajawali itu.
“Percuma saja kalian memelihara rajawali itu. Setelah besar, dia pun terbang meninggalkan kalian.” Kata para tetangga. Tetapi keluarga ini diam saja.
Beberapa bulan kemudian, rajawali betina peliharaan mereka datang dengan ditemani seekor burung rajawali jantan. Oh, ternyata sang rajawali betina ini telah menemukan jodohnya. Keluarga ini menyambutnya dengan gembira. Mereka membiarkan sepasang rajawali itu tinggal bersama mereka.
Suatu pagi, anak tunggal mereka datang memberi makan sepasang rajawali itu. Tapi, tiba-tiba rajawali jantan mematuk ke dua bola mata anak itu hingga buta.
Para tetangga pun kembali mencemooh mereka.
“Rajawali kalian pembawa sial. Baru datang sudah membuat buta anak kalian.”
Meskipun dicemooh, keluarga ini tetap tabah. Mereka menerima semua keadaan yang tidak menyenangkan ini dengan tetap bersyukur pada Sang Khalik.
Hingga suatu hari, terjadi perang besar antara negara tempat tinggal mereka dengan negara lain. Semua pemuda yang berbadan sehat jasmani dan rohani dipaksa ikut Wamil (wajib militer). Kewajiban ini tidak berlaku bagi anak lelaki mereka yang buta karena orang cacat tidak mungkin ikut berperang.
Para tetangga kembali mencemooh keluarga ini :
“Dasar anak buta tak berguna! Semua berperang, hanya dia yang enak-enak di rumah.”
Tetapi keluarga ini hanya tersenyum sabar.
Ketika perang usai, terdengarlah kabar bahwa semua pemuda dari desa itu yang pergi berperang, semuanya gugur.
Semua masalah memang ada hikmahnya. Coba bayangkan, kalau saja pemuda itu tidak buta matanya, mungkin nasibnya akan sama dengan teman-temannya yang gugur di medan laga.
Bagaimana dengan kita? Apakah masalah kita terlalu berat untuk dipikul? Percaya saja, apapun masalahnya, semua pasti ada hikmahnya.
By. Fanny
0 comments:
Post a Comment