Hari ini, saya akan memaparkan beberapa kesalahan/kekurangan serta kelebihan dalam cerpen GARA-GARA CONTEKAN. Saya memang akan membahas setiap cerpen yang dikirim ke saya dan di posting di blog ini. Dengan demikian, kalian akan tahu apa kelemahan/kekurangan cerpen kalian.
KESALAHAN YANG HARUS DIPERHATIKAN :
-Banyak kalimat yang masih terpengaruh dengan bahasa Melayu. Padahal, bila kita mau mengirim tulisan ke majalah di Indonesia, sebaiknya jangan menaruh bahasa Melayu. Mungkin karena Anaz tinggal di Malayasia, jadi secara tidak langsung terpengaruh dengan bahasa yang ia dengar sehari-hari. Bila Anaz - suatu hari nanti – ingin mengirimkan tulisannya ke majalah di Indonesia, maka pengaruh bahasa Melayu harus dihilangkan. Apalagi kalau mau mengirim cerpen ke majalah remaja, gunakan bahasa Indonesia saja. Jangan dicampur baurkan dengan bahasa Melayu. Editor bisa bingung membacanya.
Ini adalah salah satu bahasa Melayu yang saya temukan di cerpen Anaz :
Aku segera beredar, mencari kelibat Naila.
Kalimat ini sudah saya hilangkan.
- Coba ingat lagi pelajaran bahasa Indonesia waktu sekolah, perhatikan awalan dan
akhiran. Bagaimana penulisannya? Misalnya : DILETAKKAN. Kata DI dan LETAKKAN itu disambung. Bukan DI LETAKKAN. Kalau menunjukkan tempat baru dipisah, misalnya : DI SEKOLAH. DI PASAR. Kata TEMAN jangan ditulis TEMEN. UDAHLAH jangan ditulis DAH LAH. SEBENARNYA jangan ditulis SEBENERNYA. Walaupun kamu mengirimkan cerpen ke majalah remaja yang banyak menggunakan bahasa gaul, tetap saja harus diperhatikan antara ucapan sehari-hari dengan kalimat dalam media cetak. Jangan sampai Editor yang membaca cerpenmu harus mengedit begitu banyak kata yang penulisannya tidak sesuai dengan bahasa Indonesia pada umumnya.
- Jangan samakan bahasa di SMS dengan bahasa di cerpen. Misalnya : GI yang berarti LAGI. Ko yang berarti KOK.
- Perhatikan penulisan kata seperti LETAKKAN. Sering saya temukan kata LETAKAN. Kurang huruf K.
- Adanya pengulangan kata yang tidak perlu. Seperti : Asma GAK KETULUNGAN PELITNYA BENER-BENER KELEWATAN. Kata KETULUNGAN sudah cukup menunjukkan pelitnya. Tidak usah ditambahkan kalimat BENER-BENER KELEWATAN.
- Adanya kalimat AKU MENYEBELAHI. Sebaiknya diganti dengan aku duduk di sampingnya. Mungkinkah ini pengaruh bahasa Melayu?
- Tanda baca banyak yang keliru. Misalnya : “Fah, lagi ngapain?.”
Yang benar adalah : “Fah, lagi ngapain?” Setelah tanda tanya, tidak ada kata
titik.
- Adanya kalimat yang kurang penjelasan, misalnya :
“Sssttt… saya lihat catatan, teh…” Sambil menangkupkan tangannya di atas mulut.
Sebaiknya diganti dengan :
“Sssttt… saya lihat catatan, teh…” Latifah menjawab sambil menangkupkan
tangannya di atas mulut.
- Alur cerita terlalu panjang dan banyak pengulangan adegan saat ulangan di dalam
kelas. Seharusnya untuk tema yang sederhana seperti ini tidak butuh 9 halaman.
Cukup 5 halaman saja. Banyak adegan yang semestinya bisa dipotong.
Namun, di samping punya kelemahan, cerpen ini punya kekuatan juga yaitu : adanya pesan moral yang ingin disampaikan kepada pembaca. Adegan demi adegan juga sudah menyerupai sebuah cerpen. Perasaan dan pikiran para tokoh sudah tergambar jelas.
Pesan saya buat Anazkia : Coba bandingkan cerpen kamu yang belum diedit dengan yang sudah diedit dan direvisi. Nanti kamu akan menemukan hal-hal apa saja yang harus kamu perbaiki dalam menulis cerpen. Saya tidak bisa menjelaskannya secara detil di blog ini karena terlalu banyak yang direvisi.
Jangan lupa untuk rajin membaca cerpen karya penulis lain yang sudah dimuat di media cetak. Pelajari cara mereka menguraikan jalinan kisah, karakter para tokoh dan tata bahasanya. Dan…jangan jemu untuk menulis cerpen.
0 comments:
Post a Comment